Ga ditayangin di tipi Krn media takut ancaman pemerintah. Jadi kite netizen menayangkan berita demo hari ini yg msh berlangsung. Viralkan....gas pol ๐ฅ ๐ฅ
Aneh berita demo ga ada di tv
Polisi : Bunderan HI bukan tempat untuk Demo !
Netizen : pak, Dapur juga bukan tempat utk Polri & TNI ๐
----------------
Tidur Ratna Sarumpaet #demo
JOKOWI ADALAH BIANG KEROK NEGARA TERJADI CHAOS DAN AMBURADUL....
PENGAKUAN DADAN SANGAT MENGEJUTKAN BAHWA JOKOWI MENERIMA 2 T PERBULAN ADA CEK DAN NOTA TRANSFERNYA....โผ๏ธ
#GegaraMBGNegaraChaos#GegaraMBGNegaraChaos
๐๐
IJAZAH PALSU JOKOWI SEMAKIN TERANG BENDERANG...
JOKOWI KAGET MENTERI YUDI MUNCUL...
JOKOWI PECAT SAYA KARENA TAU RAHASIA IJAZAH PALSU, BUKTI DI FLASH DISK SAYA PEGANG....โผ๏ธ
#MBGBiangnyaKoruptor#MBGBiangnyaKoruptor
๐๐
Lagi2 guru honorer jadi korban...
Selama 16 tahun mengabdi di SDN 169 Sadar, Bone, Hervina menjalani peran yang sering dielu-elukan sebagai โpahlawan tanpa tanda jasaโ. Tapi realitanya jauh dari slogan. Gaji rapelan Rp700 ribu untuk empat bulan, yang berarti sekitar Rp175 ribu per bulan. Bukan cuma angka, itu simbol betapa rendahnya prioritas terhadap pendidikan dasar dan para pengajarnya.
Ironinya, ketika ia membagikan momen sederhana, sekedar rasa syukur karena bisa melunasi utang warung, namun yang datang justru sanksi. Bukan evaluasi sistem, bukan empati, tapi pemecatan. Lebih menyakitkan lagi, keputusan itu disampaikan secara tidak profesional, hanya lewat pesan WhatsApp, bahkan bukan langsung dari kepala sekolah.
Di titik ini, publik marah. Dan kemarahan itu masuk akal. Karena yang diserang bukan pelanggaran berat, melainkan kejujuran tentang kondisi yang memang nyata: guru digaji tak layak.
Tekanan dari masyarakat, dukungan dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), hingga sorotan Komisi X DPR RI akhirnya memaksa Dinas Pendidikan Kabupaten Bone turun tangan. Mediasi dilakukan. Kepala sekolah diminta meminta maaf. Dan keputusan pemecatan itu pun dibatalkan.
Akhirnya memang โhappy endingโ. Tapi jangan buru-buru puas.
Karena pertanyaannya belum selesai, kenapa harus viral dulu baru adil? Kenapa harus menunggu tekanan publik untuk memperbaiki ketidakadilan yang sudah berlangsung bertahun-tahun?
Kasus Hervina membuka satu hal yang tak bisa ditutup lagi, masalah guru honorer bukan soal individu, tapi sistem yang membiarkan ketimpangan terus terjadi. Dan selama itu belum dibenahi, cerita serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang kembali.