Temen2 tolong bantu angkat kasus pemerkosaan biadab ini😭
Korbannya anak disabilitas yg tidak bisa dengar dan bicara. Setiap korban lewat dijegat sm para pelaku dan diperkosa. Itu foto salah satu pelaku yg merupakan tetangga korban
Bayi berisik, balita rewel, nenek kakek yg jalannya lambat etc adalah dinamika wajar di ruang publik. Orang-orang yg nggak siap keluar rumah untuk menghadapi dinamika semacam itu dipersilakan gak usah keluar rumah sama sekali 👍
makanya punya mulut tuh di kontrol, jangan sok iye, grup lagi cb malah nyiram bensin ke temen se grupnya sendiri yg menurut gw jg gaperlu dibahas di depan fans, akhirnya begini kan 👍🏻
Siapa yang menciptakan bisnis kayak gini sih? Anj masa tukerin uang baru ada biaya admnya 10-20% gilak.
Itu mereka dapat uang baru sebanyak itu dari mana dah?
Pantes gue tuker di bank udah pada kosong.
Di Agama Islam ini termasuk riba ya?
Kata gua mah jangan ada yang tukerin uang dijalan lagi, biarin mereka capek nungguin dijalan akibat kerakusannya.
Kayak gini aja pemerintah gak bisa kontrol, giliran THR dipalakin🤭
Harus ada aturan dan kontrol yang tegas nih buat pemerintah biar yang seperti ini tidak ada lagi.
Yang bikin gue muak, tuh cewek freak. Nama Lisa dipakai besar-besaran di materi promosi brand. Padahal penggunaan nama figur publik dalam kepentingan komersial itu nggak bisa sembarangan. Harusnya sekelas brand ngerti soal etika dan batasan.
Mulai marak ya konten² begini di Tt, Threads, X.
Giring opini buat jelekin suatu produk, dia gatau seberjuang apa Viva buat bangun namanya sampe disebut kosmetik legend
Kapolda Maluku Irjen Pol. Dadang Hartanto menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban setelah seorang pelajar meninggal dunia akibat dianiaya oknum anggota Brimob di Kota Tual.
Baca selengkapnya: https://t.co/Z2ti6xNsYx.
~SN #Brimob#KapoldaMaluku
Masih ingat kasus jenazah anak SMP yang nggak sengaja ditemukan konten kreator horor saat live di lokasi sepi? Nah, sekarang detail kasusnya mulai terkuak.
Korban: Zain, siswa SMP kelas 1 (sekitar 14 tahun).
Pelaku utama: Yoga (17 tahun).
Satu pelaku lain: inisial R (16 tahun), perannya mengamankan situasi.
Ya ini adalah kisah LaGiBeTe (aku singkat begini ya, takut kena pel4nggaran). Awalnya sempat disebut motifnya karena korban memutuskan pertemanan. Tapi update terbarunya, ternyata memang ada unsur sakit hati yang dalam banget layaknya kekasih yang galau. Pelaku sangat terobsesi dan punya perasaan mendalam thd korban
Hubungan pertemanan mereka memang sudah berjalan cukup lama dan cukup dekat.
Lalu, Zain ini akhirnya cerita ke keluarganya. Entah karena merasa tidak nyaman, entah karena merasa disukai, detail itu tidak dijelaskan polisi. Intinya, Zain ingin pindah. Pihak keluarga mendukung, dan dia pindah sekolah ke Bandung.
Sejak itu, pelaku makin drop. Kalau lihat akun TikTok pelaku, repostannya penuh kata-kata galau. Kayak orang ditinggal pacar. Hampir selalu ada selipan kata “Kaka kangen Ade Zain”, “rindu Ade Zain”. Dia panggil Zain dengan sebutan “Ade”. Isinya benar-benar seperti orang kehilangan kekasih hidupnya, padahal usianya baru 17 tahun.
Karena Zain sudah memblokir semua komunikasi, pelaku tidak bisa menghubungi lagi. Dan itu bikin pelaku makin sakit hati. Akhirnya, dari Garut mereka berdua berangkat ke Bandung. Datang ke sekolah SMP baru tempat Zain belajar. Modusnya mau ngajak ngobrol. Zain dibawa ke kawasan Kampung Gajah, tempat yang sepi.
Si R (16 tahun) bertugas mengamankan sekitar lokasi. Sementara Yoga, pelaku utama, ngobrol dengan Zain. Tapi dia sudah membawa senjata tajam dari rumah. Jadi ini memang sudah pembunuhan berencana .
Saat cek-cok, diduga Zain tetap tidak mau melanjutkan komunikasi dengan pelaku. Pelaku makin emosi. Dia ambil botol kaca yang kebetulan berada di lokasi lalu memukul kepala Zain. Setelah itu dia ambil belati dan menvsvk perut Zain sampai 8 kali.
