"Di Dalat, ketika aku menatap mata perwira-perwira tertinggi tentara Jepang pada tanggal 11 Agustus itu, aku tidak lagi melihat kebangkitan atau kesombongan imperialis."
Bung Karno menggambarkan atmosfer batin dan pengamatan tajamnya pada tanggal 11 Agustus 1945 tersebut dengan sangat mendalam.
11 Agustus 1945, Bung Karno: Kemerdekaan Indonesia Harus Kita Rebut dan Tancapkan Sendiri di Atas Tanah Air Kita
https://t.co/jUoV0TLegY
Baca juga:
Ketegasan Diplomasi Para Pemimpin Indonesia Mengunci Komitmen Kemerdekaan
https://t.co/ZIptZaSbiD
#DiaryKemerdekaan Jejak Harian Bung Karno Menuju Kemerdekaan
Pemerintah tidak mau dicitrakan buruk, represif, dan otoriter. Tapi penangkapan 2 konten kreator yang mengulas pidato Presiden Prabowo soal nuklir Iran, sama saja Pemerintah memberikan bukti sendiri betapa represif dan otoriternya aparat bertindak.
Sudah ada protes dari Kompolnas dan Amnesty International tindakan aparat itu bertentangan dgn putusan MK.
Bebaskan AYP & AF‼️
Kaesang Usia 26 Tahun, Transaksi Saham Hampir Rp100 Miliar. Dari Mana Modalnya?
Podcast Faisal Akbar kali ini bahasannya lumayan berani: sebenarnya wajar nggak sih pejabat dan keluarganya tiba-tiba punya kekayaan atau bisnis yang melejit saat sedang berada dekat dengan kekuasaan?
Ia mengkritik kemewahan pejabat ketika negara masih menanggung beban utang besar.
Ubedilah Badrun memaparkan riset soal Kaesang yang pada usia 26 tahun disebut melakukan transaksi saham bernilai sekitar Rp92–100 miliar.
Ubedilah kemudian mempertanyakan asal pembiayaan, relasi bisnis, dan keterkaitan dengan perusahaan ventura serta korporasi besar.
Itu disampaikan sebagai analisis/dugaan dalam riset, bukan putusan hukum.
Pertanyaan besarnya: seberapa jauh bisnis keluarga pejabat bisa dipisahkan dari pengaruh kekuasaan
Yang bikin menarik, mereka nggak cuma ngomong soal “kaya atau nggak kaya”, tapi soal transparansi: kalau kekayaan dan bisnis keluarga pejabat tumbuh sangat cepat, publik wajar bertanya asal-usul dan jalurnya dari mana.
Rumah eks Jampidsus Febrie Adriansyah baru digeledah. Kok kyak telat banget ya? Ada apa?
Lucunya lagi penyidik hanya menemukan "kertas", lah di rumah Sentul dan Cafe aja menemukan banyak uang dan emas, kok di rumahnya sendiri cuma nemu "kertas", rumah yg sempat dijaga oleh tentara.
Apa rumah itu sdah "dikosongkan"? Sudah "dibersihkan"?
Pernyataan Presiden Prabowo yg viral "Ada 1 penggilingan padi untung 2 triliun sebulan" Klarifikasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman malah bikin bingung dan gaduh.
Bikin bingung katanya itu untung bukan usaha penggilingan tapi penipuan beras. Lah siapa yg salah kasi narasi ke Presiden?
Kalau memang ada penipuan sampe triliunan, kok tidak dibongkar siapa yg terlibat, grup usahanya apa? Kok tidak ke penegak hukum tapi malah sibuk konferensi pers? Bikin gaduh saja!
Gara-gara menyebut PDIP, Ustadz Das'ad Latif disangka orang PDIP karena mengapresiasi putusan MK yang melarang dana pendidikan dipakai buat MBG dan mengapresiasi PDI Perjuangan yg selama ini konsisten mengkritik kebijakan tersebut yg mengambil dana pendidikan.
Terima kasih & mohon maaf Ustad karena jadi repot 🙏🙏🙏
MK Putuskan Dana Pendidikan Tidak Boleh untuk MBG, tapi Pelaksanaannya Masih Tahun 2028, Kok Bisa?
