soal ini juga harus berlaku di restoran.
beberapa kali aku makan di restoran, saat tanya ke pramusaji bagaimana dengan makanan A, B, atau C mereka tidak tau.
kemarin baru saja kejadian, ada yang menjawab "maaf kak, saya belum coba, kakaknya mau coba?" sedih dengarnya. jadinya aku hanya memesan apa yang sudah pernah mereka coba.
untukku pribadi, aku ga nyaman ketika yang mengantarkan makanan untukku, belum mencoba makanan tersebut.
buat pengusaha resto, saat kamu menyetujui seseorang menjadi karyawan pramusaji, berikan dia 3 hal.
pertama, gaji yang pantas. kedua, edukasi produk. ketiga, izinkan mereka menyicip walau sesendok dua sendok.
mereka garda terdepan untuk melayani dan menawarkan apa yang paling oke di lembar menu restoranmu.
paling berapa piring yang harus disediakan saat training, anggap makan-makan sekaligus bercengkrama bersama.
orangtuaku punya resto, ada satu menu yang kami sepakati paling enak namanya daging bumi hangus, dan ini tergolong lumayan harganya.
di hari pertama pramusaji diterima, mendiang ayah dan ibuku beli banyak sekali daging untuk dimasak bumi hangus dan dimakan bersama.
cara supaya ketika ada yang tanya "apa itu daging bumi hangus?" pramusaji jawab dengan experience mereka sendiri, bukan penjelasan dari ayah ibuku atau catatan yang disediakan.
Rasanya sulit untuk menyederhanakan bahwasannya diperlukan banyak hal untuk mengerti akan perbedaan itu. Saya sepakat dengan kalimat dari seorang komika, "Seni menjadi dewasa adalah berani menjilat ludah sendiri". Sekali lagi, tak mengapa. Berbeda pun tak apa. Salam. 2/2
Semuanya dinamis. Segala yang berbeda saat kini dan nanti tak serta merta dapat disebut plin-plan. Banyak hal yang mendasari yang mungkin tak semua bisa atau mau memahami. Tak mengapa. 1/2
About Time masih menjadi salah satu film romance terbaik yang pernah kutonton.
Manis sekali, hangat sekali & comforting sekali 🫶 https://t.co/JNleMQ3f6T
Ekspektasi harga kita dan realita, sering kali bagai langit dan bumi.
🗣️ "Yuk makan di resto itu. Kata orang sih mahal ya. Tapi paling mahal berapa sih, burger 100rb udah mahal bangettt ya kan."
Pas buka buku menu, burger 350.000.
Trus marah-marah di social media.
Padahal ya ekspektasi kita yang kemurahan Pak. Ga sesuai sama realita.
Saatnya buka mata.
Saya ga lagi bahas soal burger ya.
Running itu olahraga yang menggerakkan perekonomian.
Pelari beli sepatu di toko olahraga.
Beli outfit lari juga: baju, celana, topi, sport bra.
Distributor dapet order terus dari toko.
Brand dapet data penjualan trus launching produk baru.
Toko, distributor dan brandnya bisa bayar gaji karyawan.
Beli air mineral, isotonik, energy bar.
Nongkrong di kedai kopi/cafe sesudah lari.
Pelari beli smartwatch atau fitness tracker.
Beli earphone wireless buat temen lari.
Download aplikasi lari berbayar.
Langganan premium di app kesehatan.
Beli suplemen atau vitamin penunjang.
Bayar foto hasil fotografer sport.
Pakai jasa coach berbayar.
Ikut event fun run/marathon, beli tiket.
Beli jersey official event.
Bayar transportasi ke lokasi race (ojol, mobil sewa, dsb).
Nginep di hotel atau penginapan pas race luar kota.
Pakai jasa tukang pijat pasca-race buat recovery.
Influencer lari dapet endorse, brand dapet exposure.
