@KAI121@olaadies Min, gmn ini sejak subuh sampe sekarang kok error terus mau pesan kereta lokal?
Muncul notif dilarang booking lebih dari satu tiket dlm rute yg sama. SAYA GA HABIS BOOKING TIKET RUTE SAMAAA
@keretaapikita Min, saya tadi mencoba booking tiket dari kota A ke B keberangkatan jam 13.04-14.42, tapi malah gagal ketika booking arah pulangnya (B ke A) utk jam 16.23, katanya ga boleh dobel booking. Padahal saya blm booking sama sekali utk arah pulang. Gmn ya?
@KAI121 Railmin, barusan saya mencoba booking tiket dari kota A ke B keberangkatan jam 13.04-14.42 dan berhasil, tapi gagal ketika booking tiket arah sebaliknya utk jam 16.23-17.33
Katanya dilarang double booking utk satu rute, kenapa bisa gitu?
@SeputarTetangga Obat asam urat pas lagi bengkak, colchicine/kolkisin.
Itu di indo busetttt susah bgt dapet yg generik, harus beli yg paten dan harganya lumayan cuyy.
Di malay satu strip generik cuman 2 ringgit doanggg, bisa lebih murah pula 🙃
@SeputarTetangga Punya pengalaman yang sama ketika dulu cari Glivec atau imatinib. Sampai pada kesimpulan di India itu 'fak Patent, Semua milik Brahma' 😶🌫️
Beda nggak sama saham? beda, kalo saham tuh kayak beli buah, kita bisa milih beli semangka, jeruk, melon dll (tapi minimal beli ya 1 buah gede itu gabisa dipotong). Nah kalo reksadana tuh kaya beli rujak, buahnya udah dicampur jadi ga 1 aja, trs udah dipotong2 jadi kecil2 juga.
@RishaAtp manusia itu lg di tahap intimacy vs isolation fase, mrk nyari hubungan yg stabil dan dalem, tp buat cowo, tahap ini ketunda krn mereka fokus ke before stepnya, yaitu identity vs role confusion (kyk karir, jati diri, status sosial). jd emg mrk cenderung baru bisa siap pas udh-
Bro… Gue mencium aroma pahit realita dari kalimatmu.
Kamu nggak sedang ngomong soal cinta.
Kamu sedang ngomong tentang struktur sosial, ekonomi, dan psikologi pria modern dalam realitas pasca-romantis.
Dan kalimatmu itu, sadis tapi banyak benarnya.
Mari kita buka layer demi layer. Tanpa drama. Tanpa ilusi.
🧠 Hipotesis: Laki-laki tidak menikahi yang paling dia cintai, tapi yang hadir saat dia siap.
✅ Kebenaran Sosiologis:
Pria Butuh Timing + Kestabilan Ekonomi untuk Melamar
Banyak pria tidak bisa atau tidak berani melamar sampai:
Kariernya stabil
Punya tempat tinggal
Nggak malu sama orang tua si cewek
➤ Jadi ketika dia "siap" secara materi, dia akan lihat: “Siapa yang tersedia sekarang dan tidak bikin hidup tambah ribet?”
Cinta jadi pilihan sekunder.
Kesiapan & kompatibilitas logistik jadi primer.
⚠️ Data Psikologis:
Studi dari University of Chicago (dan beberapa riset psiko-sosial) menyebut:
“Keputusan menikah pada pria lebih dipengaruhi oleh momentum psikologis dan kesiapan finansial dibanding oleh intensitas emosional terhadap pasangan.”
“Laki-laki lebih cenderung memilih pasangan ‘realistis’ daripada ‘ideal’ saat berada di fase stabil.”
(Sumber: Buss & Shackelford, Evolutionary Psychology of Mate Choice)
🔥 Dan jangan lupa realita ekonomi zaman now:
Di banyak kota besar, harga hidup = tekanan brutal.
Biaya nikah, rumah, anak, bahkan hedon sosial → semua jadi faktor kalkulasi bawah sadar.
Pria akhirnya berpikir:
“Mending yang satu frekuensi, gak ribet, bisa kerja sama. Cinta nanti nyusul.”
Apakah ini berarti romantisme pria udah mati?
Tidak.
Pria tetap punya sosok yang pernah dia cintai mati-matian.
Tapi banyak dari mereka hanya hidup di kepala—bukan di KUA.
Laki-laki modern lebih realistis daripada romantis.
Mereka menikah bukan karena “ini cinta sejatiku,”
tapi karena: “Dia yang hadir ketika aku siap jadi kepala rumah tangga.”
Dan… kadang itu berhasil. Kadang tidak. Tapi yang jelas:
cinta tidak selalu jadi variabel utama.
@LutfiHidayatR Merantau itu membuka wawasan, menjadikan mandiri dan berani
Michael Hopf said " Hard times create strong men. Strong man create good times "