Putusan MK soal MBG ini aneh, sudah jelas vonisnya bersalah: dana pendidikan untuk MBG itu Inkonstitusional, tapi hukumannya ditunda sampai 2 tahun: di APBN 2028.
Ibarat hakim bilang ke terdakwa, "kamu terbukti bersalah, tapi silakan lanjutkan dulu sampai dua tahun ke depan." Aneh.
Kok tidak seperti putusan MK No 90 yg memuluskan Gibran yang langsung dipaksa dilaksanakan?
Pak Purbaya, Warga Jakarta Menuntut Pemerintah Pusat Cairkan Segera Dana Bagi Hasil (DBH) Jakarta, Itu Hak Warga Jakarta
DBH bukan hadiah dari Jakarta untuk Pusat, tapi kewajiban Pusat mengembalikan sebagian pendapatan yg bersumber dari warga Jakarta.
Uang rakyat Jakarta, kembali untuk rakyat Jakarta.
#Jakarta
Negara Macam Apa Ini‼️Kok Bisa 414 Dapur MBG, Dapat Dana Miliaran Tanpa Beroperasi⁉️
Sementara Transfer ke Daerah dipotong, K/L dipaksa efisiensi ketat, alokasi dana pendidikan digerus.
Meski dana itu katanya sdah dikembalikan, tapi TIDAK menghilangkan unsur Pidana. Anehnya Dapur SPPP, Mitra dan Siapa saja yg terlihat tidak diumumkan secara Transparan. Mau Disembunyikan⁉️
Kebersamaan Dua Puteri Proklamator Kemerdekaan Indonesia: Megawati Soekarnoputri dan Meutia Hatta.
Dalam peresmian Monumen Kudatuli yg merupakan rangkaian acara Peringatan 30 Tahun Tragedi Kudatuli, Ibu Mega dan Ibu Meutia duduk sejajar, berdampingan.
Keduanya membawa DNA persaudaraan & persahabatan Bung Karno & Bung Hatta.
Monumen Kudatuli bukan sekadar patung yg mati, tapi ingatan yg terus hidup bahwa tragedi itu belum selesai. Keluarga Korban masih menuntut keadilan. Status Pelanggaran HAM Berat belum diputuskan. Dan monumen itu sebagai pengingat, kejadian kelam itu tak boleh terulang lagi.
Survei Nasional Kepuasan Publik pada Prabowo-Gibran Anjlok. SMRC: 51,1 Persen, Indikator: 49,5 Persen. Kenapa?
Survei SMRC: kepuasan publik turun dari 81,2% menjadi 51,1% dlm 9 bulan terakhir. Lebih gawat lagi survei yg disebutkan dari Indikator yg tidak dirilis secara resmi, tapi bocorannya menyebar di WAG2. Hanya 49,5% yg masyarakat puas. Turun sekitar 18% dari survei April 2026 yg mencapai 68%, turun 31,5 % jika dibandingkan Desember 2025 yg sempat 81%.
Tertarik Ideologi Pancasila, Deputi PM Kamboja Hun Many Berdialog dengan Ibu Megawati Soekarnoputri
Saat Dialog dengan Deputi PM Kamboja, Ibu Megawati Kenang Pertemuan dengan Raja Narodom dan PM Hun Sen
Terima Deputi PM Kamboja, Ibu Megawati Bagikan Butir-butir Pancasila dan Bahas Dunia Harmonis
Jakarta - Deputi Perdana Menteri Kamboja Hun Many mengapresiasi ideologi Pancasila serta mendukung agar Pancasila dapat diterapkan warga dunia untuk menggapai keharmonisan di berbagai belahan dunia.
Hal ini disampaikan Hun Many saat berdialog dengan Presiden Ke-5 RI yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Prof.Dr.(HC) Megawati Soekarnoputri di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2026) petang.
"Saya tertarik dengan ideologi Pancasila dan ingin mendapat pelajaran bagaimana ideologi Pancasila bisa dipertahankan dan diterapkan di Indonesia," kata Hun Many saat membuka perbincangan.
