In case udah ga lewat di algoritma kalian:
1. Hari ke-9 ratusan orang hilang & blm ditemukan, di tragedi kapal Virgo
2. Hari ke-37 korban gempa NTT di tenda pengungsian, kabar terakhir 94 meninggal di pengungsian karna minim fasilitas
3. Karhutla Kalimantan masih blm selesai
4. Anggaran alat kesehatan TBC di thn 2027 dipangkas jadi 0 rupiah
5. Keracunan MBG bertambah, SPPG yg ditutup buka lagi
Kalauada update lainnya boleh ditambahkan
@reylevant Pdhl menurut WHO, Indonesia termasuk negara dg kasus TBC terbnyk di dunia. Setiap tahunnya ad sekitar 134 rb org meninggal krn penyakit ini.
Dan dikondisi kyk gini, anggaran alat kesehatan TBC malah mau dipangkas jadi Rp0.
Fix nyawa kita semua gada apa2 nya di mata pemerintah.
Gue bikin web gratis buat cek abu vulkanik dari gunung yang lagi siaga di Indonesia. Tinggal buka, gak perlu install apa-apa. Yang bisa lu cek: gunung mana aja yang statusnya siaga sekarang, abunya lagi ke arah mana.
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia
Beberapa waktu yll, sempat ada pembahasan mengenai pesawat militer asing yang masuk wilayah kedaulatan NKRI, contohnya seperti penerbangan pesawat US dari Darwin ke Jepang, ada pulak yg nyeplos kalau TNI AU tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin espektasinya harus diintercept kemudian diusir atau di-force down.
Ternyata tidak sesimpel itu.
1. Unschedule flight pesawat militer asing yang tidak memiliki flight clearence namun membuat/mengisi flight plan yg jelas, boleh crossing wilayah kedaulatan NKRI melalui ALKI 1, ALKI 2 maupun ALKI 3 dengan tetap menyalakan transponder.
2. Unschedule flight pesawat militer asing yang memiliki flight clearence dan membuat/mengisi flight plan yg jelas, boleh memasuki dan lewat wilayah kedaulatan NKRI pada tiap-tiap airways/rute penerbangan yang ada.
3. Unschedule flight pesawat militer/pesawat sipil asing yang tidak memiliki flight clearence dan tidak membuat/mengisi flight plan yg jelas, tidak boleh masuk wilayah kedaulatan NKRI dan dikategorikan LASA, penanganan bisa dilaksanakan scramble, intersecption, dilanjutkan force out maupun force down sesuai perintah Panglima.
Dari pusat Rp 51.000/porsi
Bagian konsumsi Rp 25.000/porsi
Nyampe ke Atlet Rp 9.500/porsi
PON 2024 adalah wajah asli dari penyelenggara negara ini. BURUK, KORUP, tidak becus dan GAGAL TOTAL
Di udara itu sebetulnya ada jalan raya, maupun jalan toll yang kesemuanya bersifat imajiner. Melenceng sedikit akan ditanya "mau kemana?", karena setiap insan udara tidak boleh melakukan kesalahan pada saat melaksanakan penerbangan.
The Sky is vast, but there is no room for error.
Hari ini, 123 tahun lalu, seorang filsuf asal Indonesia lahir. Ia mempunyai pemikiran yang sangat kritis dengan semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia yang besar. Dikenal juga sebagai penggerak sayap kiri di negeri ini, ialah
Tan Malaka!
- a thread!
Kasus kedua pilot Batik Air BTK6723 ketiduran saat bertugas: What we need to know and accept!
(Warning: Long Post!)
Untuk kasus pilot ketiduran di pesawat Batik Air, pertama bagaimana kalau ada pilot tidur?
1. Pilot tidur di fase cruising itu hal biasa dilakukan, namun satu-satu bergiliran. Ini dikarenakan microsleep sangat berguna ketika sedang letih.
2. Yang masalah adalah kalau keduanya ketiduran.
Masalah ketiduran ini harus dilihat dari faktor-faktor penyebabnya:
- Kopilot memberikan keterangan bahwa dia memang sedang kurang istirahat karena membantu istrinya ngasuh bayi kembar yang baru berusia sebulan.
- Seharusnya, ketika ini terjadi, kaptennya harus menilai apakah dia sendiri cukup atau tidak istirahatnya? Jika memang kurang istirahat, maka dia atau kopilotnya, atau dua-duanya minta diganti.
Masalahnya disini adalah masalah kondisi kerja dan kedisiplinan istirahat pilot.
Dari sisi scheduling, penjadwalan terbang mereka sepertinya tidak ada masalah, termasuk juga untuk kebutuhan istirahat di penerbangan dini hari.
Dari sisi lain, butuh ditelusuri mengenai corporate attitude mengenai masalah pilot fatigue, dan ini masalah kompleks:
1. Apakah jika ada pilot yang minta diganti schedule terbangnya karena alasan fatigue diberi sanksi atau tidak? Jika diberi, apakah langsung, atau berdasarkan trend jejak rekam si pilot?
2. Perusahaan sudah pasti mempunyai awareness campaign mengenai kesehatan/kesiapan terbang pilot (contoh: "IAMSAFE" program), tetapi apakah dijalankan?
3. Apakah perusahaan memberikan "Paternal Leave"(Cuti lahiran) bagi pilot pria yang istrinya baru melahirkan? Jika tidak ada, sebaiknya diadakan, guna menurunkan resiko terkait pilot fatigue.
Masalah pemberian sanksi:
Dalam hal ini, saya sangat tidak setuju jika jalan keluarnya "hanya segampang" memberikan sanksi kepada pilot dan manajemen maskapai.
Ini ada resiko sistemik yang harus diselesaikan, dan justru kebijakan gampang memberikan sanksi akan menghambat perbaikan karena masalah Pilot Fatigue ini masalah yang membutuhkan analisa dan solusi kualitatif, bukan kuantitatif, karena membutuhkan awareness dan kesadaran dimana butuh pilot yang fatigue diberi pengakuan dan perlindungan dari sanksi guna bisa memberikan keteragan sepenuh-penuhnya agar bisa dicarikan solusi yang sistemis.
Namun, jika memang masalah fatigue ini diakibatkan oleh kesengajaan atau keteledoran berdasarkan perilaku yang tidak bertanggung jawab oleh pilotnya, maka wajar bila diberikan sanksi disipliner.
Yang patut dipertanyakan, kalau pilotnya ngaku "kurang istirahat", reaksi perusahaan bagaimana?
Terus, seharusnya si kapten juga sadar kalau dirinya sendiri kurang istirahat.
Kalau diem saja, kopilotnya juga tidak tau kondisi rekannya
Selain itu, yang perlu di evaluasi untuk overnight flight operations rute jarak pendek/menengah adalah:
1. Efektifitas program Fatigue Risk Management System (FRMS) perusahaan.
2. Pola recommended rest sebelum dan setelah overnight flight bagi crew di dalam FRMSnya seperti apa.
3. Feedback mengenai efektifitas FRMS
4. Awareness/kepatuhan crew dalam mengikuti pola istirahat sebelum dan sesudah flight sesuai FRMS bagaimana?
Jangan lupa, point nomor 4 ini penting yah!