@aniesbaswedan Seorang pemimpin harus memiliki "sense of crisis", sadar bahwa kondisi sedang tidak baik-baik saja. Dari kesadaran itu kemudian diambil langkah strategis untuk menuntaskan masalah.
Sialnya, pemimpin kita saat ini terlalu meremehkan krisis, tidak punya arah kebijakan yg jelas.
@ardisatriawan Awalnya bingung, kok bisa orang dengan background mentereng seperti Prof Stella mau masuk ke rezim?
Sekarang sudah terjawab, pemikirannya tidak jauh beda dengan wamen-wamen lainnya 😅
@SoundOfYogi Punya teman SMA di kelas duduk paling pojok dan kerjaannya tidur. Hidup gk ada ambisi milih kampus biasa yg dekat rumah. Lulus kuliah, lanjut bisnis transportasi bapaknya yg udah mature. Tanpa berusaha keras, kehidupannya langsung mapan. Hidup santai, safety net dari orang tua.
@thvrrand@lilaccountz Iya beras harganya sudah nggak masuk akal, padahal ini makanan pokok, kebutuhan dasar untuk hidup. Semangat dan sehat-sehat ya kak. Semoga rezekinya lancar terus 😭🥹
@yappingfess Nder, gabung ke komunitasnya. Temen aku ada yg kena vagisnismus, kemudian dia dapat terapi dari dokter. Alhamdulillah sudah punya anak, dan anakbya sehat-sehat. Ayo semangat nder
@kudanielbintik Baca postingan ini di threads, memang miris banget jadi dosen. Gaji sebulan tidak cukup dan harus cari side hustle. Untuk bisa hidup layak sebagai dosen di negeri ini seperti mimpi.
Apa baiknya dosen punya side hustle jadi kepala dapur mbg atau kopdes?
@fluoxetan Salah satu yg aku kagumi dari islam selain "haid" adalah "nifas". Allah memperbolehkan ibu yg baru saja melahirkan untuk:
Tidak puasa✅️
Tidak sholat✅️
selama 40 hari.
Islam memberikan keringanan bagi ibu untuk fokus memulihkan kondisi fisik pasca melahirkan 🫶
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.