Trend nya masih turun, masih lebih baik sell on rebound saat ini.
Minggu lalu, banyak sekali yg mulai bingung mesti cutloss atau ga padahal seharusnya cutloss dilakukan udah dari bbrp bulan lalu saat price dari banyak saham bersama2 breakdown.
Itulah tanda ada yg salah.
Jika bisa manfaatin tanda itu, drawdown akan terjaga. Semestinya 'kerugian' drawdown tidak lebih dari 1/3 profit yg didapat sejak market low di 2024.
Misalnya di low 2024 sampai market high 2025-2026 porto nya berhasil profit 100%, saat sell signal udah muncul secara firm, porto masih profit 66-75% dari porto low 2024.
Tapi kalo profit hilang apalagi sampai rugi, itu tandanya profit yg didapat bukan berdasar skill tapi hanya 'skill' semu yg didapat karena market bullish.
Berdasar data keberhasilan trader, lebih dari 80% akan berhenti dari trading dalam 5thn dan 90% dari trader akan mengalami kerugian.
Dari situ, banyak yg saat ini di pasar saham ga akan paham price action atau tanda2 market yg akan bearish karena mayoritas trader di pasar saham itu pemula atau belom mempunyai pengalaman yg cukup.
Yg lebih membingungkan lagi, trader pemula akan melihat atau menonton view dari bbrp trader lama yg bisa berubah2 karena untuk sukses di trading itu sebenarnya harus memiliki pikiran yg terbuka dan flexible.
Itu sebabnya trader sukses akan bilang,
Bukan market downtrend yg membuat kerugian besar tapi market yg sideways (market yg dikocok2) yg akan membuat kerugian besar bahkan bisa sampai porto hilang (atau di forex biasanya disebut margin call).
Ini karena hari ini bisa dapet tanda bullish, besok2 kembali bearish.
Cara antisipasinya, fokus trading ketika market udah uptrend karena berita jelek pun biasanya ga akan tiba2 buat saham2 turun drastis seperti yg terjadi ketika market downtrend seperti saat ini di IHSG.
Flexible yg benar hanya akan dimiliki jika memiliki pengetahuan dan pengalaman yg telah diasah.
Ini minimal 3-5 thn di pasar saham dgn intensitas rutin ke expose terus menerus setiap hari. Jadi untuk yg masih dibawah itu, bukan mau merendahkan, tapi perlu jaga agar jgn merasa hebat dulu kecuali telah dibuktikan dari hasil trading di full 1 cycle bull dan bear market (yg 1 full cycle biasanya butuh minimal 3-4 thn).
Jadi saran saya,
1. Pakai akun kecil. Pakai 1-5% maximum dari total asset yg kalian miliki jika kalian baru mulai trading. Semakin kecil semakin baik.
2. Tidak fokus pada profit tapi pada cari pengetahuan dan market exposure.
3. Jangan sombong merasa bisa ketika telah profit tapi belom dipasar saham selama minimal 3-5thn.
Artinya, jika membaca atau mendapat view orang lain yg berbeda dari medsos atau dari manapun, jgn bantah atau mencoba melawan atau bahkan mendiskreditkan view orang lain itu. Tetap open minded menerima berbagai view lalu analisa.
4. Jika berhasil disiplin jalanin tradeplan, take profit dan cutloss setelah entry dan porto performance mulai bisa breakeven lalu pelan2 menuju profit dan konsisten selama 2-3thn, baru mulai tambahin capital namun tetap jangan lebih dari 5% dari total liquid networth yg kalian miliki.
Growing capital itu akan mudah terkecuali jika jalan yg kalian pakai adalah investing.
Untuk trading, saat ketemu caranya (aha moment), nanti kalian bisa grow duit kecil jadi besar dalam waktu relatif singkat. (ga 1-2 hari juga tapi 6-12-18 bulan akan berasa karena 5% networth itu bisa jadi 10-25% networth).