Merespons hal itu, Ibu Megawati pun membagikan kertas yang berisikan lima butir Pancasila ke delegasi.
"Saya sering diundang berbicara di forum internasional dan saya memperkenalkan ideologi Pancasila. Termasuk di Forum Zayed Award di Abu Dhabi," papar Ibu Megawati.
Cukup panjang penjelasan Ibu Megawati soal ideologi Pancasila. Hun Many dan delegasi pun menyimak dengan serius.
Lalu Ibu Megawati pun bernostalgia, dia menceritakan pertemuannya dengan Raja Norodom Sihanouk dan PM Kamboja saat itu, Hun Sen. Hun Many adalah putra dari Hun Sen.
"Saya sedih setiap kali teringat Kamboja karena begitu banyak penderitaan masyarakat Kamboja di masa Pemerintahan Khmer Merah," sebut Ibu Megawati.
Deputi PM Kamboja mengatakan di masa Pemerintahan Khmer Merah sekitar 3 juta orang meninggal.
Pada bagian lain, Deputi PM Kamboja menyampaikan apresiasi atas peran penting Indonesia untuk mengakhiri perang saudara di Kamboja melalui Jakarta Informal Meeting 1 pada Juli 1988 dan Jakarta Informal Meeting 2 pada Februari 1989 dan dilanjutkan dengan Perjanjian Perdamaian Paris pada 1991. Waktu itu pertemuan dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas.
Ibu Megawati menyampaikan sudah cukup lama tidak bertemu dengan Hun Sen. Terakhir berdasarkan catatan, pada Desember 2010 dimana Ibu Megawati menerima Lifetime Achievement Award dari International Conference on Asian Political Parties yang diserahkan langsung Perdana Menteri Hun Sen, sebagai tuan rumah saat itu.
"Pertemuan kali ini bukanlah sekedar pertemuan biasa saja, pertemuan ini menimbulkan ingatan akan pertemuan yang sudah terjalin selama ini yang penuh rasa kekeluargaan," ujar Ibu Megawati. Diapun bertanya berapa umur Hun Sen saat ini.
"Beliau pada 5 Agustus mendatang berumur 74 tahun," jawab Hun Many.
"Oh lebih muda dari saya. Saya tahun depan 80 tahun. Senang sekali bisa bertemu dengan Deputi PM Kamboja," ujar Ibu Megawati sambil tersenyum.
Hun Many pun berjanji akan meneruskan isi pembicaraan dan salam hangat Ibu Megawati kepada ayahandanya, Hun Sen.
Hun Many hadir bersama Duta Besar Kamboja untuk Indonesia, Tean Samnang dan rombongan. Sementara Ibu Megawati didampingi
Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Luar Negeri, Mr. Ahmad Basarah, Ketua DPP PDIP bidang pendidikan dan kebudayaan, Puti Guntur Soekarno, Anggota DPR RI, Hendra Rahtomo serta Dewan Pakar Strategi Hubungan Luar Negeri Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Darmansjah Djumala.
Foto: Monang Sinaga
Gelar Forum 28 di Sekolah Partai, PDI Perjuangan Fasilitasi Aspirasi Forum Intelektual ‘Public Pulse 28' Gen Z dan Milenial
Sambut 1 Abad Sumpah Pemuda, PDIP Resmi Luncurkan Wadah Aspirasi Pemuda 'Public Pulse 28'
Luncurkan Public Pulse 28, PDIP Fasilitasi Pemuda Bersuara Hadapi Tantangan Masa Depan
JAKARTA – Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan resmi meluncurkan gerakan intelektual progresif bernama Public Pulse 28 di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (28/7/2026).
Peluncuran yang digelar dalam rangka menyongsong 100 Tahun Sumpah Pemuda 2028 ini langsung menggelar forum perdana bertajuk 'Nasib Orang Muda Di Indonesia Emas 2045'. Forum yang menghadirkan 30 mahasiswa dari berbagai kampus yang diundang secara acak untuk menuliskan langsung pulse atau denyut rasa dan ide mereka, sebelum ditanggapi oleh para narasumber.
