Jadi begini warga yang Budiman dan budiwati menurut data BMKG ( bar mangan kudu guyon )
Tak jelaskan sedikit kenapa petani lebih memilih membuang hasil panen nya daripada memberikan ke orang lain yang kalian anggap lebih bermanfaat ,karena ini efeknya jangka panjang ,jadi jangan hakimi petani yang melakukan hal tersebut
Saya kasih tahu sebab dan alasannya
Saat panen melimpah, pasokan banjir tapi permintaan tidak ikut naik , harga bisa jatuh sangat rendah,saya kasih contoh ,misalnya harga Rp5.000–Rp15.000 per keranjang besar, sementara biaya keranjang + tali saja sudah Rp9.000–Rp11.000,
Membuang lebih murah daripada memanen, mengangkut, dan menjual karena
Biaya panen tenaga kerja+ transportasi ke pasar sering lebih besar daripada uang yang diterima.alias petani tambah merugi
Memberikan Gratis Justru Bisa Merusak Harga Lebih Parah (Efek Pasar Jangka Panjang)
Kalau petani bagi-bagi gratis dalam jumlah besar, masyarakat atau pedagang akan mengharapkan harga murah/gratis di masa depan.
Ini membuat harga di pasar sulit naik kembali, bahkan saat pasokan normal. Petani rugi berkepanjangan karena pasar "terbiasa" dapat barang murah.
Membuang sebagian hasil bisa mengurangi pasokan di pasar membantu harga stabil atau naik sedikit di kemudian hari,meski ini bukan solusi ideal.
Biaya Logistik dan Penanganan yang Tinggi untuk Donasi
Hasil tani seperti sayur dan buah sangat mudah busuk ,umur simpan pendek, butuh pendingin
Memberikan gratis memerlukan akan biaya lagi
Panen manual (biaya tenaga kerja).
Pengemasan yang layak.
Transportasi ke tempat distribusi (masjid, panti asuhan, atau kota).
Petani kecil biasanya tidak punya infrastruktur itu. Kalau dipaksakan, biayanya bisa lebih besar daripada nilai barangnya.
Di daerah terpencil, akses pasar saja sudah susah, apalagi distribusi donasi.
Tidak Ada Pembeli Tetap atau Infrastruktur Penyimpanan
Banyak petani bergantung pada tengkulak atau pasar lokal. Saat harga anjlok, tengkulak pun enggan beli.
Tidak ada gudang pendingin skala kecil yang murah , barang cepat rusak kalau ditahan.
Memberi gratis dalam volume besar juga tidak realistis karena orang yang mengambil biasanya terbatas, sementara hasil panen bisa puluhan ton.
Petani Harus Tetap Hidup dan Bayar Hutang
Petani punya biaya tetap pupuk, bibit, sewa lahan, hutang ke tengkulak/bank, kebutuhan keluarga.
Kalau terus rugi karena bagi gratis, mereka tidak bisa tanam musim berikutnya bisa bangkrut total.
Membuang adalah cara "mengurangi kerugian lebih besar" agar bisa bertahan untuk musim depan. Dalam case ini contoh timun itu dibuang disungai ituungkin hanya sebagian saja ,karena mereka juga harus berpacu dengan waktu untuk pengolahan lahan untuk ditanami kembali dan mengurangi kerugian dari mengeluarkan biaya transportasi
Petani bukan mau membuang hasil kerja kerasnya. Mereka terpaksa karena ekonomi yang keras,biaya > pendapatan, plus risiko merusak pasar jangka panjang kalau dibagikan gratis secara masif. Ini masalah struktural pertanian Indonesia , fluktuasi harga, ketergantungan tengkulak, infrastruktur lemah, dan rantai pasok yang tidak fleksibel.
Solusi jangka panjang hilirisasi (olahan makanan), koperasi petani yang kuat, gudang penyimpanan, kontrak langsung dengan buyer besar, atau program pemerintah yang serap surplus saat panen raya. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang setiap musim panen melimpah.
Paham ya sampai disini ,atau ada tambahan lagi ?
