"Ayahku, sayang, semoga sehat-sehat senantiasa. Biar nanti saat pulang berujung temu, kita duduk saling merangkul sembari menertawakan rindu yang telah kalah."
Dalam tualang di ujung lelah, mata merekam sosok para ayah kuat nan tabah; di masjid, laut, sawah, jalan, pelabuhan, pasar dan tempat-tempat lainnya para ayah merajut asa. Kepala tersandar, bayang-bayang rumah memijar.
Peluk kembali setiap warna-warni di depan. Toleh sejenak kebelakang, beri senyuman, lalu melangkahlah dengan mantap. Percaya, entah pertemuan atau kehilangan, kelak ini yang akan kita syukuri kemudian.
Rutinitas tertegun atas hujan dilarut malam. Bulir air mengetuk atap dengan irama yg paling kita kenal. Pikiranpun basah dengan riuh pulang, gempita rumah dan "nak, lekas tidur, supaya tidak telat shalat subuh".
Pelangi harap muncul dan temu masih terbungkus rindu paling sendu.
Bosan itu wajar, jenuh itu manusiawi. Ya, namanya juga kehidupan, apalagi kalau bukan menyangkut perasaan. Bersyukur lagi, rangkul kembali setiap alasan ketika memulai. Senyummu anggun bila semangat begitu~
Jika girang harus menemui sedihnya lagi pada cerita kawan, maka sambutlah dengan semarak. Sebab bahagia mesti seimbang, agar syukur kian meninggi dan bahagia tak sampai berlebihan hingga lupa diri~
Sebab bukan kita yang menjalani maka bukan kita yang merasakan. Berhenti menyalahkan, mulai mendengarkan. Bukankah sekadar didengarkan seringkali memicu tabah dan lega di liang-liang batin kita?!
Kemudian jantung merupa Photoshop diberatnya kantuk siang. Hilir mudik, buka tutup gradient tool seakan heran; mengapa semua warna hambar diperasaan?
Lalu sadar bahwa hanya kau satu-satunya gradasi warna yang kuperlukan.
Sudah mendapat kisi-kisi dan akan biasa saja jika nanti ditanya "kapan nikah?". Pas ketemu teman, eh malah ditanya: "mana istrimu?" :(
Mantap sekali..
#Melencengdarikisi2
Nostalgia adalah sebuah kemestian yang tak terhindarkan saat kumpul bersama kawan-kawan SMP-SMA. Sebab mengenai masa depan, baiknya dibahas denganmu saja~