Produk utama suatu negara itu satu saja: National Security atau National Ressilience
Security scr prinsip berfokus secara eksklusif pada pencegahan (prevention) dari ancaman yang telah teridentifikasi
Ketahanan didefinisikan sebagai kapasitas fundamental sebuah sistem untuk menyerap guncangan (absorb), beradaptasi (adapt), dan mengatur ulang dirinya sendiri (reorganize/transform) sehingga sistem tersebut masih bisa menjalankan fungsi dan identitas esensialnya setelah terkena hantaman destruktif
Kenapa Indonesia tidak memakai istilah National Security tetapi malah menggunakan National Ressilience sebagai tujuan utama?
Hasil Gemini:
Keamanan Nasional AS sangat didominasi oleh instrumen Hard Power (militer, intelijen, dan sanksi ekonomi).
Indonesia mengembangkan konsepsi Astagatra (Delapan Gatra/Elemen) dalam Ketahanan Nasionalnya. Elemen ini dibagi dua:
1. Trigatra (Aspek Alamiah): Geografi, Demografi, dan Sumber Daya Alam.
2. Pancagatra (Aspek Sosial/Dinamis): Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial-Budaya, dan Pertahanan-Keamanan (Ipoleksosbudhankam).
Indonesia menggunakan National Resilience karena kita secara sadar mengakui realitas bahwa kita berada di posisi silang dunia, rentan, majemuk, dan terbuka. Kita tidak punya uang dan kekuatan untuk mencegah semua badai dunia (krisis ekonomi, pandemi, perang dagang, ideologi asing) masuk ke wilayah kita. Oleh karena itu, doktrin kita bukanlah "bagaimana cara agar tidak pernah terpukul", melainkan "bagaimana agar kita tidak hancur berantakan setelah dipukul".
Secara keilmuan, doktrin Ketahanan Nasional Indonesia sebenarnya jauh lebih adaptif dan realistis untuk menghadapi abad ke-21 yang penuh dengan ketidakpastian (ancaman buta/unknown threats) dibandingkan obsesi keamanan militer konvensional.
Jika Ketahanan Nasional (National Resilience) adalah filosofi dasar atau perangkat lunak (software) dari cara negara ini bertahan hidup, maka Sishankamrata (Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta) adalah arsitektur operasional atau perangkat kerasnya (hardware).
Secara militer dan matematis, Sishankamrata adalah pengakuan terjujur dari negara ini terhadap keterbatasan sumber dayanya. Kita tidak memiliki anggaran militer triliunan dolar untuk membangun "Kubah Besi" absolut di seluruh perbatasan Nusantara. Oleh karena itu, doktrin Sishankamrata merancang sebuah sistem pertahanan yang tidak memiliki titik kegagalan tunggal (no single point of failure).
Sishankamrata menciptakan efek gentar melalui proyeksi rasa frustrasi (Deterrence by Denial). Analisis kalkulasi rasional dari militer asing yang ingin menginvasi Indonesia akan menyimpulkan: "Kita mungkin bisa menghancurkan instalasi militer utama mereka dalam beberapa minggu, tetapi setelah itu kita harus menduduki belasan ribu pulau dan menghadapi 280 juta penduduk yang semuanya didoktrin untuk menjadi komponen pertahanan militer dan non-militer. Biaya pendudukannya akan membuat negara kita bangkrut." Ketahanan itulah senjata utamanya. Kemampuan untuk membuat invasi menjadi sangat mahal dan tidak masuk akal secara hitungan logistik.
Sumber National Security Strategy: The White House (.gov) https://t.co/uul2M83qzf