@JukiHoki YaAllah apa dulu pikiran pedagang2 yg kubeli gini jga yah😅 taun lalu masih sisa 1/2 gepok 5rban baru, tiap belanja yg kurang 2-4rb aku selalu pake 5rban baru ituu😅😅
Ngeliat ini bersyukur jg punya mertua super baik. Walaupun suami sandwich gen, tiap bulan kirim uang, tp mertua amanah. Ini mudik, rumah bagian belakang tbtb udah dikeramik. Suami gatau kapan renovnya tbtb udh jadi aja
tebakkan gw.
ortunya minta duit ke anaknya buat “renovasi rumah”
pas pulang, kok lantai-nya belum di renov? kemana uangnya?.
jadi-nya pulang ajalah, kasih pelajaran ama ortu.
trus ortu-nya playing victim. kek familiar aja.
aneh bgt soalnya baru tahun ini complain masalah lantai
"Halo Dea?"
"Ya Mah?"
"Kamu bisa pulang segera?"
"Kenapa Mah?"
"Bapak jatuh kena stroke, mesti dirawat di rumah sakit"
"Waduh, padahal Senin besok baru juga mulai di PTN favorit ini."
"Cuti dulu aja nak, kamu bantu rawat Bapak."
"..."
***
"Pak TU kampus, saya mau cuti semester ini."
"Wah baru mulai kok udah cuti?"
"Bapak saya kena stroke Pak, mesti bantu rawat sama kerja dulu buat perawatan."
"Oke ini form-nya, nanti UKT-nya kita refund 50%."
"Hah? Kok gak semua? Kan cuti? Buat bantu-bantu perawatan Bapak kan lumayan juga itu."
"Memang gitu aturannya kampus kita."
"..."
***
"Pak TU kampus, kalau saya mengundurkan diri aja gimana?"
"Wah sayang banget, gak bisa diusahain?"
"Gak sanggup saya Pak, belum kalau nanti lama perawatannya, semester depan mesti bayar 50% UKT lagi."
"Oh gitu, ya udah ini isi form-nya."
"Kalau tahun depan saya mau balik kuliah di sini bisa Pak?"
"Gak bisa, salah satu syaratnya gak boleh mengundurkan diri dari PTN sini."
"Hah, kok gitu?"
"Memang aturannya gitu."
***
"Makasih ya Nak, udah bantu ngurus Bapak setahun ini."
"Iya, semoga Bapak ditempatkan di tempat terbaik Mah."
"Coba tes kuliah lagi, ya Nak"
"Tapi jadwalnya minggu depan Mah, belum sempet pegang buku buat belajar lagi."
"Iya gak apa, kan kita sibuk ngerawat almarhum Bapak, tapi coba aja."
"Ya mah, doain ya."
***
"Gak keterima Mah."
"Gak apa nak, coba lagi tahun depan ya. Sambil bantu Mamah di warung."
"Ya mah, belum cukup juga tabungannya buat bayar UKT."
"Belajar sungguh-sungguh ya Nak."
***
"Alhamdulillah, keterima Bu, Farmasi, PTN lain, beda sama yang kemarin."
"Alhamdulillah."
"Ya udah kamu berangkat ya Nak."
"Tapi KIPK-nya gak dapet Mah."
"Gak apa nak, nanti Mama usahain."
***
"Halo Dea, bisa pulang segera? Urgent."
"Kenapa Tante?"
"Mama kamu kena serangan jantung."
"Hah? Innalillahi. Ya Tante, Dea segera pulang."
***
"Pak TU kampus, saya mau cuti semester ini."
"Wah baru mulai kok udah cuti?"
"Mama saya kena serangan jantung Pak, mesti bantu rawat sama kerja dulu buat perawatan."
"Oke ini form-nya, nanti UKT-nya kita refund 50%."
"Haduhhhh, kalau mengundurkan diri terus balik lagi tahun depan gimana?"
"Bisa tes lagi. Asal belum tiga kali tes masuk PTN."
"Lahh, saya udah tiga kali Pak."
"Gak bisa kalau gitu. Emang aturannya gitu."
"..."
"Jadi gimana?"
"Ya udah saya cuti aja Pak."
***
"Halo Pak Dosen Wali, semester ini saya juga masih cuti lagi Pak. Masih harus rawat Mamah."
"Iya gak apa Dea, jangan lupa diurus di sistem informasi akademik."
"Udah Pak, udah saya urus, 50% UKT juga sudah saya bayar."
"Semoga Mama cepet sembuh ya Dea."
