Indonesia bubar
bisa saja menjadi kenyataan.
Bukan karena rakyat benci bendera.
Karena pemimpinnya
dari pusat sampai daerah
sudah tidak peduli.
Sudah tidak dipercaya.
Sebagian sudah error.
Kritik membangun pun
tidak sanggup didengar.
Kalau negara hanya menarik setoran
lalu tuli pada daerah,
daerah akan mulai hitung sendiri.
Pemisahan bukan mustahil.
Yang pertama berpisah
belum tentu Papua.
Belum tentu Aceh.
Bisa Yogyakarta.
Lalu Kesultanan Cirebon.
Banten.
Kediri.
Pasundan.
Baru luar Jawa
satu per satu.
SDA akan ditata ulang.
Tidak lagi disetor ke pusat
untuk dikuasai segelintir oligarki.
Tambang, kebun, minyak, gas
yang selama ini mengalir ke atas
bisa balik ke tanahnya.
Luar Jawa yang kaya
bukan daerah miskin.
Yang miskin hanya kasnya
karena kerannya dipegang orang lain.
Kalau dikelola sendiri,
bisa melebihi negara kaya Timur Tengah.
Bisa saja
pak haji kondang di Kalimantan
kelak mengangkat diri jadi sultan baru
turun-temurun.
Menurutku itu urusan belakangan.
Yang ditanya duluan
rakyatnya makmur atau tidak.
Pendidikan gratis.
Kesehatan gratis.
Hidup lebih mudah.
Seperti Brunei yang tidak sibuk
jualan slogan.
Pilih mana, wak?
Demokrasi gila
yang dipimpin bandit
beli suara murah
pakai uang hasil korupsi?
Atau terus teriak NKRI harga mati
sambil rakyatnya yang mati pelan-pelan?
Yo, bisa mati tenan, wak.
Mereka yang tambangnya di luar Jawa
paling kencang teriak kesatuan.
Wajar.
Kerannya enak.
Boleh NKRI harga mati.
Asal tidak dipimpin bandit
yang otaknya error
dan akhlaknya sudah habis.
Karena Status Whatsapp, Pemuda Dianiaya Polisi dan Dipaksa Meminta Maaf pada Anjing Pelacak.
KontraS menerima pengaduan dugaan tindak penyiksaan o/ anggota Polres Halmahera Utara. Kejadian berawal dari status whatsapp, berujung pada tindakan tidak manusiawi terhadap Yolius (22).