Buat yang belum tau, titik-titik merah ini adalah kebakaran hutan di Kalimantan. Impactnya udah separah itu, kabut asap tebal di mana-mana dan mati listrik total di beberapa titik. Kenapa gak masuk berita? Seolah ada yang peduli.
Teman2 boleh minta bantu ramein 😭🙏 ini status temenku yg di NTT, harus ke mana ya nyari bantuan buat Desa Sambinasi, Desa Tadho, & Desa Nangamese 😭🙏 sedih bgt mereka belom dpt bantuan 😭💔 aku udh ijin buat share ke sini. Minta tolong ya teman2, semoga ada yg notis 😭🙏🙏
Sampe masuk IGD gara-gara Panco.
Chansung cerita kalau dulu Taecyeon pernah dibawa ke IGD gara-gara panco sama Junho.
Dulu banget, pas ada schedule di Jepang, Junho tiba-tiba bilang "Gw bosen, panco yu!" Terus pas Panco tiba-tiba ada suara 'Pacak', suaranya seperti tongkat baseball yang patah.
Abis itu mereka langsung batalin schedule besok dan ke IGD. Di Jepang, doktor bilang kalau ini harus dioperasi, tapi gabisa dioperasi di Jepang. Akhirnya Taecyeon pulang ke Korea buat dioperasi.
Taecyeon cerita kalau bekas operasinya masih ada tuh di tangannya.
https://t.co/gzCSx0vIPB
⚠️Sensitive Content ⚠️
🚨BREAKING : Israeli forces killed 9 year old Mousa Al-Habil and his father, nurse Mohammed, while they were on the roof of their home in Sheikh Radwan, Gaza City, manually collecting water amid severe shortages and collapsing living conditions
How will you go on with your day when you hear about a father in Gaza, trapped beneath the rubble, begging rescuers not to save him?
Not because he had lost hope in life, but because he could hear the final breaths of his daughters beneath the debris. Their tiny hands were still holding his in the darkness, as if calling for him one last time. He was the father who had always been their safe haven, yet this time he was powerless to pull them from the dust and shattered concrete.
Only his head was visible above the ruins. He looked into the eyes of the rescuers with a gaze exhausted by fear and helplessness and said:
"Leave me... my daughters are here... I do not want to come out alone."
What heart can endure such a scene? What language can possibly describe the pain of a father who realizes he is losing his daughters one by one, while holding their hands until they grow cold, unable to offer rescue, comfort, or even one final embrace?
How will your day continue after hearing this story? How will you sit peacefully at your table, or smile at something trivial, knowing that somewhere there is a father whose last wish was not to survive alone?
And the question that continues to haunt the conscience of humanity remains:
How much pain must the world witness before it hears the cry of a single father in Gaza?
#SaveHumanity
#ChildrenOfWar
#HumanConscience
#Gaza
“My Window is More Beautiful”
🚨In Gaza, children took part in a creative art session where they transformed a shelter window covered with nylon sheets into a colorful scene, painting grain husks into birds and reusing simple materials to create decorations.
The activity brought a brief moment of color and hope amid the surrounding rubble and harsh living conditions in displacement shelters.
Mengapa kami ini sbg rakyat terus diperas & diperlakukan tdk adil. Apa pemerintah tuli atau buta, begitu rakusnya MBG mengeruk uang negara, untuk hal yg tdk penting, sprt motor listrik, kaos kaki yg mahal. Setiap bulan gaji kami diambil buat bayar si Dadan.
Lihat video ini.
Guys, ini salah satu berita yang menurut gue paling mengerikan yang keluar hari ini dan bukan karena dramatis, tapi karena implikasinya sangat nyata terhadap keselamatan jutaan anak Indonesia.
BPOM secara resmi mengakui di depan DPR:
mereka belum pernah melakukan
sampling makanan MBG.
Sama sekali.
Karena tidak ada anggaran.
Mari kita letakkan ini dalam konteks yang benar:
Program MBG sudah berjalan berbulan-bulan.
Sudah menjangkau 27.000 SPPG di seluruh Indonesia.
Sudah menyerap Rp60 triliun anggaran.
Dan selama itu semua tidak ada satu pun sampel makanan yang diuji oleh BPOM.
Tidak ada verifikasi independen bahwa makanan yang masuk ke mulut anak-anak kita itu aman.
Tidak ada pengujian laboratorium resmi.
Tidak ada audit kualitas dari lembaga yang berwenang.
Dan angkanya membuat gue tidak habis pikir:
MBG: Rp60 triliun sudah terserap.
Hampir Rp1 triliun per hari.
Anggaran BPOM untuk mengawasi program ini yang tersedia saat ini: Rp2,9 miliar.
Bukan Rp2,9 triliun.
Bukan Rp2,9 miliar per bulan.
Total Rp2,9 miliar.
Perbandingannya:
anggaran pengawasan keamanan pangan untuk program yang menelan Rp60 triliun hanya 0,005% dari total anggaran program itu sendiri.
Dan kondisinya lebih buruk dari sekadar kekurangan anggaran:
BPOM sebelumnya sudah mengajukan anggaran Rp196 miliar untuk pengawasan MBG.
Sudah disetujui.
Tapi kemudian ada kewajiban pengembalian dana ke bendahara umum negara artinya dana itu dipotong dan tidak bisa digunakan.