"Ya Pak, makasih, kalau kuliah-kuliah yang kelewat ini gimana?"
"Pikir nanti aja, paling mundur lulusnya."
"Ada perpanjangan masa studi gak Pak?"
"Gak ada, tetep 6 tahun maksimum Dea."
"Gak bisa ada toleransi Pak? Kan ini bukan sepenuhnya salah saya."
"Saya gak bisa bantu Dea, memang aturannya begitu."
***
"Tante, makasih udah mondar-mandir bantu Dea ngurus Mamah pas sakit."
"Iya Dea, semoga almarhumah Mama diterima di sisi-Nya. Kuat-kuat ya Dea. Kuliah kamu gimana?"
"Ini mau mulai lagi Tante, udah 2 semester cuti."
"Iya, gak apa, berarti ketunda 3 tahun ya kuliah kamu?"
"Mau gimana lagi Tante."
"Biaya kuliahnya gimana?"
"Dea udah diterima ngajar di bimbel Tante, lumayan lah buat nambah-nambah."
***
"Ini kamu yakin ngambil ngajar 6 jam habis kuliah seharian tiap hari?"
"Iya Bu, tabungan saya belum cukup buat bayar UKT semester depan."
"Duh, ini Ibu gak tega ngasihnya tapi, kamu pasti capek."
"Tolong Bu, saya lagi butuh."
***
"Dea, kenapa IPK kamu semester ini pas-pasan gini? Ada 2 kuliah yang ngulang pula."
"Saya harus kerja Pak Dosen Wali, 6 jam habis kuliah tiap hari, gak sempet belajar."
"..."
"Kan saya harus biayain kuliah sama bayar biaya hidup sendiri Pak. Mama sama Bapak udah gak ada."
"..."
"Tapi saya usahain semester depan lebih baik Pak."
***
"Dea, lu gak apply magang?"
"Hah? Emang penting ya magang-magang itu. Gue kuliah aja keteteran sumpah."
"Sekarang semua orang pada magang, bakal susah bersaing kalau lamar kerja nanti kalau gak magang."
"Oh gitu? Emang gimana sih prosedur lamar magang itu?"
"Coba lu cek aja program pemerintah, MSIB sama MBKM kalau gak salah namanya."
***
"Pak, ini ada yang lamar magang."
"Bisa liat CV-nya?"
"Ini Pak."
"Dea, Farmasi, ya pas sih sama perusahaan kita."
"Jadi?"
"Cuma gak ada pengalaman magang di tempat lain sebelumnya, cari yang lain aja."
"Oke Pak."
***
"Pak, ini ada yang lamar magang."
"Bisa liat CV-nya?"
"Ini Pak."
"Dea, Farmasi, hmmmm."
"Jadi?"
"Gak terlalu pas sama perusahaan kita, cari yang lain aja."
***
"Gimana Dea? Lu dapet magangnya gak?"
"Nggak, pada gak ada yang mau nerima gue."
"Oh gitu, terus gimana?"
"Ya udah, semester ini lanjut kuliah lagi aja, lagian gue juga mesti ngajar bimbel."
***
"Bu Mutia, ini Ibu udah gak hadir bimbingan 2 minggu, saya perlu tanda tangan Ibu buat sidang minggu depan."
"Waduh, saya lagi di Jakarta, ada pekerjaan konsultansi di perusahaan anak saya. Lagian saya juga belum puas sama skripsinya."
"Terus gimana Bu?"
"Kamu tunda dulu aja sidangnya, semester depan."
"Wah, biayanya gimana Bu?"
"Saya gak bisa bantu."
"..."
***
"Pak TU kampus, ini kan saya tinggal skripsi doang, 6 SKS. Perlu bayar UKT?"
"Iya, tetep bayar penuh."
"Seriusan Pak? Gak ada kuliah lagi juga bayar penuh?"
"Iya. Emang aturannya gitu."
***
"Bu Mutia, ini Ibu udah gak hadir bimbingan 2 minggu, saya perlu tanda tangan Ibu buat sidang minggu depan."
"Waduh, saya lagi di Jakarta, ada pekerjaan konsultansi di perusahaan anak saya. Lagian saya juga belum puas sama skripsinya."
"Terus gimana Bu?"
"Kamu tunda dulu aja sidangnya, semester depan."
