posisi ayahnya pulang ngojol, cuma bawa lontong... dia lagi tidur di depan pintu ๐ญ๐
dia cuma makan lontong tanpa apapun tetep seneng... ๐ญ๐ yaallah...
Mau reshare lg aah
Beberapa bulan lalu, di twitter juga, gw nemu 1 google drive isinya ilmu semuaaa.
Nih langsung aja https://t.co/qEvuMTjGAP
Silakan belajar sepuasnya yaaa. Semoga bermanfaat
Silakan bookmark dan bantu repost yaa!
Konsisten journalling, tapi stop di minggu ke dua. Ujung2nya cuma jadi passive reader and listener aja.
Kadang sebel sama diri sendiri yang ga bisa berpikir runut. Mungkin bener harus mulai latihan lagi menulis, dan mengungkapkan pikiran
Jujur makin lama makin takut kalau menulis sesuatu. Karena takut salah, takut typo, takut lainnya yang sebenernya wajar kalau salah.
Kadang, karena takut-takut itu, saya jadi tidak bisa meluapkan isi pikiran dengan baik dan lengkap. Baik secara tulisan ataupun lisan
Di luar AI, tanpa sadar brainrot juga krn short content. Jadi salah satu cara biar gak brainrot banget:
- Baca buku/tulisan panjang
- Nonton film/podcast durasi panjang
- Menulis review. Yes menulis review bisa ngelatih banyak hal. Review apa pun. Nulis asal2an start dari sini
Jujur, setiap malam selalu scroll sosmed. Pindah satu sosmed ke sosmed lain dan mencari dophamine yang sebenernya ga perlu, kan mau tidur ya. Bahkan sekarang untuk nonton drakor mikir dulu, komitmen waktu yg lama buat namatin satu episode jadi makin kerasa berat
Kalian sadar gk ?
banyak daerah yg udah mulai demo tapi gk disiarkan media
Daerah yg sudah mulai Demo:
- Jakarta (Cikini Raya & Badan Gizi Nasional)
- Bandung (DPRD Jabar)
- Medan (Lapangan Merdeka)
- Kendari (Bundaran Tank)
- Semarang
Katanya mulai merembet ke Sulawesi & Sumatera juga ๐
Guys, ada momen di rapat DPR yang menurut gue paling jujur dan paling mewakili kondisi keuangan daerah yang sedang kritis tapi paling sedikit disorot media.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda bicara langsung di hadapan Mendagri, Menpan RB, dan seluruh kepala daerah. Dan apa yang dia sampaikan sangat sederhana tapi sangat berat.
Daerahnya tidak punya uang untuk bayar gaji PPPK sampai akhir tahun.
Ini kondisinya yang paling mengejutkan:
DAU Dana Alokasi Umum Maluku Utara hanya sekitar Rp960 miliar.
Tapi belanja pegawai daerahnya sudah mencapai Rp1,1 triliun.
Artinya: sebelum satu rupiah pun dipakai untuk bangun jalan, perbaiki sekolah, bayar tagihan rumah sakit, atau program apapun uang dari pusat sudah habis hanya untuk bayar gaji pegawai. Bahkan masih kurang Rp140 miliar lebih.
Dan ini bukan anomali Maluku Utara saja.
Gubernur Sulawesi Tengah dan kepala daerah lain menyampaikan keluhan yang sama.
Ini adalah kondisi yang merata di banyak daerah seluruh Indonesia.
Dan ini tentang solusi yang ditawarkan pusat yang tidak menyelesaikan masalah:
Pemerintah pusat memberikan relaksasi melongggarkan aturan penggunaan anggaran supaya daerah bisa lebih fleksibel menggeser pos untuk bayar gaji PPPK.
Sherly menerima relaksasi itu dengan apresiasi. Tapi dia langsung menyampaikan masalah yang lebih mendasar:
Relaksasi itu berarti daerah harus memotong belanja infrastruktur untuk bayar gaji. Jalan yang harusnya dibangun tidak jadi dibangun.
