Bersyukur sekali saya berasal dari pusat pendidikan dokter yang tidak menghigligh hal seperti ini untuk pasien-pasien. Saya punya cerita yang membekas sampai sekarang waktu saya Koass tentang ODHIV.
Koass itu wajib periksa pasien yang datang duluan ke IGD sebelum dokter tugas IGD yang sebenarnya periksa.
Saat itu, gue lah Koass itu, setelah periksa aku lapor dokter yang tugas. Sambil ngasih sarung tangan dan bisik: dok ini pasiennya B20, hati-hati.
Tau reaksi dokter jaga itu? Dia tepis sarung tangan periksa dan periksa pasien B20 itu dengan ramah banget. Selesai periksa pasiennya, gue dipanggil.
Dia minta gue buat tulisan, diserahkan besok subuh sebelum dia pulang.
Bagaimana penularan HIV, pencegahan, dan cara hitung kasar CD4 dari hitung jenis leukosit.
Pas subuh saya serahkan tugas saya, dia bilang: kamu dokter bukan Tuhan, obatin aja pasien-pasien itu, kalo bukan kamu siapa mereka akan kemana untuk minta pertolongan. Semua kita akan mati, caranya berbeda-beda aja. Kamu tahu cara penularan HIV gimana, jangan kaya orang gak tau cara penularannya, kamu itu dokter!
Malam itu, saya bener-bener jadi orang yang baru bagaimana memandang pasien-pasien B20.
KALAU PENYAKIT BISA BICARA MEREKA AKAN "TERIAKK"
1. TUMOR
“Aku tumbuh pelan-pelan karena kamu terlalu lama menahan.
Marah kamu simpan, sedih kamu tutup,
Kecemasan kamu pendam.
Yang tidak keluar... akhirnya mencari jalan sendiri.”
2. AUTOIMUN
“Aku muncul saat kamu terus melawan dirimu sendiri.
Di luar kamu bilang ‘aku kuat’, padahal di dalam kamu lelah.
Tubuhmu ikut bingung,
karena kamu tak pernah jujur pada rasa.”
3. KANKER
“Aku besar dari luka yang kamu kunci rapat.
Maaf yang tak pernah terucap.
Tangis yang tak pernah tumpah.
Sakit hati yang tak pernah sembuh.”
4. STRES KRONIS
“Aku bukan cuma di pikiran.
Aku masuk ke tidurmu, ke makananmu, ke napasmu.
Kamu bilang ‘aku baik-baik saja’,
padahal tubuhmu berteriak minta istirahat.”
5. INSOMNIA
“Aku datang karena kepalamu tak pernah benar-benar berhenti.
Kamu rebah, tapi pikiranmu masih berlari.
Kapan terakhir kali kamu benar-benar tenang?”
6. SAKIT MAAG / LAMBUNG
“Aku perih karena kamu terlalu sering ‘menelan’ keadaan.
Tidak enak hati.
Tidak enak menolak.
Tidak enak berkata jujur.”
Cukup...
Tubuh bukan musuh.
Ia hanya alarm.
Belajar dengarkan sebelum ia teriak lebih keras.
Kabar baik ini Lur.
Rumah sakit tidak boleh nolak pasien lagi.
Dengar penjelasannya ya..
Kita gak pernah tau kapan kita membutuhkannya, tapi paham saja dulu.
Biar tau cara protes kalau ada rumah sakit yang Nakal.