Temen-temen dan followers yang lihat ikutan punya hobi lari.
Komunitas olahraga tumbuh, bikin event sendiri.
Cetak kaos komunitas, order ke konveksi lokal.
Pelari jadi lebih sehat, produktivitas kerja naik.
Perusahaan dapet hasil dari karyawan yang lebih fit.
Tagihan medis turun, beban BPJS/klinik lebih ringan
Roda ekonomi muter terus...
Kesimpulan: olahraga lari itu baik.
Luna Maya nikah, banyak laki-laki komen segel rusak lah, janda lah, dll.
Padahal yang komen juga belum tentu perjaka pas nikah. Belum tentu masa lalunya suci bersih tanpa noda.
Jadi mikir, siapa sebenarnya yang rusak? Perempuan yang berani hidup dan bangkit lagi? Atau laki-laki dan society yang masih mengukur nilai perempuan dari selaput tipis dan masa lalu?
Spanduk suporter Persis Solo saat tim mereka melawan Arema FC. 😤
"Your Empathy is Empty."
"English football was reformed after Hillsborough. Nothing has changed after Kanjuruhan."
#usuttuntastragedikanjuruhan@Box2BoxBola
Francy senang sekali dengan Wuling Air ev barunya. #iklan eaa
Kemarin dia bilang begini, “Wad, gw jadi sering liat Air ev lho di mana-mana.”
Selain karena memang mobilnya populer, saya jelaskan bahwa yang dia alami itu disebut ‘The Red Car Theory’.
Bahwa ketika seseorang sedang mempertimbangkan membeli mobil merah, dia akan tiba-tiba melihat banyak mobil merah di jalanan.
“Hmm, aneh… saya baru tau banyak juga ya mobil warna merah...”
Kalian pasti pernah mengalaminya juga kan? Fenomena ini ada penjelasan ilmiahnya.
Karena begitu banyaknya data yang masuk ke indera kita, otak kita hanya bisa memproses mereka dengan mengelompokkannya menjadi kelompok-kelompok besar.
Melihat lautan mobil, otak kita hanya kelompokkan mereka jadi satu: ‘mobil’.
Namun ketika ada informasi tertentu yang mencuat/menjadi fokus kita, baru kita bisa mengenali/memisahkan mereka dari kelompok besar tadi.
Begitu otak kita aware/sadar tentang mobil X, kita mulai membagi mobil di jalanan menjadi dua: ‘mobil X’ dan ‘bukan mobil X’.
Dan tiba-tiba kita mulai melihat, mobil X mulai bermunculan. Tuing tuing tuing. Banyak banget.
Kejadian-kejadian di hidup kita, mengalami proses yang persis sama, karena, yah, otaknya kan juga otak yang sama.
Kalau kita percaya hidup ini susah, yang kita bisa lihat dari lautan peristiwa di hidup kita, adalah yg susah-susah aja.
Malah lebih parah lagi, banyak kejadian yg sebetulnya belum tentu baik atau buruk, namun kerena otak ini sedang mencari yang buruk, kita melihatnya sebagai: kejadian yang buruk.
Think about it. It’s a very logical brain process.
Mereka yg percaya bahwa dunia itu brengsek, jahat dan tidak adil, akan selalu menemukan bahwa, dunia itu brengsek, jahat dan tidak adil.
Sebaliknya.
Jika kita percaya bahwa kesempatan dan kebaikan, keberuntungan dan kemurahan, itu banyak di dunia,
maka di antara lautan peristiwa-peristiwa setiap harinya di hidup kita, kita akan bisa mengenali dan menemukan mereka.
Sedikit-sedikit hoki, sedikit-sedikit berhasil, sedikit-sedikit diajak, sedikit-sedikit bersyukur.
Dunia mereka tidak berbeda dengan dunia kita. Sama.
Hanya saja, apa-apa yang mereka percaya di setiap harinya, yang sama sekali berbeda.
🚗