PSSI secara resmi mengancam akan menjatuhkan sanksi pengurangan poin bagi klub-klub sepak bola Indonesia yang gagal menertibkan suporternya. Langkah tegas ini diambil menyusul maraknya aksi kekerasan anarkis antaroknum suporter di luar stadion yang dinilai sudah menjurus ke ranah kriminalitas. PSSI berharap ancaman sanksi radikal ini dapat memicu tanggung jawab penuh jajaran manajemen klub demi menjaga keselamatan ekosistem sepak bola nasional.
Selain pemotongan poin, insiden kekerasan ini juga mengancam keberlangsungan regulasi izin kehadiran suporter tandang (away). Kebijakan kuota penonton tandang yang baru saja dibuka kembali musim ini berpotensi besar untuk dihapus total jika situasi keamanan tidak kunjung kondusif. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan pihak liga dan klub akan dievaluasi ketat karena kesepakatan awal terkait jaminan keselamatan harus dipenuhi secara konsisten.
Oleh karena itu, wacana regulasi baru ini harus dikaji secara matang terlebih dahulu karena penyelesaian masalah tidak bisa bertumpu pada aspek hukuman sepihak semata. PSSI bersama klub wajib merumuskan langkah mitigasi konkret, seperti pengawalan ketat rute perjalanan hingga jaminan perlindungan di area transit. Fokus utamanya tidak boleh sekadar mencari siapa yang harus dihukum, melainkan membangun sistem pengamanan dan edukasi yang menyeluruh demi keselamatan bersama.