Baca pelan-pelan ya 👇
Para Ulama Sepakat Bahwa Meninggalkan Shalat Termasuk Dosa Besar yang Lebih Besar dari Dosa Besar Lainnya
Ibnu Qayyim Al Jauziyah -rahimahullah-mengatakan,
"Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat." (Ash Sholah, hal. 7)
‼️Bukankah juga hisab pertama kita adalah SHALAT ?
▫️Jika shalat saja kamu remehkan, maka keselamatan seperti apa yang kamu inginkan?
▫️Kamu yang tidak ingin sholat atau Allah yang tidak ingin bertemu dengan mu?
▫️𝗦𝗵𝗼𝗹𝗮𝘁 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻. 𝗧𝗮𝗽𝗶, 𝘁𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗶𝗹𝗺𝘂, 𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗸𝗵𝘂𝘀𝘆𝘂? 𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗴𝗲𝗿𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗺𝗮𝗸𝗻𝗮.
Cinta yang Tak Berlalu Meski Ramadan Pergi
“Tuhan yang kamu sembah di bulan Ramadan itu sama dengan Tuhan yang kamu sembah di luar bulan Ramadan. Lantas, mengapa caramu beribadah berbeda?” — Rumi
Pertanyaan ini menghantam pelan tapi dalam. Mengapa saat Ramadan datang, hati kita terasa hidup, sajadah tak pernah kosong, dan malam-malam menjadi taman rindu? Tapi ketika Ramadan berlalu, gairah itu ikut surut. Padahal Tuhan tak pernah pergi. Tak berubah. Tak berpaling.
Pertemuan dengan Ramadan membuat hidup lebih jernih. Waktu terasa suci, dan dada dipenuhi harap ampunan. Tapi perpisahan dengannya seolah mengembalikan kita pada dunia lama—tempat di mana doa-doa sering tertinggal dan hati kembali beku. Padahal Tuhan yang kita sembah sebelum dan sesudah Ramadan tetap sama. Lantas, kenapa cinta kita berbeda?
Mungkin inilah ujian cinta sejati. Pecinta tak menunggu momen, tapi menciptakan momen. Ia mencinta dalam hadir dan dalam jarak. Tak peduli musim. Tak peduli waktu. Karena yang dicinta tetap satu, tak berubah dan tak bergeser. Cinta itu menetap, bukan sekadar singgah.
Malam ini—malam ke-29—mungkin adalah malam ganjil terakhir. Mungkin pula malam perpisahan. Tapi jika ini perpisahan, biarlah ia jadi luka yang indah—luka karena takut tak mampu menjaga cahaya yang telah dinyalakan Ramadan.
Kalau ini benar malam terakhir, biarlah ia menjadi malam janji. Bahwa selepas Ramadan pun, kita tetap mencintai Tuhan yang sama, dengan rindu yang sama. Karena cinta sejati tak mengenal akhir. Ia bukan singgah sesaat saat kita butuh atau nyaman. Ia bukan ritual musiman yang on - off. Tapi ikatan jiwa yang tak lepas, relasi yang hidup sepanjang usia. Dan semoga, sepanjang usia itu, kita tetap bersama-Nya—dalam perjumpaan, juga dalam perpisahan dengan Ramadan.
Mungkin ini malam ganjil terakhir kita.
Mungkin ini Ramadan terakhir dalam hidup kita.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Kata Ulama ;
"Sepanjang malam di bulan Ramadhan ini jangan tinggalkan amalan amalan ringan tapi pahalanya gede, contohnya ; baca ayat kursi karena sekali baca ayat kursi itu seumpama seperempat juz dalam AL-QUR'AN atau setara dengan tujuh setengah juz".
Ngaji al-Ghazali untuk Pasanan
"Pasanan" adalah tradisi ngaji di pesantren selama bulan Ramadan. "Pasa" dalam bahasa Jawa berarti puasa; pasanan adalah melakukan kegiatan selama bulan puasa. Sebetulnya, tidur di bulan puasa pun, secara "lughatan" bisa disebut "pasanan", karena pada dasarnya tidur adalah kegiatan pula, walau orang yang tidur tampak tidak berkegiatan. Hanya saja, pasanan, secara " isthilahan" atau terminologis, artinya adalah ngaji di bulan puasa.
Dalam pasanan, para Kiai di pesantren-pesantren NU akan membaca kitab-kitab klasik (kadang ada juga yang membaca kitab modern, meski agak jarang) berbahasa Arab yang disebut Kitab Kuning. Pengajian pasanan berlangsung mulai dari habis subuh sampai tengah malam, dan hanya diselingi dengan kegiatan salat fardlu, buka puasa, dan salat tarawih. Di bulan puasa inilah para santri biasanya berburu "barakah" (tabarrukan; seeking spiritual blessing) dengan ngaji kitab-kitab tertentu ke kiat-kiat senior.
Kegiatan pasanan akan berujung dengan "khataman" kitab "balahan" (kitab yang dikaji). Pasanan biasanya akan dimulai pada tanggal 1 hingga 20-an Ramadan. Jika kitab yang hendak dibaca Kiai cukup tebal seperti Sahih Bukhari, misalnya, biasanya ngaji pasanan dimulai dari pertengahan bulan Sya'ban (bulan sebelum Ramadan dalam penanggalan hijriyah). Jika kitab yang dibaca tipis, seperti nazam Burdah yang menjadi rutinan pasanan Kiai Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, khataman bisa terjadi lebih awal, misalnya 10 Ramadan.
Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, di bulan puasa besok saya membaca kitab Imam Ghazali yang lain, yaitu Jawahir al-Qur'an. Ini adalah kitab yang unik karena akan membawa kita menyelam ke dalam rahasia-rahasia Qur'an dan menjumputi "mutiara" (jawahir) dari kedalaman samudera Qur'an. Yang tertarik ikut ngaji pasanan kitab ini, silahkan segera memesan kitab ini dari dua "bakul kitab" ini:
1. Kiai Idham Kholid Gunungpring: 081219984556.
3. Mas @rizalmubit: 082141221797.
Jika memungkinkan, pesan yang edisi Darul Minhaj. Monggo silahkan memesan sekarang.
Sekian.
Seseorang berkata kepada Imam Syafi’i ;
"Besok kita akan saling menghitung kesalahan"
Imam Syafi’i memegang tangannya dan berkata ;
"Tidak, besok kita akan saling memaaf kan. Jika aku salah pada mu, maafkan aku. Dan jika kamu salah pada ku, aku telah memaafkan mu"
Ada pepatah: kesengsaraan suatu negeri disebabkan bungkamnya orang-orang pintar. Bisa jadi kita sedang menghadapinya sekarang.
Di manakah para cendekia? Dyna Rochmyaningsih dalam opininya yang terbit beberapa tahun lalu. https://t.co/QmxZhCOruw
Kaum muda sekarang dipaksa bertemu dengan keadaan dan tantangan baru yang lebih rumit serta acapkali tidak berpola. Diperlukan kualifikasi yang lebih baik untuk sanggup menjadi subyek dan memenangi pertarungan.
Sahabatku yang baik
Yuk sahabat mari kita belajar mengenai Keutamaan, Waktu Afdalnya, dan Jumlah Rakaat Shalat Dhuha Yang Dianjurkan.....
Jangan lupa untuk dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sahabat...
Cr ig/aagym