Saat garap investigasi isu Sambo, Kanjuruhan, Halte Sarinah dll outputnya selalu video explainer. Saya coba pendekatan lain di kasus Andrie Yunus. Idenya simpel: Kalau penyidiknya gak bisa kerja, kita buat publik aja jadi penyidiknya.
Jadilah game ini: https://t.co/hXYFEkyvIS
Di akhir 90-an saat Indonesia bersiap dihantam krisis multi-dimensi, siaran televisi kita tiba-tiba dibanjiri sinetron komedi yg tokoh utamanya bersekutu dengan makhluk gaib. Sadar gak sadar, Jin dan Jun sampai Jinny Oh Jinny laku keras dan jadi tontonan wajib lintas generasi.
Di permukaan sah-sah saja jika melihatnya sebatas hiburan slapstick komikal, tapi kalau kita bedah pakai pisau kajian sosiologi media, menurutku akan lebih menarik.
Tren ini sebenarnya memotret dua sisi eskapisme masyarakat kita terhadap realitas yg makin chaotic: utopia kelas menengah dan keputusasaan kelas pekerja yg sama-sama mendambakan "jalan pintas mejik".
Mari kita mulai dari Jin dan Jun. Keluarga Jun adalah representasi sempurna dari kelas menengah atas yg sangat mapan dan nyaman. Mereka gak punya masalah finansial, tapi justru di situlah letak fantasinya.
Di tengah kondisi negara akhir 90-an yg dipenuhi ketidakpastian politik dan ekonomi, sinetron ini menawarkan utopia tentang hidup yg sepenuhnya frictionless (tanpa hambatan). Masalah Jun biasanya seputar urusan remaja, konflik sosial kecil, atau keisengan belaka. Dan betapa enaknya, hampir semua friksi kehidupan (walau kecil atau remeh) itu bisa disapu bersih secara instan via sihir Om Jin.
Om Jin adalah simbol dari ilusi kontrol absolut, sebuah fantasi di mana hal-hal yg tidak terduga selalu bisa dibereskan dengan jentikan jari. Penonton yg di dunia nyata sedang pusing memikirkan krisis, diberikan pelarian visual melihat kehidupan utopis yg serba mudah dan aman dengan bantuan entitas gaib dari timur tengah.
Lalu, bentuk eskapisme lain di level masyarakat yg lain juga diwujudkan secara lebih struktural di Jinny Oh Jinny. Kalau Jin dan Jun memotret kenyamanan, Jinny Oh Jinny memaparkan alienasi kelas pekerja "kerah putih" yg dieksploitasi.
Dinamika Bagus di PT Mutiara Laut itu adalah miniatur kapitalisme yg sangat banal. Pak Baroto adalah karikatur bos kapitalis yg serakah dan memegang kendali murni lewat ancaman potong gaji atau PHK. Sementara Jaka adalah wujud "pengkhianat kelas" (class traitor) yg rela menjilat atasan dan berani untuk saling sikut sesama pekerja demi posisi aman.
Dalam ekosistem kerja yg eksploitatif ini, Bagus sebagai pekerja biasa gak punya kekuatan apa-apa. Mustahil dia bisa memenuhi target-target gak masuk akal dari bosnya secara normal. Satu-satunya alasan dia selamat dari PHK dan bisa terus gajian bahkan dapat bonus adalah berkat intervensi sihir Jinny.
Jinny bukan sekadar love interest, dia hadir sebagai manifestasi dari "magical shortcut" buat bertahan hidup. Ketika struktur ekonomi terlalu menindas dan posisi tawar pekerja sangat lemah, satu-satunya cara kelas pekerja bisa menang melawan kapitalis rakus macam Pak Baroto adalah dengan menggunakan sihir.
Pekerja tidak lagi butuh berserikat, mereka butuh bersekutu dengan jin.
Kesuksesan dua sinetron ini memotret kondisi psikologis sosial yg sangat menarik. Kita tertawa melihat kelucuan Om Jin dan Jinny, padahal di saat yg bersamaan, tontonan itu menelanjangi satu fakta: ketika realitas material di luar sana terlalu keras, rasionalitas kita menyerah.
Fantasi tingkat tinggi masyarakat kita terbelah dua—bagi yg mapan, fantasinya adalah hidup tanpa masalah (Jun); sementara bagi kelas pekerja, fantasinya adalah lolos dari eksploitasi bos tanpa harus dipecat (Bagus).
Keduanya sama-sama memohon pada tangan-tangan gaib dan keajaiban instan, murni karena sistem di dunia nyata udah gak bisa lagi diandalkan.
Udah bener kayak gini itu menikmatinya dengan cara dengerin via radio aja, malah nonton videonya!
Rasido kebayang perangnya, malah jadi ngakakkk terussss!! Jingannn…
Peringatan Darurat 🚨🚨🚨
Komisi III DPR RI dan Pemerintah telah menyetujui Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP) untuk dibawa ke Sidang Paripurna DPR yang rencananya akan digelar Selasa pekan depan (18/11) untuk disahkan.
Jika RUU KUHAP disahkan, maka semua orang berpotensi menjadi korban. Semua bisa diamankan, ditangkap, dan ditahan tanpa kejelasan. Semua bisa digeledah, disita, disadap, dan diblokir hanya berdasarkan subjektivitas aparat.
Semua bisa diperas, semua bisa dikuasai polisi, semua bisa direkayasa menjadi tersangka.
Semuanya yang disebutkan tadi bisa terjadi karena RUU KUHAP dipaksakan untuk disahkan dengan tergesa-gesa.
Mari kita pantau bersama dan desak Presiden untuk menarik draft RUU KUHAP agar tidak disahkan dalam waktu dekat!
Bos saya, bang @thepopoh saya pecat sebagai owner dari warpopski
jadi bos kok kerjaanya ikut2an masak,
bos mah nyuruh2 laaaagghh.
tapi beliau udah bikin warung baru lagi di bintaro, namanya "RM.FARIZ"
menunya cuma 2:
- menu enak
- menu ga enak
ngntt luh, bang!