Demokrasi butuh Mesin Penghitung Suara yang berkesesuaian dengan Aliran yang membentuk Kapital. Namun, demonstrasi kini menjadi Komoditas sebagai Konsekuensi Nilai di setiap upaya menyamakan Kekuasaan dan Kekuatan.
Iku sakjane bukan soal “cocok, gak-cocok” ataupun “butuh, gak-butuh”… melainkan soal barang (perjanjian) sing gak-sido (bedakan antara gak-jadi dan gak-menjadi).