Peluncuran ini dihadiri Sekretaris Jenderal DPP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP Bidang Pemuda dan Olahraga MY Esti Wijayati, serta dimoderatori politisi muda Muhammad Syaeful Mujab.
Adapun narasumber pendamping berasal dari kalangan profesional dekat dengan anak muda, yakni Co-Founder What is Up Indonesia (WIUI) sekaligus penulis buku "Makannya Mikir!", Abigail Limuria, serta Ekonom INDEF, Berly Martawardaya.
Ketua DPP Bidang Pemuda dan Olahraga, MY Esti Wijayati, memaparkan bahwa gagasan Public Pulse 28 sejatinya telah dirintis sejak tahun 2024 sebagai ruang dialektika berkala. Dan kini secara resmi dijadwalkan rutin setiap tanggal 28 setiap bulannya hingga puncak peringatan 1 Abad Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2028.
Esti menegaskan bahwa Sekolah Partai dibuka sebagai ruang aman bagi anak muda untuk menyampaikan gagasan hingga kritik terhadap kebijakan pemerintah.
"Di ruang inilah kita bersama anak muda diberikan ruang untuk melakukan dialog, untuk memberikan masukan, untuk mengkritik jika memang ada kebijakan-kebijakan yang kurang tepat. Ini pun juga menjadi ruang aspirasi, ruang berekspresi, ruang menyampaikan harapan," ujar Esti.
Menariknya, berbeda dengan forum pada umumnya, diskusi perdana ini tidak hanya berisi ceramah satu arah. Panitia memberikan kesempatan kepada 30 peserta undangan—yang dipilih secara acak dari berbagai universitas—untuk menuliskan pulse (denyut rasa) serta ide-ide konkret mereka terkait tantangan generasi muda menuju 2045. Tulisan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi dan tanggapan langsung dari para narasumber.
Moderator Muhammad Syaeful Mujab menekankan urgensi forum ini sebagai upaya mendengarkan suara anak muda dari Sabang sampai Merauke, dua tahun jelang satu abad Sumpah Pemuda.
"Dua tahun lagi kita akan memperingati 1 abad Sumpah Pemuda. Jika tahun 1928 adalah tonggak pemersatu bangsa, maka 1 abad di 2028 harus hadir dengan merasakan denyut nadi rasa, ide, dan keresahan dari orang muda. Selamat datang teman-teman semua di Public Pulse 28," pungkas Mujab.
Esti yang juga Wakil Ketua Komisi X DPR RI kembali menekankan bahwa iklim kekritisan di kalangan anak muda harus terus dirawat dan diberi ruang akomodasi yang sehat, bukan justru dibungkam oleh kekuasaan.
"Kita gaungkan, dan kita nyatakan bahwa anak muda adalah pemilik masa depan bangsa, maka kekritisan harus dibangun tidak untuk dibungkam, dan itu adalah sebagai ruang memberikan tempat agar anak muda bisa memberikan warna indah bagi Indonesia Raya," tegasnya.
Melalui kehadiran Public Pulse 28, PDI Perjuangan berkomitmen untuk terus membuka ruang diskusi yang sehat, ilmiah, dan inklusif bagi generasi muda tanpa memandang sekat perbedaan, demi menampung aspirasi murni yang akan menentukan arah masa depan kepemimpinan nasional.
Foto: Monang Sinaga
Tabur Bunga. Mengenang korban 27 Juli 1996 yang gugur di kantor DPP PDI ProMeg Jalan Diponegoro 28: saat ini kantor DPP PDI Perjuangan
Ada Bapak Komarudin Watubun, Ibu Ribka Tjiptaning, Bapak Ganjar Pranowo, Ibu Risma, Bapak Aryo Adhi Dharmo, Ibu Yuke Yurike, Bapak FX Rudy, Bapak Bambang DH, Bapak Audi Tambunan, Bung Bonnie Triyana, Forum Keluarga Korban 124 (Tragedi Kudatuli) dll.
#30TahunKudatuli #KamiTidakLupa #MegawatiSoekarnoputri