Ada juga dana swakelola Rp675 miliar yang sudah disetujui Komisi IX DPR tapi sampai hari ini belum bisa dieksekusi karena masih menunggu tahapan administrasi yang entah kapan selesainya.
Jadi BPOM punya anggaran di atas kertas tapi tidak bisa digunakan.
Sementara makanan untuk jutaan anak terus dikirim setiap hari tanpa pengujian.
Dan ini yang paling ironis:
Kepala BPOM Taruna Ikrar bilang mereka sudah melatih 32.000 lebih tenaga ahli untuk mengawasi SPPG.
Tapi tidak ada anggaran untuk mengambil dan menguji satu pun sampel makanan.
Jadi kita punya 32.000 orang terlatih tapi tidak ada alat ukur yang bisa membuktikan bahwa makanan yang mereka awasi itu aman.
Itu seperti punya 32.000 dokter tapi tidak ada satu pun alat diagnosa.
Mereka bisa melihat.
Tapi tidak bisa membuktikan.
Konteks yang membuat ini semakin mengerikan:
Kita sudah tahu bahwa 6.457 orang dilaporkan terdampak keracunan MBG angka yang BGN sendiri laporkan ke DPR.
Belatung ditemukan dalam makanan MBG dan diakui sendiri oleh Hashim Djojohadikusumo.
Kasus keracunan terjadi di Duren Sawit, Bantul, dan berbagai daerah lain.
Dan selama semua itu terjadi lembaga yang seharusnya bertugas memverifikasi keamanan pangan itu tidak pernah melakukan satu pun uji sampel karena tidak ada anggaran.
Yang tidak masuk akal dari seluruh situasi ini:
BGN punya anggaran untuk:
Motor listrik Rp1,2 triliun
Digitalisasi Rp3,1 triliun
Semir sepatu Rp1,25 miliar
Sikat semir Rp272 juta
Tapi BPOM lembaga yang bertugas memastikan makanan itu tidak meracuni anak-anak hanya tersisa Rp2,9 miliar yang bisa digunakan.
Prioritas anggaran ini mengatakan sesuatu yang sangat jelas tentang apa yang dianggap penting dalam program ini dan apa yang tidak.
Pertanyaan yang harus dijawab:
Satu — Selama berbulan-bulan program MBG berjalan tanpa pengawasan sampling BPOM, siapa yang bertanggung jawab memastikan keamanan pangan dari 27.000 SPPG itu?
Dua — Apakah BGN tahu bahwa BPOM tidak bisa melakukan sampling karena tidak ada anggaran? Kalau tahu — kenapa tidak ada tindakan untuk mengalokasikan anggaran yang memadai?
Tiga — Apakah 6.457 korban keracunan itu bisa dicegah kalau sampling BPOM berjalan sejak awal? Tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti.
Tapi pertanyaannya sangat valid dan harus ditanyakan.
Empat — Dana swakelola Rp675 miliar yang sudah disetujui tapi belum bisa dieksekusi apa yang menghalanginya dan siapa yang bertanggung jawab atas kemacetan administrasi itu?
Bottom line:
Indonesia menjalankan program makan gratis terbesar dalam sejarahnya dengan anggaran hampir Rp1 triliun per hari tanpa pengujian keamanan pangan yang independen.
Bukan karena teknologinya tidak ada.
Bukan karena BPOM tidak mau.
Tapi karena anggarannya tidak tersedia sementara di sisi lain uang mengalir untuk motor listrik dan semir sepatu.
Ini bukan kelalaian kecil.
Ini adalah kegagalan sistemik dalam memprioritaskan keselamatan anak-anak di atas kepentingan pengadaan dan administrasi.
Dan yang paling mengejutkan dari semua ini bukan fakta bahwa BPOM tidak punya anggaran.
Yang paling mengejutkan adalah bahwa program senilai Rp60 triliun ini diizinkan untuk terus berjalan hari demi hari tanpa mekanisme pengawasan keamanan pangan yang paling dasar sekalipun.
atau ini bukan program makan bergizi
atau cara menghabiskan anggaran dengan gaya??
Dicecar DPR, Kepala BGN terdiam !
Dadan si ahli serangga ini terdiam kyknya krn ga ngerti apa yg lagi disampaikan oleh ibu Irma. Yg ada di otaknya itu kan cuma gmna cara ngabisin duit rakyat utk beli motor listrik, kaus kaki, tablet dll. Boro2 mikir utk pengawasan MBG.
Maling Berkedok Gizi !
Syarat kerja di dapur MBG tuh ‘bego’ ya?
Pernah kerja jadi HSSE Officer bikin gue gatel banget pengen bahas ini. Let me tell you why this is dangerous, apalagi buat program skala nasional.
Gue lihat video ini miris banget. Presidennya menghamburkan Uang 300 juta per malam di hotel mewah, saat ultah Teddy. Tapi disisilain, rakyatnya mau makan saja susah harus cari uang ditempat sampah. Betapa kejamnya pemerintah ini.
Jancuukk
Indonesia.
1.Penghasil CPO terbesar didunia.
2.Penghasil nikel no.1 dunia.
3.pengasil batubara no.3 dunia
4.penghasil emas no.1 dunia
5.penghasil timah no.2 dunia
6.Hutan no.6 terbesar dunia
7.Hasil laut no.2 dunia
Yg nikmati;
Penguasa.
Yg bersenjata.
Pejabat.
Dan oligarki.