… luka, panas dan perih yang melebur. begitu kamu tau bahwa satu teriakan hatiku menciptakan satu luka, luka yang pantas menghiasi persona yang rusak, lapuk, hina, dan kotor. kini aku pulang, membawa dosa-dosa yang menggunung yang mengalir deras tumpah-tumpah dari sumbu jiwaku.
aku yang salah.
aku yang tak pantas.
rasa pahit kopi nyata adanya. lidah ini tiada lagi mengenal manis. bertahun-tahun kutinggalkan, membiarkan hati yang berlubang jadi abu penuh debu-debu tak guna. kaku-kaku sekujur tubuhku, bahkan hanya untuk sebuah niat merasakan sejuknya …
… bayang-bayangmu yang tak lagi ada. bertahun-tahun, sehari-harinya, detik-detik itu tak pernah terlewat. teriakan-teriakan yang tak terdengar bagimu, tak sampai padamu, tapi memekakkan telingaku. bagai sengatan-sengatan listrik yang tak abai memercikkan api pada setiap …
@SAINENZHOU angguk kecil tanpa sepatah kata yang lolos kuharap bisa jadi jawaban. pergelangan tangannya dalam genggamku, seraya seliranya yang makin kurengkuh. bahkan, tahu-tahu bola mataku telah bersembunyi di balik kelopak selagi aku menenggelamkan wajahku di bahunya. “abi belum mandi ya?”
@SAINENZHOU … bertubi-tubi. kuncian fokusku kini jatuh ke dalam kelereng dicorak cokelat terang nan apik itu yang seakan mampu menghentikan waktu. mata itu, suaranya, bahkan eksistensinya. tiada lagi rasa lelah setelah bertemu dengan abian. driji-driji ini selusuri tiap-tiap helai …
@SAINENZHOU “mas di sini kok, di depan abi.” aku rengkuh lama-lama tubuh yang lebih mungil itu, juga berharap kecup-kecup yang kuberi padanya seperti sekarang bisa melepas rindu. “mas juga kaaaaangen sama abi. mau makan abi boleh?” jahil sedikit, aku menggelitik tubuhnya.