5. Semangat dan never give up.
Penyebab laki-laki stres hingga
kehilangan Arah.
peringatan dari sabda Nabi tentang ujian berat yang bisa menimpa seorang laki-laki di akhir zaman:
"Akan datang suatu masa, di mana kebinasaan seorang laki-laki datang dari orang-orang terdekatnya istrinya, kedua orang tuanya, dan anaknya. Mereka mencelanya karena kemiskinan dan menuntut di luar kemampuannya, hingga ia menempuh jalan yang merusak agamanya."
Ujian ini tidak ringan. Tekanan dari keluarga, tuntutan hidup, dan perasaan harus memenuhi harapan sering membuat seseorang stres dan terhimpit. Ia ingin membahagiakan mereka, tapi tidak selalu mampu. Di situlah hati mulai goyah.
Bahaya muncul ketika tekanan itu mendorongnya mengambil jalan yang salah demi memenuhi tuntutan. Padahal, menjaga agama jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar dunia.
Maka kuncinya adalah sabar dan tetap berpegang pada prinsip. Karena siapa yang menjaga agamanya di tengah tekanan, dialah yang sebenarnya selamat
Gue heran banget sih… kenapa storage iPhone bisa penuh padahal app udah lama dihapus? Rupanya Safari nyimpen data tersembunyi, nyimpan halaman web offline tanpa lo sadar.
Nih cara nemuin & bersihin storage hantu itu.
🇳🇱🤝🇩🇪 La princesa Amalia de Holanda deslumbra en el banquete de Estado ofrecido al presidente federal de Alemania en el Palacio Real de Ámsterdam. En esta ocasión, la joven heredera ha posado sobre su cabeza la célebre Tiara de las Estrellas. Fue precisamente con esta diadema con la que la princesa se convirtió en toda una sensación durante la celebración de la mayoría de edad de Ingrid de Noruega, una gran noche de gala marcada por un espectacular despliegue de diamantes. Ya entonces lució esta joya histórica, la misma que adornó a la reina Máxima el día en que pronunció su romántico 'sí, quiero' al rey Guillermo Alejandro de los Países Bajos.
Considerada una de las piezas más emblemáticas de la Casa de Orange-Nassau por formar parte de las joyas de la Corona, la tiara está elaborada en oro blanco y diamantes. Su diseño se compone de una estructura de la que emergen cinco motivos en forma de estrella —o, alternativamente, cinco botones de perlas—, elementos característicos de esta versátil joya. Estas piezas pertenecieron a la reina Emma, tatarabuela del rey Guillermo Alejandro, y han pasado a formar parte del legado histórico y sentimental de la familia real neerlandesa.
Imagen: Patrick Van Katwijk.
Pertanyaan bagus, dan jujur jawaban detailnya susah ditebak. Karena kalau rupiah beneran tembus 20.000, dampaknya nyebar ke mana-mana. Harga barang impor naik, beban subsidi energi meledak, daya beli kelas menengah tambah turun, dll. Tapi yang lebih penting dari "apa yang akan terjadi" adalah fakta bahwa kita sudah mengarah ke sana, dan faktor penyebabnya bisa kita identifikasi dari sekarang.
Hari ini, 3 Juni 2026, rupiah ada di kisaran 17.900 per dolar, rekor terlemah sepanjang sejarah. Sejak awal tahun aja udah ambruk sekitar 6,8% dari posisi akhir 2025 di 16.670. Jarak dari sini ke 20.000 tinggal sekitar 12%. Kedengeran jauh? Tentu nggak, awal tahun rupiah masih di 16.670, sekarang udah 17.900. Sisa ke 20.000 tinggal 2.100 rupiah lagi.
Terus kenapa bisa separah ini? Gw lihat ada dua sisi yang jalan bareng dan saling dorong satu sama lain. Sisi pertama datang dari luar, dari global.
