@Partono_ADjem 5% nyet, dikira 4% yg dibayarin perusahaan lu yg bayarin. Lagian ngapain lu repot2 ngurusin yg BPJS yg bayar. BPJS itu sistem nya uang gotong royong, lo kira dr 32,99JT anggota BPJS yg bayar, semua nya pada sakit, kan engga nyet. Kalo masalah bayaran, ya lu komplennya ke BPJS.
Teman-teman dokter, teman-teman nakes.
Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi.
Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional.
Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien.
Sakit itu Tidak Enak.
Badan terasa asing. Pikiran penuh ketakutan. Waktu berjalan lebih lambat. Bahkan bagi kita yang setiap hari bekerja di rumah sakit, sejujurnya menjadi pasien adalah salah satu hal yang paling kita takuti.
Kita memahami keterbatasan fasilitas. Kita tahu rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS. Kita mengerti perpindahan kamar membutuhkan proses. Kita tahu padatnya IGD, rumitnya rawat inap, dan betapa banyak hal harus dikerjakan dalam waktu bersamaan.
Kita tahu semua itu.
Tapi pasien kan enggak.
Pasien hanya melihat keluarganya kesakitan. hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, berapa lama harus menunggu, dan apakah ada seseorang yang sungguh peduli kepada mereka.
Sering kali, cukup kata-kata kita,
“Mohon maaf ya, Pak, Bu. Saat ini prosesnya masih berjalan. Kami masih menunggu kamar tersedia. Perkiraannya sekitar satu jam (atau berapapun jam) lagi. Kami akan terus memberi kabar.”
Bagi orang yang sedang takut kejelasan adalah bentuk kasih sayang.
Nada suara yang lembut adalah obat pertama. Penjelasan yang apa adanya itu membuat menunggu terasa lebih manusiawi.
Hubungan kita dengan pasien tidak dibangun seperti hubungan atasan dan bawahan. Kita adalah partner. Kita berdiri di sisi yang sama, bahu-membahu melawan penyakit.
Kita mengerjakan bagian kita dengan ilmu, keterampilan, dan hati. Pasien menjalankan bagiannya dengan kepercayaan, keberanian, dan kesabaran.
Keduanya sama-sama berjuang.
Dan ketika perjuangan itu berhasil, ketika seorang pasien sembuh dan akhirnya pulang, kembali memeluk keluarganya, kembali bekerja, kembali menjalani hidupnya, itu perasaan BAHAGIA yang tiada dua.
Itulah salah satu alasan kita memilih jalan ini.
Lalu ketika ada pasien menyampaikan keluhan di media sosial, bahkan ketika nama rumah sakit atau BPJS ikut disebut, mengapa kita harus begitu mudah tersulut?
Mengapa kelelahan kerja harus dituangkan menjadi kata-kata yang kejam dan jahat?
Lelah dapat dipahami. Marah dapat terjadi. Frustrasi adalah bagian dari hidup.
Namun Merendahkan pasien, Mempermalukan orang yang sedang sakit, atau melontarkan kalimat yang melukai martabat manusia, tidak memiliki pembenaran dari sisi mana pun.
Pasien kan salah satu jalan datangnya rezeki kita.
Allah selalu mengirimkan rezeki melalui tangan manusia. Dan rezeki kita, para tenaga kesehatan, datang melalui manusia yang sedang sakit, takut, rapuh,dan membutuhkan pertolongan.
Maka sesungguhnya pasien adalah ladang karunia kita.
Melalui mereka, ilmu kita memiliki arti. Melalui mereka, tangan kita dapat menolong. Melalui mereka, kesabaran kita dilatih. Melalui mereka pula, terbuka begitu banyak kesempatan untuk mendapatkan pahala.
Jadi ayo kita sayangi pasien-pasien kita.
Bagi kita, mungkin mereka adalah pasien ke empat puluh hari itu.
Namun bagi mereka, hari itu mungkin adalah salah satu hari paling menakutkan dalam hidupnya.
Pertolongan kita harus selalu dimulai dari rasa kemanusiaan.
Gue baru nyadar satu hal, orang yang hobi baca biasanya kalau ngetik juga rapi banget. Bahkan di WA pun jarang pakai singkatan aneh-aneh.
Kayak ada kepuasan tersendiri buat mereka kalau bisa nulis dengan ejaan lengkap. Bener nggak sih?
Aku setuju dengan kakak ini. Gini loh yg namanya kesetaraan gender tuh. Selagi perempuan tidak sakit, hamil, dan masih mampu (kuat), laki-laki juga punya hak untuk duduk dan istirahat apalagi posisinya dia duluan yg dapat tempat duduk.
Gerbong campuran, tapi empatinya
kadang masih pilih gender.
Tadi ada mas tidur pulas dibangunin buat kasih kursi ke lansia. Padahal masnya diujung dan di dekat lansia semua penumpang cewe yg sibuk ketawa dan main hp. Pas masnya bangun, keliatan bukan cuma kaget tapi kayak ga enak badan.
kemudian Kursi depan kosong, saya suruh duduk lagi. Tapi ibu di sebelah malah nyari cewek buat duduk di sampingnya. Saya cuma bilang,
“Itu kursi bukan buat cewek doang, Bu.”
Menurut kalian, saya salah nggak?
cc:threaditspamud
Bulan lalu dimarahin chatjipiti pas curhat masalah wajah yg breakout tiba-tiba, katanya kurang minum dan suka begadang. Langsung tobat tuh bentar, minggu ini balik lg jam 1 malem wajah masih diterpa sinar layar HP sambil lampu kamar mati 🙂
260603 elputrasarira instagram broadcast
Dulu waktu nonton idol X terus nonton kak @/zivamagnolya perform lagu ini, jadi suka banget sama versinyaaa
🎶 Ratu - Dear Diary (Cover by #elputrasarira)
#elcast
Baru 2 malem balik nginep ke rumah krn abis renov, 2 malem juga dengerin suara anjing tetangga melolong ampe tengah malem. Pas di rumah ibu kemarenan suara kucing ribut berisik bgt tiap malem.
Deg-degan terus tiap mantengin postingan mba Ika soal Satine yg mau dibikin film. Soalnya belum bisa ngebayangin Ash itu siapa selain El Putra, sebelum ada cast revealnya (walaupun El Putra kemudaan buat jadi Ash, ceunah 🥹)
dalam Islam, perempuan tidak diwajibkan untuk bekerja keras, dia menjadi tanggung jawab ayahnya saat masih lajang, setelah menikah dia menjadi tanggung jawab suaminya, tapi di jaman skrng, seolah bekerja adalah harga diri setiap orang bahkan perempuan.
Ternyata omongan Raditya Dika di salah satu podcast tentang 'gue nggak mau terlalu tahu urusan orang lain, dan gue juga nggak mau semua orang tahu urusan gue' sebenarnya ada kaitannya sama personal boundaries yang sehat.
Karena makin ke sini, banyak orang sadar kalau terlalu banyak terlibat dalam hidup orang lain atau terlalu membuka hidup sendiri justru bisa bikin mental cepat lelah.
Terlalu banyak opini, perbandingan, komentar, sampai rasa tidak nyaman karena merasa hidup terus diperhatikan.