@KapudS640 Secara kan KOPDES nya harus "melewati gunung, lewati lembah, sungai mengalir indaha ke samudra bersama teman berjualan" makanya dilatih kayak tentara penjaga nya
JADWAL PIALA DUNIA 2026 🌎🏆
Bookmark postingan ini biar gak ada pertandingan yang kelewatan! 🔥
Repost dan share ke teman, tongkrongan, dan grup keluarga. Siap-siap begadang selama sebulan penuh 😅
Penelitian ini bilang: cara kamu memandang masa depan bisa memengaruhi kesejahteraan hidup (Well-being).
Well-being di sini bukan cuma "bahagia atau nggak." Peneliti pake model PERMA 5 dimensi:
• Positive emotions (emosi positif)
• Engagement (fokus & terlibat)
• Relationships (hubungan bermakna)
• Meaning (punya tujuan)
• Accomplishment (pencapaian)
Kelimanya kena dampak kecemasan masa depan.
Terus apa yang terjadi kalau kamu sering cemas soal masa depan?
Kamu jadi lebih pesimis dan kurang optimis. Dan dua hal itu, pesimisme & hilangnya optimisme, yang kemudian langsung menggerus well-being kamu dari dalam.
Data angkanya cukup kuat:
Kecemasan masa depan + optimisme + pesimisme bareng-bareng menjelaskan 39% kenapa emosi positif kamu bisa turun drastis. Dan 32% dari rasa kehilangan makna hidup juga berasal dari sini.
Tapi, optimisme bisa jadi "pelindung." Orang yg optimis tetap bisa cope meski cemas, karena mereka masih percaya usahanya ada artinya. Sementara yg pesimis cenderung nyerah duluan sebelum nyoba, dan itu yang bikin well-being makin turun.
@afrkml Engga si bang, sebenernya tergantung desanya didaerah mana dulu, karena tiap² daerah itu berbeda budaya dan cara bersosial dengan sesama. Kalo di desaku di Nusa Tenggara Barat, orang² desa nya pada baik² dan mereka suka membantu