Kalau memang tidak ada niat buruk, pada dasarnya kalian boleh melakukan apa saja kok! Selama kalian juga tidak melakukannya dengan tujuan mendapatkan banyak keuntungan dari itu, benar-benar nggak masalah! 😂
Misalnya, kalau kalian mau membuat doujinshi tentang aku dan menjualnya di Comifuro, mungkin aku bahkan nggak akan menyadarinya. Selama kalian nggak bilang bahwa itu adalah produk resmi, menurutku aman-aman saja.
Tapi kalau ada yang menghubungiku secara langsung untuk meminta izin, aku nggak bisa bilang, “OK, silakan!” secara resmi... Jadi... 😭
Kalau memang tidak ada niat buruk, pada dasarnya kalian boleh melakukan apa saja kok! Selama kalian juga tidak melakukannya dengan tujuan mendapatkan banyak keuntungan dari itu, benar-benar nggak masalah! 😂
Misalnya, kalau kalian mau membuat doujinshi tentang aku dan menjualnya di Comifuro, mungkin aku bahkan nggak akan menyadarinya. Selama kalian nggak bilang bahwa itu adalah produk resmi, menurutku aman-aman saja.
Tapi kalau ada yang menghubungiku secara langsung untuk meminta izin, aku nggak bisa bilang, “OK, silakan!” secara resmi... Jadi... 😭
Income MRT itu heavy disubsidi APBD
Kewajiban bayar hutang per tahun Whoosh / km whoosh : Rp 1.2 T / 142,3 km =Rp 8.43 Miliar per km per tahun
Subsidi per tahun MRT/km MRT = Rp 700 m/ 15,7km =Rp 45 Miliar per tahun; dan ini belum pembayaran hutang.
MRT lebih mahal per km
Kenapa gak kaku? Karena gak ada atau sulitnya akses resmi, makanya fans buat infrastrukturnya sendiri. Dari mulai fantranslation, fandub, fanmerch, nobar, dll. Budaya yg dibangun adalah budaya akar rumput yang nggak disetir perusahaan.
Yg dihadapkan sama akses yg sulit akan mencari cara-cara lain untuk mengakses media tsb. Dan cara-cara ini pastinya tidak resmi atau ada di area abu-abu. Hal ini juga bikin mereka melihat perusahaan medianya sebagai "musuh" atau penghalang mereka. Jadi budaya fandomnya gak kaku.