"Lagi? Biayanya gimana Bu?"
"Saya gak bisa bantu."
"..."
***
"Deaaaa, Alhamdulillah lu lulus jugaaa."
"Iyaaa, Alhamdulillah, penuh perjuangan ini kuliah gue."
"Ya udah, enjoy moment wisudaan dulu, yuk foto-foto."
"Iya, tapi tetep kepikiran euy abis ini ngapain."
"Elu udah nyiapin CV kan? Bawa aja ke jobfair besok. Sekarang enjoy dulu."
***
"Halo ini HRD perusahaan Y, kita mau tanya-tanya dulu sebelum interview"
"Iya silakan mbak."
"Ini kenapa ya kok lulusnya pas umur lebih dari 25 tahun?"
"Saya gap year dulu mbak, mesti ngerawat almarhum Bapak dan Mama pas sakit, jadi baru keterima tes tahun ketiga."
"Kan kalau gitu mestinya umur 23-24 tahun?"
"Masih nambah molor gara-gara skripsi mbak"
"Oh gitu. Mohon maaf banget, padahal udah cocok banget nih skill-nya. Kita cuma nerima freshgrad yang di bawah 25 tahun. Memang perusahaan kami aturannya gitu."
"..."
***
"Halo Disnaker?"
"Ya mbak?"
"Saya mau protes, ini kenapa saya ditolak perusahaan gara-gara umur?"
"Wah, itu kami gak bisa bantu."
"Hah? Kemarin ada berita Surat Edaran dari Kemenaker katanya gak boleh diskriminasi umur?"
"Iya memang ada. Tapi surat edaran gak punya kekuatan hukum."
"Terus gunanya surat edaran itu apa?"
"Saran doang Mbak. Kemarin udah ada putusan MK. Batasan umur bukan diskriminasi."
"Jadi kata hukum boleh, tapi kata Menterinya gak boleh?"
"Iya Mbak. Karena yang aturan itu UU, SE cuma saran. Memang aturannya begitu."
***
"Pak ini ada yang lamar ke perusahaan kita."
"Coba liat CV-nya?"
"Dea, Farmasi, jurusannya pas sih."
"Ya Pak."
"Tapi IPK-nya pas-pasan, lulusnya lama, pengalaman organisasi gak ada, gak ada pengalaman magang. Ngapain aja dia?"
"Ya Pak."
"Inget ya, di perusahaan X ini kita cuma nyari lulusan terbaik. Kalau ada CV sampah kaya gini, langsung buang aja."
***
"Dea, kamu udah dapet kerja belum?"
"Bu Mutia! Tumben nelpon saya? Makasih udah dibimbing skripsi Bu, saya belum dapet kerja."
"Saya lagi butuh orang buat kerja di lab, kamu sekalian S2 aja di sini."
"Terus bayar UKT sama biaya hidupnya gimana Bu?"
"Untuk UKT kamu apply aja beasiswa dari kampus, nanti saya rekomendasikan."
"Biaya hidup?"
"Ya kamu nanti sekalian bantu proyek saya, ada lah dikit-dikit."
"Oh, boleh Bu."
***
"Halo, Dea?"
"Ya Bu Mutia?"
"Beasiswa S2 kamu kan ada kewajiban asistensi, kamu isi kelas Topik Pilihan Farmasi saya Jumat besok ya, kerjaan saya di sini belum selesai."
"Siap Bu. Untuk bimbingan tesis Senin Ibu ada?"
"Belum tahu, kontak saya aja nanti."
"Ya Bu."
***
"Ini kelas TPF kita yang ngisi emang Kak Dea terus? Gue jarang masuk, tapi sekalinya masuk kok Kak Dea lagi?"
"Gak tahu nih, Bu Mutia cuma masuk pas pengenalan silabus aja. Sisanya Kak Dea."
"Oh gitu, sibuk kayanya, jadi anggap aja dosen kita Bu Dea ya, asistennya Kak Mutia."
"Iya, wkwkwk."
***
"Untuk UAS TPF kalian, buat makalah ya. Ini tugas individu ya, bukan kelompok. Ini formatnya."
"Baik Bu Mutia. Untuk penilaiannya gimana Bu?"
