Il 19 novembre 1995 ho esordito in Serie A contro il Milan. Avevo 17 anni e dall'altra parte c'era il capitano di quella squadra: Franco Baresi.
Per un ragazzo della mia età, trovarsi in campo contro campioni come lui era qualcosa di incredibile. Da quel giorno ho avuto ancora più chiaro cosa significasse rappresentare il calcio con classe, leadership e rispetto.
Ciao Franco. Riposa in pace.
Sebuah obituari mendalam dari ZenRS mengulas sisi lain dari Andie Peci, sosok pengorganisir sejati yang menghabiskan seluruh detak hidupnya demi buruh dan Bonek Persebaya.
Selengkapnya di web Pandit Football:
https://t.co/r50M3Viqje
Bellingham tidak mencari momentum, tapi MOMENTUM YANG MENEMUKAN BELLINGHAM.
Benar-benar pintar membaca permainan, benar-benar tahu caranya bergerak lebih cepat & tepat dari lawan, benar-benar paham kapan harus lari, kapan harus putar badan. Tambah dengan naluri cetak gol tinggi.
Rest in Peace, Cak Andie Peci
Sepak bola Indonesia kehilangan salah satu sosok paling tulus dan berani. Perjuangan panjang Cak Andie Peci tercatat abadi dalam sejarah berupa gerakan nyata melawan ketidakadilan demi marwah sebuah klub, sebuah kota, dan sebuah prinsip.
Memoriam perjuangannya, terutama momen mengembalikan Persebaya ke kancah nasional, adalah bukti sahih dedikasi tanpa tandingnya.
Pandangan kritis beliau adalah cermin jujur yang berani dia ungkapkan dari apa yang terjadi dalam dunia sepak bola khususnya di tanah air.
Warisan pemikirannya akan terus hidup, menjadi role model bagi siapa saja yang percaya bahwa sepak bola adalah milik rakyat.
Pandit Football mengagumi dan menghormatimu, Cak. Tenang di sana.🥀
Kadang nasib bisa ditentukan keputusan janggal wasit & intervensi VAR. Kadang nasib bisa ditentukan oleh kegeniusan seorang Messi.
Emang belum waktunya Mesir membawa kejutan.
Mereka jelas menunjukkan daya juang yang luar biasa, bermain cerdik.
Dan Hossam Hassan: Legenda!