Saya suka kalimat penutupnya, jika kalian ingin tau nasib orang-orang yang pernah mengkhianati Megawati, silahkan perhatikan dimana mereka sekarang, bagaimana ketentraman hidup mereka?
@jokowi@gibran_tweet
Strategi Megawati menghadapi pengkhianat.
Beras Thailand bisa jadi juara ekspor dunia bukan karena sawahnya doang.
Rahasianya ada di pabrik. Dan ada satu tahap yang bikin beras mereka awet berbulan-bulan 🧵👇
DULU SAYA SIMPATI KE GIBRAN
Saya kenal pak Jokowi sebelum beliau jadi presiden. Saya kagum dengan penampilannya yg sederhana. Halus tutur katanya, dan nampak kelihatan sabar. Pak Jokowi itu berbeda dengan elit politik lain. Dia bukan keturunan ningrat. Bukan keluarga pejabat. Dia hanya berasal dari rakyat biasa, seperti kebanyakan kita.
Itulah kekuatan Jokowi yang membuat jadi sosok yg menarik simpati. Jokowi jadi tokoh yang sangat berbeda latar belakang dan karakternya di banding elit elit lain di tingkat nasional. Berbeda dengan Prabowo. Berbeda dengan SBY, berbeda pula dengan Megawati dan tokoh-tokoh lain. Jokowi itu atributnya representasi rakyat kecil.
Daya tarik kesederhanaan Jokowi juga nampak dari penampilan kesederhanaan aktivitas anaknya, salah satunya Gibran. Sebagai anak presiden, Gibran dikesankan hanya sibuk bisnis martabak. Tidak tergantung kewenangan orang tua. Seolah Gibran tak mau berpolitik dan tak tertarik jabatan. Dia anak yang sederhana, sebagaimana bapaknya.
Sayapun pernah ketemu di bandara Solo, Gibran nampak tidak dikawal dan pergi ke Surabaya seperti rakyat biasa. Naik satu pesawat dengan saya. Sama sama kena delay dan sempat kehujanan. Itu membuat saya kagum, ternyata anak Presiden ini tidak minta difasilitasi khusus ataupun dikawal.
Itu foto yang saya ambil setelah permisi, namun dia membiarkan tanpa ekspresi. Saat itu saya melihat kesederhanaan Gibran yang diberitakan sibuk bisnis martabak, dan bisnis pisang untuk adiknya Kaesang.
Tapi setelah Gibran jadi Walikota Solo, sayapun mulai curiga, terhadap agenda yg ada di belakangnya. Terlebih pembangunan infrastruktur yang dihasilkan pemerintahan Jokowi, ternyata banyak masalah dan menenggelamkan pemerintah ke dalam beban hutang yg sangat berat. Di era Jokowi terjadi ketergantungan ekonomi pada Oligarki dan cengkeraman asing yang mengkhawatirkan.
Apalagi saat kemudian Gibran terbaca diberi jalan dan difasilitasi bisa maju jadi calon Wakil Presiden di usianya yang masih sangat muda, dengan menabrak ketentuan UU. Hingga terjadi rekayasa regulasi untuk memfasilitasi anak ini.
Karena merekayasa regulasi inilah saya sudah tidak percaya lagi dengan mekanisme Demokrasi yang memfasilitasi politik dinasti Jokowi.
Sejak Pemilu dan Pilpres 2024, ketidakjujuran, permainan pencitaan, pemanfaatan aparat dan lembaga negara untuk menopang kekuasaan dinasti Jokowi sudah nampak semakin terbuka, walau selalu dicoba ditutupi kekuatan para pendukungnya, termasuk yang ada di aparat negara.
Ternyata apa yang selama ini berusaha ditutupi terbongkar juga dalam pengadilan MK.
Gibran tak hanya diloloskan saat usianya belum berusia 40 tahun, iapun terbukti tidak memiliki ijazah atau sertifikat kelulusan setingkat SLTA.
Substansi yang dibongkar MK bukan sekadar tidak adanya ijazah atau sertifikat setingkat SLTA, tapi MK juga mengungkap adanya rekayasa untuk meloloskan lewat peraturan KPU dan mekanisme yang dibuat khusus 2024 untuk menutupi ketidakjujuran.
Dan upaya menutupi ketidakjujuran itu akan terus berlangsung lewat berbagai saluran komunikasi dan media sosial. Dilakukan oleh para pendukung ketidakjujuran dan kelompok kelompok pembela normalisasi penyimpangan.
