One day you wake up and you're 23 or 25,or 27 and suddenly everything feels like it's moving too fast. You miss something can't you quite name. Not a person, not a place, just a feeling. The feeling of being young, when everything was new and the smallest moments felt big. Late night talks with friends, walking home in the dark laughing about nothing, summers that felt like forever. You just want that again - to feel alive in the little things, to slow down, to be here, really here, before it all becomes another memory.
Padahal aslinya bukan tipe gua. Sampe akhirnya tiba-tiba sayang, tiba-tiba suka, dan somehow segala kekurangan dia malah bikin gw pengen selalu merawat dan menyayangi dia, bukan malah bikin ilfil. Taikk lah.
when lu tiba-tiba menjauh karena ga mau terlalu dalam sama seseorang yang sebenernya lu TERTARIK BANGETTTT just because u don’t want him to be ur biggest heartbreak
Sebelum naroh perasaan sayang ke orang lain.
Pastikan rasa sayang ke dirimu sendiri sudah penuh ya.
Anggap aja km lagi kasih bagian dr rasa sayang ke dirimu sendiri yang tumpah2 itu.
Jadi kamu gapernah ngerasa kekurangan rasa sayang.
Sepakat?
adegan-adegan profesional (yang gak semua orang bisa) :
• menolak balas chat kantor di atas jam 8 malam
• berani cut off, padahal aslinya naksir berat
• duluin diri sendiri makan enak, baru berbagi ke yang lain
• milih cabut daripada stay sama kelakuan toxic
• masang alarm 1 aja tanpa mode snooze
• milih minum air putih di resto demi target 2L per hari
• berani resign hehe
dan sialnya gue gabisa semuanya 😭😭 anjirlah
Yang paling susah dari kehilangan kadang bukan perpisahannya, tapi membiasakan diri dengan semua hal setelahnya. karena ternyata yang pergi bukan cuma orangnya, tapi tentang semua hal kecil yang ikut hilang bersamanya.
Ada lagu yang gak lagi nyaman didengar, ada tempat yang tiba-tiba terasa kosong. Karena pada akhirnya, yang dirindukan bukan cuma orangnya, tapi juga versi hidup kita saat masih bersamanya.
Sumpah beberapa hari ini makin sering mikirin tujuan lahir ke dunia
Nabung sebanyak apapun bakal abis, kerja sekeras apapun bakal ada momen merasa sia2, suka orang/sesuatu segimana pun bakal bosen, benci sesuatu segimana pun juga bakal ilang rasa
Life will always humble us, or me
i used to adore smart people... but then i learned that someone being knowledgeable does NOT automatically equal they will be kind.
in a cruel, cruel world that turns saints into villains like ours, i adore kindness more.
@sukapokka Heem. Gw jg sekarang kalo ketemu orang beneran nanya kabar scr genuine, ga yg cuma basa-basi.
Plus kakak gw jg ngasih pesen ke gw kalo ada orang cerita, dengerin bener-bener. Jadi yh begitu...
Dulu gw termasuk org yg ga bisa begitu empati sama orang yg lakuin ini.
Sampe akhirnya gw beneran depresi dan kehilangan diri sendiri, ditambah kehilangan kakak gw. Tiap hari kek mau ilang aj
Tp Gara gara itu jd lebih berempati sama kasus ginian karena emang berat rasanya
emang kenapa orang bundir ninggalin voice note??
kalo gabisa empati sama orang bundir minimal diem, jangan malah ngolok ataupun judging
kalian gatau depresi tu kaya gimana, bisa ketriger kapan aja walaupun tanpa ada masalah, dan kalian ngatain mereka yang udah gugur itu lemah?
iblis lu semua,...!!!
And one day you wake up and you're 23 or 25,or 27 and suddenly everything feels like it's moving too fast. You miss something can't you quite name. Not a person, not a place, just a feeling. The feeling of being young, when everything was new and the smallest moments felt big. Late night talks with friends, walking home in the dark laughing about nothing, summers that felt like forever. You just want that again - to feel alive in the little things, to slow down, to be here, really here, before it all becomes another memory.
According to psychology
Avoidants don't actually fear relationships, they fear dependency. The moment they realize you truly matter, that your mood can influence theirs and that losing you would genuinely hurt, it starts to feel like a threat to their independence. And when independence feels threatened, their instinct is to pull away.
when they stop caring about the things that once made them feel alive, start moving through life on autopilot, isolate themselves without explanation and slowly trade their peace for constant survival mode. the loudest sign is always silence.
Advice ini bagus bgt.
Kadang kita terlalu fokus sama persaingan, padahal ada cara lebih simpel buat sukses: jadi orang yang gampang didukung.
Gimana caranya?
- Selalu berbuat baik meski kadang ga dapet balasan langsung.
- Jadi orang yang bisa diandalkan, ga cuma buat diri sendiri tapi juga orang lain.
- Jangan pelit kasih apresiasi ke pencapaian temen, meskipun cuma hal kecil.
- Kerja keras tanpa banyak ngeluh itu kunci, orang bakal liat dan respek usaha kita.
- Bawa energi positif ke mana pun kamu pergi, bikin orang betah deket sama kamu.
Percaya deh, kalo kita bikin hidup orang lain lebih baik, pintu kesempatan bakal kebuka tiba2.
Setuju ga?
Pengalaman Pribadi kerja dengan Gen Z :
Kurangnya komitmen, menggampangkan urusan orang lain, terlalu banyak informasi Over thinking sendiri malah ga dikerjain.
Ga semua tp kebanyakan.
Hal sepele :
Banyak ga mengubah janjian di Last minute?
Izin ga masuk kerja, di jam masuk kerja?
Baru berangkat di jam janjian sampai nunggu 1-2 jam?
Kalian pernah bayangkan ga, gen Z dari kecil udah pegang Hp. Semua bisa di komunikasikan realtime. Jd menganggap semua selesai ketika dikomunikasikan tanpa memikirkan waktu yg terbuang saat menunggu.
Pekerja yg menggantikan tugas dia saat bekerja.
Mungkin generasi yg sebelumnya lebih terbiasa berkomitmen. Kita bandingkan sama.
Saat kecil tidak ada alat komunikasi hp. Jika janji dengan teman sekolah di hari minggu jam sekian. Itu janji yg kita pegang tanpa ada komunikasi lagi.
Kita ada rasa malu karena membuat org lain menunggu.
Buat siapa pun, terutama Gen Z coba pikirkan perspektif jangan menggampangkan urusan dengan orang lain.
Waktu mereka sama berharganya dengan waktu mu yg km anggap penting.