Tanpa bicara tokoh politik, kasus yg lebih dekat : laki2 yg menolak atau lalai menafkahi anak pasca perceraian tetap diterima tanpa sanksi sosial. Kalo kepedulian mereka benar2 besar, mestinya ada stigma dan tekanan sosial yg terlihat sampai perilaku tsb menjadi jarang ditemui.
Dear kelas menengah.. menjadi "tonedeaf" terhadap ketidakadilan yang berdampak langsung pada hidup kalian sendiri bukanlah sikap netral, melainkan bentuk ketidakpedulian.
Ada batas antara ketidaktahuan
dan kebodohan yang dipelihara.
Bersuara itu hak, tapi menjaga persatuan juga wajib. Yuk, sampaikan aspirasi dengan cara yang tertib dan santun, karena beda pendapat nggak harus bikin kita terpecah. Tetap damai, tetap saling menghargai, karena Indonesia kuat kalau kita tetap solid.
You know how brilliant their idea to choose Bundaran HI sebagai tempat "aksi" mereka adalah? It’s because they know Bundaran HI adalah pusat titik keramaian Jakarta.
Choosing Bundaran HI means maximum exposure. Akses ke semua lapisan masyarakat itu potensial banget buat attract publik. From the corporate slaves stepping out of their Sudirman offices, people commuting, to the general public—everyone is literally there. It is the ultimate hub to get eyes on your movement.
Plus di Bundaran HI, segala jenis transportasi umum ada. It’s the literal heart of Jakarta's transit. So obviously, the traffic will be disrupted. But honestly? In modern activism, that disruption is a feature, not a bug. When the traffic gets a bit chaotic, people are forced to look. It creates that instant "Wait, what’s happening over there?" effect.
As someone who used to organize actions and protests too, let’s be real for a second: pemilihan Bundaran HI ini bukan lagi buat "protes" langsung ke pihak yang diprotes.
Why? Karena ya udah pasti gak bakal didengar. Pointing fingers directly at the institutions just ends up making you tired, drained, and honestly, males banget. It’s a dead end.
Makanya mereka pilih Bundaran HI. It’s no longer about yelling at a brick wall; it’s about controling the narrative and winning the public's attention. If the authorities won't listen, you make the entire city talk about it instead. And there’s no better stage for that than Bundaran HI.
mulai sekarang gw lebih sering ngomong "queer" ketimbang lgbt... homophobic indo mana paham queer kan 😋😋 soalnya mereka buzzer murah yang bikin ruu polri lolos sama pertamax jadi 16k
Sekelompok orang tidak akan pernah bisa memahami arti "marjinal", "minoritas", yang tertindas, selama mereka belum pernah merasakan menjadi salah satunya.
Mereka tidak akan pernah bisa mengerti mengapa ada perlawanan dari kelompok marjinal/minoritas karena di benak mereka, apa yang terjadi di depan mata mereka adalah sebuah hal yang normal. Bahkan ketika yang terjadi di hadapannya adalah sebuah ketidakadilan, mereka akan menganggap itu biasa saja.
Kelompok marjinal dan minoritas yang tertindas ini bukannya ingin menjadi pihak yang menindas. Mereka cuma ingin hidup tenang dan layak. Mereka tak akan melawan selama hak hidup mereka sudah terpenuhi.
Banyak orang yang mengaku memiliki moral tapi ketika berhadapan dengan kelompok marjinal dan minoritas, pola pikir yang mereka miliki adalah: "Kami membiarkan kalian hidup saja sudah bagus." Ini bukan sebuah bentuk keyakinan untuk mengamankan; tapi sebuah ancaman.
Banyak orang yang tidak akan memahami di mana letak ancamannya karena buat mereka, dengan tidak membunuh manusia lain saja adalah sebuah kebaikan. Mereka tidak akan pernah memahami rasa takut yang dimiliki oleh kelompok marjinal dan minoritas.
Sampai dengan detik ini, gerombolan orang yang secara sadar ingin mengakhiri hidup kelompok marjinal dan minoritas akan terus beranggapan bahwa mereka terusik. Ketenangan dan kenormalan yang selama ini mereka nikmati, "diganggu" oleh sekelompok orang yang hanya ingin mendapatkan apa yang menjadi haknya. Mereka akan selalu menemukan justifikasi untuk melakukan penindasan.
Gw akan selalu berdiri bersama kaum marjinal dan minoritas. Walaupum gw tidak sepenuhnya bisa memahami ketakutan yang mereka hadapi setiap harinya, gw akan tetap bersama mereka. Hal ini tentu akan membuat beberapa pihak tidak nyaman. Bagus. Biarkan ketidaknyamanan itu terus berkembang agar kalian belajar untuk mulai melihat dari kacamata kaum marjinal dan minoritas. Kelompok marjinal dan minoritas dalam bentuk dan nama apapun.
Hari ini pas mau kelar poli tiba2 dateng pasien rujukan poli jiwa. Kita tanya ada keluhan apa ke Saraf, krn kl dipikir2 harusnya obat dr Jiwa udh cukup
“Saya disuruh CT Dok. Kepala saya suka pusing & linglung pingsan. Saya dl kepala nya dibenturin ke tembok sm mantan suami saya”