"Kira-kira, solusi apa yang diberikan Mas Romo kepada kita semua?"
Tanya Sapto
Maman mendatangi mereka sambil membawakan makanan dan wedang untuk melengkapi obrolan hangat ini,
"Maman, duduklah, bergabunglah dengan kami," Ucap Romo
"Njeh, mas."
Maaf, ada typo.
Isteri Pak Suroso bernama Bu Yati
Dan Isteri Pak Mulyo bernama Bu Wati.
Yang akan disantet itu Pak Mulyo dan Bu Wati. Dan Bu Yati yang akan dijadikan batu loncatan dari santet itu.
Maaf sekali, saya kurang fokus.
Kesehatan saya belum benar-benar pulih.
"Dan aku rasa, malam ini tidak ada penyerangan,"
Tambah Romo sambil beranjak bangkit dari duduknya, Maman pun menggeser kan tubuhnya untuk membiarkan Romo leluasa berjalan
"Sumerep telah tahu kedatanganku, tinggal saatnya kita mempersiapkan diri untuk menyerang balik,"
Tambahnya
Tersisa dua boneka lagi yang belum sempat dihancurkan karena Maman telah mengetahui jejak serangan musuhnya,
"Saat ini, kita menunggu waktu yang tepat, kita harus mencari pion lagi untuk dijadikan konflik terbaru,"
Senyum Mbah Sumerep
Maman memperhatikan satu demi satu luka yang ada di tubuh Pak Suroso. Dia mengidentifikasi kematian Pak Suroso dengan teliti,
"Makhluk itu membunuh Pak Suroso dengan cara membungkam mulutnya. Peredaran darahnya terhambat, gendang telinganya pecah, hidungnya berdarah,"
Ucap Maman
Bersamaan dengan itu, pintu depan padepokan Mbah Sumerep terbuka lebar hingga menyebabkan suara yang mirip seperti ledakan,
Tentu saja Ramli dan Citra sangat ketakutan mendapati makhluk peliharaan Mbah Sumerep yang diyakini sebagai senjata utamanya dalam membunuh korban-korbannya
"Ojo diwuka matamu!"
(Jangan dibuka matamu!)
Teriak Mbah Sumerep
"ARGHHHHHH!"
Teriak Ramli dan Citra ketika mulutnya dihinggapi tangan berukuran besar dengan kuku-kuku yang sanga tajam.
"Udu kuwi! (Bukan itu!)
Bukan itu korbannya!"
Teriak Mbah Sumerep sambil mengangkat boneka
"Kita lihat, siapa yang akan bertahan hingga di akhir hayatnya! Sapto dengan kebodohannya atau Kirana dengan kepolosannya?"
Ucap Mbah Sumerep
Citra langsung menodongkan keris yang terletak di meja kepada Mbah Sumerep
"Aku tidak bilang untuk membunuh Sapto!"
Ucap Citra
"Kamu tidak salah, mas. Kamu benar, tapi kamu selalu saja telat membaca analisa, situasi dan kondisi kejadian tadi. Buhul itu berada pada Ramli, mustahil kamu bisa menemukannya,"
Jelas Maman
"Lalu, bagaimana sekarang?"
Tanya Sapto
"Malam ini mereka akan datang,"
"Mereka? Siapa?"
Dimana buhul itu berada?
Maman terus berpikir, dia mencoba untuk mencocoklogikan segala kejadian.
"Jamu, air, Obat Penyembuh Santet, wadah, Citra, Ramli, malam ini, ketemu .... !"
"BUHUL ITU DISEMBUNYIKAN RAMLI BERSAMA OBAT YANG DIBERIKAN MBAK CITRA!"
Senyum Maman
"Cepat tinggalkan! Kita harus selamatkan Yati terlebih dahulu!"
Jelas Pak Suroso
"Baik, pak."
Mereka berdua pun meninggalkan Ramli yang sudah tak berdaya, Ramli merasa kecewa terhadap mereka berdua,
"Awas saja kalian, tunggu giliranku membalasnya!"
Ucap Ramli
"Ramli! opo sing kowe lakoni ning Pawon?"
(Ramli! Apa yang kamu lakukan di dapur?)
Tanya Kirana
"Uhuk ... Uhuk .. "
Tiba-tiba saja Ramli langsung batuk. Sontak saja hal ini membuat Mbak Kirana dan Maman heran, mengapa Ramli bisa ikutan seperti Pak Suroso?