Jembatan yang harusnya diperbaiki tidak jadi diperbaiki. Fasilitas publik yang harusnya ditingkatkan tidak jadi ditingkatkan.
"Relaksasi yang diberikan ini adalah hal yang baik tapi akan mengorbankan belanja infrastruktur.
Dan infrastruktur itu diperlukan untuk pondasi percepatan pertumbuhan ekonomi di daerah.
Dan pertumbuhan ekonomi di daerah adalah pondasi pertumbuhan ekonomi nasional."
Artinya: solusi jangka pendek ini sedang menciptakan masalah jangka panjang yang jauh lebih besar.
Dan ini tentang DBH yang paling menyesakkan:
Sherly tidak meminta APBN membayar gaji PPPK mereka. Dia tidak minta bailout dari pusat.
Yang dia minta jauh lebih sederhana: kembalikan sebagian dari 60% Dana Bagi Hasil yang selama ini ditahan oleh pusat.
DBH adalah uang hasil sumber daya alam daerahnikel, tambang, hasil laut yang seharusnya kembali ke daerah penghasil. Tapi 60%-nya ditahan di pusat.
"Kami tidak meminta dari DAU. Kami tidak meminta dibayar oleh APBN. Kami hanya minta sebagian dari 60% DBH dikembalikan. Jika itu dikembalikan kita akan mengambil jalan tengah."
Maluku Utara adalah provinsi penghasil nikel terbesar di Indonesia. Nikel yang jadi tulang punggung hilirisasi yang dibanggakan pemerintah pusat. Tapi provinsinya tidak bisa bayar gaji pegawai.
Dan ini tentang ruang inovasi yang sudah dipersempit:
Sherly menyampaikan poin yang menurut gue paling fundamental dan paling jarang diakui secara terbuka oleh pemerintah pusat.
Ketika kepala daerah disuruh berinovasi mencari sumber pendapatan baru kenyataannya banyak kewenangan dan otoritas daerah sudah ditarik ke pusat. Ruang untuk bergerak sudah dipersempit oleh aturan yang tidak fleksibel.
Daerah disuruh mandiri tapi alatnya sudah diambil.
Daerah disuruh inovatif tapi kewenangannya sudah dipangkas.
Dan sekarang daerah disuruh cari solusi sendiri untuk masalah yang sebagian besar diciptakan oleh kebijakan pusat sendiri.
Ini bukan sekadar masalah Maluku Utara. Ini adalah potret dari sistem fiskal yang sedang tidak sehat di seluruh Indonesia.
APBN dipotong Rp306 triliun atas nama efisiensi. Transfer ke daerah menjadi yang terkecil dalam 10 tahun terakhir. DBH ditahan 60%.
Tapi PPPK yang diangkat atas kebijakan pusat gajinya harus dibayar oleh daerah yang tidak punya uang.
Dan di ujung rantai yang paling panjang dan paling tidak terlihat ada guru honorer, tenaga kesehatan, dan pegawai pemerintah daerah yang sudah bekerja berbulan-bulan dan belum menerima gaji.
Mereka bukan angka dalam spreadsheet keuangan negara.
Mereka adalah orang-orang nyata yang masih harus makan, masih punya cicilan, dan masih harus menghidupi keluarga sementara di Jakarta orang-orang berdebat tentang relaksasi anggaran.
Huiju ke ruang musik, ada Yirang & Jaegyeong. Yang piket buat ruang musik harusnya Baekhogung.
๐ฆโ๐ฅAku dihukum. Aku mukul anak Baekhogung.
๐น Namamu?
๐ฆโ๐ฅ Apa?
๐น Namamu.
๐ฆโ๐ฅ Haโฆ
๐ฆโ๐ฅ Seong Huiju, kelas 9, Jujakgung.
๐น Ternyata kamu Seong Huiju itu.