Turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada korban kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.
Doa kami menyertai para korban. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. Amin YRA.
Menerima audiensi dari Sdr. Andika Pandu Puragabaya di Ruang Kerja Kementerian Kebudayaan.
..
Kami berdiskusi pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pemajuan kebudayaan. Juga mendorong keterlibatan generasi muda untuk memberikan ruang ekspresi luas bagi anak muda agar budaya tidak hanya dipelajari secara pasif, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup dan aksi nyata.
Membuka Seminar Nasional, Pameran dan Parade Budaya di Perpustakaan Nasional. Ini forum yang hadir di tengah tantangan global yang menuntut kita untuk semakin tegas berdiri di atas fondasi identitas dan peradaban sendiri.
..
Saya sampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Perkumpulan Peduli Wisata Budaya Indonesia (PEWIBI), atas penyelenggaraan seminar bertema “Budaya sebagai Warisan Hidup, Menuju Peradaban Nusantara Berkelanjutan Masa Depan”. Tema ini sangat relevan dan strategis, karena berbicara sekaligus tentang akar, arah, dan masa depan bangsa.
Pelestarian seni ukir Jepara menjadi salah satu fokus yang terus kami dukung secara konsisten. Upaya pelestarian tersebut untuk mendorong penguatan ekosistem budaya yang mampu berkembang menuju ekonomi budaya, sehingga menjadi fondasi penting dalam pengembangan ekonomi budaya.
Kementerian Kebudayaan juga terus mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, pelaku budaya, dan sektor industri, guna memastikan keberlanjutan tradisi seni ukir Jepara sebagai warisan budaya yang hidup, lestari, dan berkelanjutan.
Membuka Pameran Seni Ukir Jepara “Tatah” 2026 di Museum Nasional Indonesia.
Pameran ini menghadirkan ruang apresiasi, edukasi, serta interaksi yang mempertemukan tradisi dengan inovasi. Melalui kegiatan ini, kita dapat melihat bagaimana nilai-nilai budaya terus dihidupkan dalam karya, sekaligus membuka peluang pengembangan yang lebih luas di masa depan.
Saya juga meninjau pameran “Numismatik” yang mengangkat perjalanan mata uang di Indonesia sebagai artefak budaya. Pendekatan ini menempatkan uang tidak hanya sebagai alat tukar, tetapi juga sebagai medium yang mencerminkan perubahan struktur sosial dan politik.
Pada pameran “Numismatik”, pengunjung dapat menelusuri koleksi mata uang dari berbagai periode, mulai dari era Hindu-Buddha, kesultanan Islam, kolonial Eropa dan Jepang, hingga masa kemerdekaan.
Melalui pameran ini, diharapkan museum semakin relevan dan dekat dengan masyarakat. Ke depan, Museum Nasional Indonesia akan terus menghadirkan berbagai pameran dan program yang edukatif serta inovatif.