#BeerLens
Malam minggu, pukul 20.00.
Untuk kali ini, 🥃🔍 ngga pergi ke mana-mana.
Hanya menghabiskan malam di rumah, berdua.
🥃 duduk santai di sofa sambil memeluk 🔍 dari belakang. Dagunya sesekali bertumpu di bahu kekasihnya, sementara matanya mengikuti layar ponsel yang sedang asyik digulir 🔍.
Short video demi short video.
Kadang 🔍 tertawa dan 🥃 juga mengikuti.
Dan beberapa kali mereka berdebat tentang hal-hal kecil. Namun, perdebatan itu hanya sebentar.
Pada akhirnya 🔍 akan kembali menyandarkan tubuhnya ke dada 🥃, sementara tangan 🥃 otomatis melingkar lebih erat di pinggangnya.
Sesekali 🔍 mendongak dan memberikan kecupan singkat di dagu kekasihnya.
Dan setiap kali itu terjadi, 🥃 selalu membalas ciuman itu. Mulai dari
Kepala
Pipi
Telinga
Leher
Hingga sesekali ciuman di bibir merona itu beberapa detik lebih lama.
🔍 : Dew...
🥃 : Hmm?
🔍 : Pengen minum kopi aku
🥃 : Jangan
🔍 : Ih, napa?
🥃 : Nanti ngga bisa tidur
🥃 mencium puncak kepala 🔍 sebelum melanjutkan.
🥃 : Besok bangun kesorean, terus kamu pasti ngomel sejam non-stop karena liburannya bentar doang.
🔍 terdiam.
Kemudian terkekeh kecil.
🔍 : Ehehe... iya kah? Ngga sadar~
🥃 : Iya iya, ndoro
Tanpa aba-aba, 🥃 menggigit pelan telinga 🔍.
🔍 : Ish!
🔍 langsung mencubit lengan atas 🥃 yang kekar.
🥃 : Aduh! Ouch! Udah, udah, cantik!
🥃 tertawa sambil berusaha menyelamatkan lengannya.
🥃 : Sakit, lho!
🔍 : Hmph! Makanya jangan aneh-aneh, kuning!
🥃 : Saya buatin cokelat panas aja, gimana?
🔍 : ...
🔍 : Oke~
🥃 : Nah, gituu
🥃 akhirnya bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur.
Sementara itu, 🔍 kembali sibuk dengan ponselnya.
Beberapa menit berlalu.
Tawa kecilnya masih sesekali terdengar dari ruang tengah.
Sampai—
CEKLEK.
Gelap.
🔍 mengerjapkan mata.
“Hah?”
Rumah yang tadi terang mendadak kehilangan seluruh cahayanya.
Ia terdiam beberapa detik, mencoba menyesuaikan pandangan.
Kemudian ponselnya segera dinyalakan.
Cahaya senter kecil menerangi sebagian ruang.
🔍 : Dewaaa?
Dari arah dapur terdengar suara 🥃.
🥃 : Ati-ati kesandung!
🔍 : Ya ini aku jalannya pelan.
🥃 : Kan aku ngga tau dan ngga bisa lihat, kocak.
🔍 : ...
🔍 : Iya juga, ya.
Terdengar tawa kecil dari dapur.
🥃 : Sini. Arahin cahaya senternya ke saya.
🔍 : lhaaa napa?
🥃 : Biar saya ngga nabrak meja
🔍 : Bukannya tadi Mas yang nyuruh aku hati-hati?
🥃 : Makanya sekarang gantian
Tak lama kemudian, cahaya ponsel 🔍 menemukan sosok 🥃 yang berdiri di dapur. Membawa dua mug besar.
Aroma cokelat panas memenuhi udara.
🥃 : Jadi...
🥃 mengangkat kedua mug tersebut sedikit.
🥃 : Cokelat panasnya udah jadi. Untungnya sebelum listrik padam.
🔍 : Wahhh, wanginya enak~
🔍 mendekat, tapi 🥃 langsung mengangkat salah satu mug menjauh.
🔍 : Lah?
🥃 : Jangan dulu
🔍 : napa?
🥃 : Kamu pegang senter aja. Masih panas ini mug nya. Saya yang bawa minumannya
🔍 menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
🔍 : Okee
Entah kenapa, hal sesederhana itu tetap membuat dadanya terasa hangat.
Bukan karena cokelat panasnya.
Tapi karena 🥃 selalu punya cara sendiri untuk membuatnya merasa diperhatikan.
🥃 : Kita minum di teras samping aja, mau?
🔍 : Lampu cadangan yang di luar masih ada?
🥃 : Ada. Yang di dalam rumah habis baterainya.
🥃 menghela napas kecil.
🥃 : Niatnya besok saya mau mau beli baterai baru.
🔍 : Well... kejadian tak terduga.
🥃 : Nah, itu.
🔍 mengarahkan cahaya senter ke depan.
🔍 : Ayo.
🥃 : Kamu yang arahin jalan.
🔍 : Siap~
🥃 : Pelan-pelan jalannya
🔍 : Iyaa, Mas
Mereka mulai berjalan menyusuri rumah yang gelap.
🔍 berjalan di depan dengan ponsel terangkat, memastikan cahaya senter menerangi jalan.
Sementara 🥃 mengikuti tepat di belakangnya dengan kedua mug masih aman di tangannya.
Sesekali tangan 🥃 terulur, menyentuh pinggang 🔍 hanya untuk memastikan kekasihnya tidak berjalan terlalu jauh.