#OTD tahun 682 adalah hari ketika angka "0" yang disimbolkan dengan lingkaran kecil dipahatkan pertama kali pada sebuah batu yang menandai perjalanan suci (siddhayātra) Ḍapunta Hiyaṃ Śrī Jayanāśa pada bulan Waisāk.
Peristiwa tanggal 23 April 682 (sisi yang terlihat pada gambar di bawah):
Çakavarsâtīta 604 ekâdaçi çuklapaksa vulan vaiçâkha dapunta hiyam nâyik
di sàmvan manalap siddhayātrā.
Prasasti Kêdukan Bukit secara keseluruhan mencatat kisah perjalanan suci seorang penguasa Sriwijaya untuk memperoleh kekuatan supranatural (siddhayātra, perjalanan ritual), yang diikuti oleh prosesi militer besar-besaran dari Minanga menuju pendirian wanua di lokasi tujuan (kemungkinan dekat dengan lokasi prasasti ditemukan).
Perhatikan Prasasti Sambor K-127 yang menggunakan titik untuk simbol angka "0". Jadi untuk angka "0" Sriwijaya menggunakan lingkaran kecil (berdasarkan foto terbaru yang diambil ternyata ada kesalahan baca di masa lalu karena erosi pada simbol lingkaran kecil). Selain Kêdukan Bukit, dua prasasti lain yang menggunakan angka "0" adalah Prasasti Talang Tuwo (606) dan Prasasti Kota Kapur (608).
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
Orcas eat great white sharks. They hunt seals, dolphins, and baby whales. They have never killed a single human in the open ocean. Not once, in all of recorded history.
An orca's brain weighs up to 15 pounds. Yours weighs about 3. They have roughly double the brain cells we do in the regions that handle complex thought. A neuroscientist at Emory named Lori Marino put an orca brain in an MRI and found these animals can tell different species apart underwater. They do it by sending out clicks that bounce off everything around them and come back as a kind of 3D sound map (this is called echolocation). From 500 feet away, an orca knows you're a human and not a seal. It skips you on purpose.
The answer is culture. Orcas around the world are divided into at least 10 separate populations, each with its own food rules, its own language, and its own way of hunting. All of it learned from their mothers. One population eats only fish. Another eats only marine mammals like seals and sea lions. These two populations can live in the exact same water and never swap a single meal. A baby orca learns what food is from its mother, and that list stays the same for life.
In the Pacific Northwest, one population called the Southern Residents eats almost nothing but Chinook salmon. Scientists have documented them killing harbor porpoises 78 times over six decades, carrying the dead porpoises in their mouths, and never once eating them. Even when the group was starving. A 2023 study in Marine Mammal Science looked at all 78 cases and concluded it was play. These orcas would rather go hungry than eat something their culture says isn't food.
Researchers studying whale behavior in 2001 found that orca cultural traditions "appear to have no parallel outside humans." Each family group has its own dialect, its own version of the language. Calves spend about two years just learning how to make all the sounds their family uses. Mothers will slow down a hunt on purpose so their young can watch.
In 2005, a 12-year-old kid was swimming in Helm Bay, Alaska when an orca came at him full speed. At the very last second, the orca seemed to realize it was charging a human. It bent its entire body in half and turned back to open water. In captivity, it goes differently. SeaWorld's Tilikum killed three people during his life in a concrete tank. Research from 2016, published in the journal Animals, traced it to psychological collapse from being locked away from the family bonds orcas need to stay stable.
I think calling this a "mystery" undersells the science. Orcas decide what to eat based on culture, not instinct. No orca mother has ever taught her calf to hunt humans, so no orca hunts humans. Only about 75 of those salmon-eating Southern Residents are still alive. Their pregnancy failure rate is 69% because we've destroyed their salmon runs. They won't break their food culture to survive. Whether we care enough to protect theirs is the part that actually matters.
The sun dictates our night and day. It is the source of life on earth. The trees, the flowers, and creation itself seek its light. Without the sun, we are nothing but dust. And the suns wrath is powerful to destroy us instantly.
The worship of the sun seems pretty logical to me.