Kasihan mas Gibran, dulunya sudah benar berbisnis Martabak Makobar hingga orang simpati padanya. Sekarang Gibran terlanjur masuk politik lewat cara cara yang dimasalahkan. Setelah putusan MK ini tinggal kita lihat dan kita tunggu bagaimana orang orang politik memperlakukannya ke depan terhadap nasib Gibran.
Silahkan teman teman berpendapat.
Bangsa ini disandera dogma ng-Arab, lalu heran kenapa cara berpikirnya susah merdeka 🤡
Yang diimpor bukan cuma bahasa ibadah, pakaian, dan simbol kesalehan, tetapi juga cara pandang yang kadang menempatkan tradisi asing di atas kebudayaan sendiri, kepatuhan di atas nalar kritis, dan tafsir masa lalu di atas kebutuhan manusia masa kini.
Masalahnya bukan pada segala sesuatu yang berasal dari Arab, melainkan ketika Arabisasi kebudayaan diperlakukan sebagai kewajiban teologis, lalu kritik terhadapnya dianggap sebagai ancaman terhadap iman.
Kita punya kekayaan bahasa, tradisi, filsafat lokal, dan pengalaman historis sendiri. Namun, sebagian orang justru sibuk mengukur kesalehan dengan seberapa jauh mereka meniru kebudayaan masyarakat lain, seolah-olah Tuhan menerbitkan sertifikat kesucian berdasarkan kemiripan penampilan.
Ironisnya, bangsa yang secara politik sudah merdeka masih bisa mengalami kolonisasi epistemik: cara berpikirnya dijajah oleh otoritas yang tidak boleh dipertanyakan.
Padahal, kemerdekaan bukan sekadar kemampuan mengibarkan bendera sendiri. Kemerdekaan juga berarti keberanian untuk memeriksa warisan sendiri, menolak otoritas yang tak punya dasar memadai, dan membedakan antara kebenaran dengan sesuatu yang sekadar diwariskan turun-temurun.
Bangsa tidak akan benar-benar maju jika kesetiaan kepada dogma lebih dihargai daripada keberanian menguji kebenaran.
Sebab, ketika mempertanyakan dianggap dosa, berpikir dianggap pembangkangan, dan perubahan dianggap pengkhianatan terhadap masa lalu, yang sedang dipertahankan bukanlah kemajuan peradaban, melainkan kekebalan dogma dari kritik.
Dan dogma yang kebal kritik punya satu keistimewaan: ia bisa terus gagal menjawab persoalan zaman tanpa pernah dipaksa mengakui kegagalannya.
🤡🤡🤡
Prof Uceng : Putusan MK yg menyatakan tdk menemukan bukti Gibran memiliki ijazah SMA/sederajat akan menimbulkan masalah besar.
Menurutnya, sekalipun Gibran mengambil Paket C utk memenuhi syarat setara SMA, maka hal itu semakin membuktikan bahwa dia telah membohongi negeri ini.
Pernyataan Prof. Mahfud MD di Kompas TV benar-benar menampar akrobat kata-kata para pembela kekuasaan.
Merespons klaim pejabat pemerintah yang bilang ijazah Gibran "bukan tidak ada, tapi belum ditemukan", Mahfud melempar skakmat: "Bukan belum ditemukan, tapi memang TIDAK ADA! Dicari sampai mati pun tidak akan pernah ada ijazahnya!"
Mengapa? Karena persidangan MK sudah menguji seluruh dokumen:
1. Certificate of Attendance murni surat hadir, BUKAN bukti lulus
2. Penyetaraan Kemendikbud murni "pengetahuan setara SMK", BUKAN penyetaraan ijazah formal
Ketika MK mengunci fakta ketiadaan ijazah formal ini, maka secara hukum materiil Gibran terbukti TIDAK MEMENUHI SYARAT (TMS) sejak awal pendaftaran. Gugatan hanya kandas di MK karena rezim Pemilu sudah selesai pasca-pelantikan.
Negara ini sedang dipimpin oleh pejabat yang cacat legitimasi moral dan yuridis.
@Al3xa3rd@hasyimmah Dalam pemenuhan Administrasi/ dokumen meskipun kamu S3...kalau syarat minimal tak terpenuhi( dokumen tidak ada).
Ya gugur..secara administrasi.