"Napas hari ini membawa kabar tentang penerimaan. Kupasrahkan bahagiamu pada takdir yang baru, sembari kupeluk rindu agar ia belajar mereda dalam diam."
Stories I 3 I
Waktu terus bergulir tanpa terasa, hingga hari itu tibaβhari di mana aku kembali melangkah untuk menemuinya, di tempat yang berbeda.
Siang itu cuaca sedikit mendung, seolah menyelaraskan diri dengan riuh di dadaku. Langkah kakiku membawaku menuju pintu kedatangan. Setelah seluruh barang bawaan diperiksa ketat, petugas mengarahkanku ke meja resepsionis untuk menyerahkan kartu identitas dan mencatat maksud kunjungan. Sepuluh menit menunggu di sana terasa begitu lambat dan menyiksa.
Begitu izin masuk diberikan, aku dilangkahkan menuju sebuah lapangan terbuka di antara hiruk-pikuk orang-orang yang juga sedang berkunjung. Mataku bergerak liar mencari keberadaannya.
Saat pandangan kami bertemu, dia menoleh dan mendapati sosokku. Sebuah lambaian tangan menyapa, disusul senyum polos dengan mata yang sedikit menyipit. Aku membalas lambaiannya dan berjalan makin dekat.
Namun, makin dekat jarak kami, makin jelas pula apa yang tersembunyi di balik senyum sederhananya itu. Masih ada beban teramat berat yang tersimpan rapi di balik tatapannya.
Kutatap penampilannya hari itu: rambutnya yang plontos, matanya yang menyipit, senyumnya yang terasa getir, dan kakinya yang polos tanpa alas. Di sana, cerita baru di antara kami dimulai kembali tanpa perlu banyak kata.
Di atas lantai lapangan tempat kami akhirnya duduk saling berhadapan, dunia di sekeliling kami seolah perlahan memudar. Aku memandangi wajahnya yang letih. Tanpa mampu menyusun banyak kata, aku hanya tersenyum hangat kepadanya, berusaha menyalurkan sisa keteguhan yang kupunya.
"Semangat ya," ucapku pelan, memecah hening di antara kami. "
Tidak lama lagi semua akan berakhir. Kamu harus kuat, aku yakin kamu pasti bisa."
Waktu satu jam yang dialokasikan berlalu tanpa belas kasihan, sementara hanya beberapa kata itu yang sanggup meluncur dari bibirku. Lidahku terlalu terikat oleh rasa haru dan kepedihan yang menumpuk. Padahal, tepat saat mata kami saling mengunci di jarak sedekat ini, yang paling ingin kulakukan hanyalah menarik tubuhnya ke dalam pelukanβmemeluknya erat untuk menggantikan jutaan kata yang tak sempat terucap.