#Terpopuler Joko Widodo disebut mengalami alergi kulit yang memicu peradangan. Dokter kulit mengungkap gejala alergi kulit yang perlu diwaspadai.
https://t.co/UyK2pyKkAF
Kami Tidak Ingin Engkau Sakit, Kami Hanya Ingin Engkau Jujur
---
Kami bukan gerombolan pembenci.
Kami bukan mereka yang bersorak ketika engkau sakit, apalagi menginginkan engkau mati dalam hina.
Kami adalah anak-anak cahaya.
Yang dibentuk oleh zaman kelam, tapi tidak membalas dengan kegelapan.
Kami adalah suara dari masa depan, yang hanya menuntut satu hal:
Jujur.
Kami Tidak Ingin Engkau Sakit
Kami tahu, tubuhmu mungkin rapuh hari ini.
Kami mendengar bahwa kulitmu melepuh, matamu redup, tubuhmu menolak perawatan.
Tapi kami tidak gembira.
Kami tidak bersuka cita atas kelemahan jasadmu.
Karena kelemahan tubuhmu bukan kemenangan kami.
Yang kami lawan bukan tubuhmu , tapi kebohongan yang engkau pelihara.
Yang kami ingin jatuh bukan engkau , tapi sistem yang engkau biarkan menyakiti rakyat.
Kami Hanya Ingin Engkau Jujur
Jujurlah, bahwa ijazahmu palsu.
Jujurlah, bahwa engkau tahu siapa yang menunggangi kekuasaanmu.
Jujurlah, bahwa engkau bukan lagi pemimpin yang merdeka.
Dan jika engkau memang bukan dalangnya,
maka jujurlah bahwa engkau telah menjadi alatnya.
Jujur bukan untuk rakyat.
Bukan untuk kami.
Tapi untuk jiwamu sendiri, agar engkau kelak bisa pulang kepada Tuhanmu tanpa beban.
Maka Hari Ini Kami Nyatakan
Kami tidak akan berdoa agar engkau jatuh karena penyakit.
Tapi kami akan terus bersujud agar kezaliman yang engkau lindungi jatuh karena kebenaran.
Kami tidak menuntut kematianmu.
Tapi kami akan terus menuntut kejujuranmu, agar langit mencatat bahwa masih ada satu manusia yang berani mengakui kesalahannya di ujung hayat kekuasaannya.
Ini Bukan Perang Politik. Ini Penjernihan Bangsa.
Kami tidak ingin membalas.
Kami ingin menyembuhkan.
Tapi penyembuhan bangsa tidak akan terjadi selama engkau masih diam atas kebohonganmu sendiri.
Dan langit pun tidak akan turun membantu negeri ini selama engkau masih berdiri sebagai penghalang kebenaran.
Maka, sebelum tubuhmu benar-benar dihentikan oleh langit,
segeralah bicara, bukan di hadapan kamera,
tapi di hadapan Tuhan.
Dan kami akan jadi saksi bahwa engkau pernah memilih untuk jujur, meski sekali saja, di akhir waktumu.
SANGKAKALA ZAMAN KEBENARAN
Suara Langit dari Tengah Bangsa yang Dikhianati
Tifauzia Tyassuma
Mereka Terlambat. Langit Sudah Bergerak.
Jangan kau sangka kezaliman akan terus berkuasa.
Jangan pula kau kira kegelapan tak terjamah.
Karena langit telah bergerak. Dan bumi tak bisa lagi menanggung dusta.
Langit telah memukul sangkakalanya.
Suaranya menggema ke segenap penjuru.
Lalu terbitlah tiga tanda pertama yang tak bisa dibohongi:
1. Tubuh yang Hancur
Tubuhnya menolak kekuasaan yang dijalankan dengan kebohongan.
Wajahnya bukan lagi wajah kepemimpinan, tapi wajah tumbal yang diseret takdir.
Karena ruh amanah telah dicabut dari dirinya.
“Ketika tubuh mulai rusak, berarti perjanjian langit sudah dibatalkan.”
2. Rakyat Mulai Gelisah
Sihir mulai pecah. Aura kepalsuan tak lagi mempan.
Yang tersisa adalah jiwa-jiwa yang bergetar, menyadari bahwa mereka sedang ditipu oleh berhala kekuasaan.
Rakyat mulai bertanya:
Kenapa pemimpinku begitu? Siapa sebetulnya yang selama ini kujadikan panutan?
Itulah ruh bangsa yang mulai bangkit. Inilah tanda kedua.
“Ketika rakyat mulai gelisah tanpa sebab, itu artinya suara langit sedang masuk ke dalam batin mereka.”
3. Dunia Mulai Menyaksikan
Semua yang disembunyikan kini dibuka.
Kebusukan ijazah, korupsi kuasa, kematian rakyat, tak bisa lagi ditutup dengan panggung istana.
Kamera dunia mulai menyorot. Pena sejarah mulai menulis.
Bukan kita yang membongkar. Tapi langit yang menelanjangi.
“Ketika seluruh dunia mulai menyaksikan, maka semua panggung sedang dibuka menuju akhir zaman kepalsuan.”
Maka apa artinya panggilan pemeriksaan?
Apa artinya kriminalisasi terhadap kebenaran?
Itu bukan kekuatan. Itu sisa amukan sistem yang sedang sekarat.
Mereka menyerang karena takut. Mereka menekan karena gentar.
Bukan pada kita. Tapi pada suara kebenaran yang tak bisa mereka kendalikan.
Inilah Sangkakala Itu.
Bukan bunyi sangkakala kematian.
Tapi sangkakala kebangkitan.
Zaman kebenaran telah datang.
Ia tak akan dihentikan oleh pangkat, pasal, atau pengadilan palsu.
Kita berdiri bukan karena kuat. Tapi karena Allah sudah menurunkan tanda-Nya.
@DokterTifa Drama perjalanan ini cukup menarik dan masih panjang. Sebaiknya bentuk Team Pencari Fakta Independen beranggotakan semua elemen yg terlibat dan bekerja bersama
Saya datang ke Solo tgl 22 Mei, leher dan wajah Pak Jokowi sudah terlihat ada bercak merah. Tidak ada hujan tidak ada angin, 29 Mei Pak Roy Suryo bahas “Santet dan Glembuk Solo”.
Sesama anak bangsa, kita saling mendo’akan agar kita terhindar dari perbuatan2 syirik dan musyrik!
@DokterTifa@DokterTifa - klo begini kondisinya - apakah kasus ijazah palsuakab berhenti dengan kekuasaan Tuhan. Semoga Jokowi panjang umur walaupun sakit.