Kebetulan gw baru habis nonton video Leon Hartono yang rilis 29 Mei kemarin, dan dia ada ngebedah sisi ini. Inti argumennya simpel: jangan ukur kekayaan lu cuma pakai nominal rupiah, ukur pakai patokan global. Coba liat indeks dolar, yang ngukur seberapa kuat dolar dibanding mata uang-mata uang besar dunia. Sekarang angkanya di kisaran 99, padahal awal 2025 sempet di 109 dan malah anjlok ke 96 di Januari 2026. Artinya dolar lagi nggak segarang itu, tapi rupiah tetap cetak rekor. Itu sinyal bahaya.
Leon nunjukin kenapa modal asing kabur. Yield obligasi Amerika tinggi, sementara selisihnya sama obligasi kita cuma sekitar 2 persenan. Buat investor asing, ngapain nahan risiko negara berkembang kalau bedanya setipis itu? Mending balik ke Amerika. Dia juga bandingin sama mata uang yang justru kuat puluhan tahun kayak franc Swiss dan dolar Singapura. Rahasianya cuma tiga: inflasi rendah, neraca dagang surplus, dan institusi yang dipercaya.
Yang bikin gw merinding bagian akhir videonya. Leon bahas mata uang yang ambruk total kayak Lebanon dan Iran, dan akar masalahnya selalu sama: pemerintah cetak uang berlebihan sampe cadangan devisa abis, bank sentral kehilangan independensi, dan publik hilang kepercayaan. Gw nyimak sambil mikir, kok beberapa sinyal itu kerasa nggak asing ya buat kita...
Nah, sisi keduanya justru datang dari dalam negeri sendiri, dan ini yang pernah gw tulis di thesis April lalu, cuma datanya gw perbarui sampe hari ini. Fiskal kita udah ketarik kenceng. Defisit 2025 mentok di 2,92% PDB, dan asumsi APBN 2026 dibangun di atas minyak 70 dolar dan kurs 16.500. Dua-duanya udah meleset jauh, minyak nyentuh 90-100 dolar gara-gara perang di Timur Tengah. Tiap minyak naik 1 dolar, tekanan ke defisit nambah sekitar 6,8 triliun. Proyeksi pemerintah sendiri udah tunjukin defisit bisa mentok di 3,5% kalau harga minyak dan kurs terus kayak sekarang.
Dari sisi modal lebih ngeri lagi. Kepemilikan asing di surat utang negara tinggal sekitar 12,6%, terendah sejak 2006, padahal setahun lalu masih 14 persenan. Cadangan devisa yang dipake Bank Indonesia buat nahan rupiah turun dari 156,5 miliar dolar di Desember ke 146,2 miliar di April, dan BI ngaku udah bakar sekitar 10 miliar dolar buat intervensi. Inget ancaman MSCI mau nurunin Indonesia ke status frontier yang bikin pasar panik Januari kemarin? Itu untungnya batal, status kita ditahan di emerging bulan Mei. Tapi rupiah tetap jeblok juga. Artinya masalahnya lebih dalam dari sekadar satu indeks. Dan diam-diam, makin banyak utang pemerintah yang dibeli BI sendiri, sampe muncul pertanyaan soal independensi bank sentral. Inget tiga akar masalah versi Leon tadi?
Jadi balik ke pertanyaan awal. Yang paling nyesek bukan cuma angka 20.000-nya. Rupiah sekarang cetak rekor terlemah lawan dolar Singapura di 14.000 dan ringgit Malaysia di 4.500. Bukan cuma lawan dolar AS.
Pemerintah dah gerak sih, seperti kita tau ada aturan wajib parkir hasil ekspor mulai 1 Juni, Danantara digerakkan beli saham di bursa buat nahan IHSG, ada BI Rate di 5,25%. Tapi Moody's hari ini kasih Danantara outlook negatif, langsung ngikutin kondisi Indonesia. Artinya lembaga yang dipake buat nahan masalah kredibilitasnya sama persis kayak masalah yang mau ditahan. Pertanyaannya: cukup nggak semua itu, sebelum 20.000 berubah dari skenario jadi headline?
In recognition of outstanding service by those working in foreign affairs and overseas, The King and The Duke of Kent have attended a service for The Order of St Michael and St George at St Paul's Cathedral.
The Order was founded by The Prince Regent, later King George IV, in 1818.