Zain ditinggalkan dalam kondisi masih hidup.
Pelaku mengambil jaket dan HP Zain lalu pergi. Pelaku sempat mengirim pesan ke keluarga Zain, seolah-olah itu Zain, mengaku dirinya diculik.
Keluarga melaporkan Zain hilang ke polisi namun tidak ada titik terang. Untungnya beberapa hari kemudian jasad Zain ditemukan secara tidak sengaja oleh konten kreator yang sedang live di lokasi tersebut. Yang jadi pertanyaan. kalau HP dibawa pelaku, memangnya HP tsb tidak bisa langsung dilacak ya?
Sekarang motifnya sudah jelas ya.. sakit hati (korban memutus semua kontak), obsesi (sampai mencetak jaket dengan inisial nama korban dan sering memakai jaket tsb kemana-mana), tidak terima ditinggalkan (sampai nekat nyamperin dari Garut ke Bandung), penyuka ses4ma (dari pengakuan dan repost-an pelaku yang terang-terangan di media sosialnua)
Yang curiga Zain juga LaGiBeTe, ya bisa saja Zain hanya orang baik. Mungkin dia selama ini cuma sering mendengarkan curhat namun pelaku sudah baper. Saat korban merasa ada yang tidak beres dia memilih cut off sampai pindah sekola, tapi pelaku tidak bisa menerima.
Ini yang ngeri.
Reminder buat orang tua bahwa yang perlu diwaspadai dan dijaga bukan cuma anak perempuan. Godaan dan pengaruh buruk bisa datang dari mana saja. Bahkan kaum kaum tertentu bisa sangat obsesif karena merasa mereka gak punya banyak pilihan, makanya sekalinya nemu target langsung kayak hopeless romantic gitu. Meskipun gak semuanya begitu yaa
Ditulis oleh Faradila Novita Anasri
#beritaviral
Kondisi balita laki-laki berusia 2,5 tahun yang menjadi korban kekerasan diduga dilakukan oleh pacar sang ibu, hingga kini masih dalam keadaan kritis dan menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Peristiwa memilukan itu terjadi saat ibu korban berinisial IP (20) bersama anaknya berada di sebuah hotel di wilayah Karawang, Jawa Barat. IP mengaku awalnya membawa anaknya ke hotel dan berniat cek in dengan sang Pacar. Tak lama berselang pacarnya menghubungi dan IP memintanya untuk datang menyusul. Menurut keterangan IP, anaknya saat itu belum juga tidur. Ia sempat memberikan ponsel agar balita tersebut tenang. “Udah kayak gitu anak saya gak langsung tidur, saya kasih hp dia masih anteng. Udah kayak gitu si laki-laki itu ngchat aku, (bayi) udah tidur belum,” ujar IP saat ditemui di RSUD Karawang, Sabtu (14/2/2026). IP menuturkan, setelah sang pacar berada di hotel, sekitar pukul 01.30 WIB, pelaku diduga berpura-pura sakit perut dan meminta dibelikan makanan. IP pun keluar dari kamar hotel untuk membeli makanan di sekitar lokasi, meninggalkan anaknya bersama pelaku. Namun saat kembali ke kamar, IP mengaku mendapati situasi yang membuatnya terpukul. Kamar dalam keadaan gelap, dan ketika lampu dinyalakan, ia melihat pelaku tengah mengelap darah di wajah anaknya. IP menyebut kondisi mata anaknya sudah berubah dan balita tersebut terus membuka mulut seperti menahan sakit. Ia juga mengatakan, pelaku sempat bersandiwara dengan menyampaikan kalimat seolah dirinya selalu disalahkan. Tak hanya itu, pelaku diduga berupaya menghilangkan barang bukti dengan membuangnya ke bawah kolong kasur. “Sambil bilang kalau dirinya selalu disalahkan, sambil membuang barang bukti ke kolong kasur. Saya tidak percaya kemudian saya cek ternyata ada tang dan jarum besar,” kata IP. Setelah kejadian itu, IP langsung melaporkan peristiwa tersebut kepada pihak kepolisian. Pelaku kemudian berhasil diamankan dan ditangkap saat berada di RSUD Karawang.
Juru Bicara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura sekaligus Deputy Chief of Mission, Thomas Ardian Siregar, mengatakan Ashar saat ini dalam kondisi sangat terpukul secara emosional.
“Secara fisik ia terlihat baik-baik saja, tetapi secara emosional sangat terguncang. Secara psikologis, ini masih sangat sulit baginya untuk menerima,” ujar Thomas.
Baca di: https://t.co/qn3b8xrxdI
~WR #Singapura #WNI