"Kalau kalian sekedar nulis sampai selesai, nilainya C. Kalau berhasil sampai terbit di SINTA 6, C+. Terbit di SINTA 5, B-. SINTA 4, B. SINTA 3, B+, SINTA 2, A-. Yang paling tinggi SINTA 1, nilainya A."
"Berarti harus terbit di jurnal nasional Bu?"
"Iya, cantumkan saja nama saya jadi corresponding author di belakang nama kalian. Biasanya reviewernya udah pada tahu nama saya, kemungkinan diterimanya besar."
"Baik Bu."
***
"Enak ya kuliah Bu Mutia."
"Iya, tugasnya cuma 1 makalah doang, sisanya diceramahin Kak Dea."
"Recommended lah buat kuliah pilihan."
"Pantes aja isinya 50-an mahasiswa terus, penuh."
***
"Halo, Bu Mutia, ini Dea."
"Kenapa Dea?"
"Ini honor asisten gak masuk dari jadwal yang seharusnya Bu."
"Oh, iya, biasanya memang telat 3 bulan."
"Honor asisten yang cuma 500 ribu per semester itu selalu telat Bu? Walaupun dari 15 pertemuan, 13 di antaranya saya yang ngajar?"
"Iya, memang begitu. Dari jaman saya mahasiswa dulu juga gitu."
***
"Dea, ini Budi temennya Pras."
"Kenapa?"
"Pras kecelakaan pagi ini."
"HAHH? Terus gimana?"
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun."
"..."
***
"Bu Mutia, saya mau mengundurkan diri dari program S2."
"Hah kenapa?"
"Suami saya meninggal dunia kecelakaan kemarin."
"Pras? Mahasiswa saya juga? Innalillahi wa inna ilaihi rajiun."
"Iya"
"..."
"Saya udah gak punya siapa-siapa lagi."
"..."
"Saya harus rawat anak saya sendirian."
"..."
"Nia baru 3 tahun Bu.
"..."
***
"Halo ini HRD perusahaan A, kita mau tanya-tanya dulu sebelum interview"
"Iya silakan mbak."
"Ini kok CV-nya dikit banget pengalamannya?"
"..."
"Udah lama banget nggak kerja?"
"..."
"Nggak lanjut kuliah S2 juga?"
"..."
"Maaf ya mbak, kami belum bisa terima."
***
"Halo ini HRD perusahaan B, kita mau tanya-tanya dulu sebelum interview"
"Iya silakan mbak."
"Ini kok CV-nya dikit banget pengalamannya?"
"..."
"Udah lama banget nggak kerja?"
"..."
"Nggak lanjut kuliah S2 juga?"
"..."
"Maaf ya mbak, kami belum bisa terima."
***
"Mas, saya mau coba daftar Gojek atau ShopeeFood gitu. Susah cari kerja sekarang."
"Punya hape Android atau iPhone? SIM C?"
"Ada mas."
"Sepeda Motor?"
"Ada."
"Oke, silakan diisi formulirnya ya. Setelah selesai sama verifikasi bisa langsung narik."
"Mantab, makasih Mas."
***
"Halo Disnaker?"
"Ya?"
"Ini saya kok nggak dapet THR? Udah mau hari raya? Saya ojek online. Di berita kemarin katanya ada Surat Edaran buat THR?"
"Wah, kami gak bisa bantu. Ibu harus ke aplikator."
"Hah? Terus gunanya Surat Edaran itu apa?"
"Saran doang ke aplikator. Mbak statusnya 'mitra', jadi hukum THR dari UU Ketenagakerjaan gak bisa ke situ."
"Saya kemarin telpon ke aplikator, gak ada katanya."
"Kami gak bisa bantu. Aturannya memang begitu."
"..."
***
"Mama gak narik hari ini?"
"Udah gak kuat mama nak."
"Kenapa mah?"
"Seharian bisa 12 jam di jalan. Mana kalau libur kita gak ada penghasilan."
"Capek ya mah?"
"Iya Nia."
"Istirahat dulu aja mah."
***
"Mbak, ini ada bantuan beras, dari pemerintah."
"Oh, saya masuk daftar? Alhamdulillah."
"Iya mbak, sama Pak RT didaftarin, kan udah nganggur lama. Ngojol juga udah jarang."
"Iya Mas. Saya udah gak ngojol lagi. Gak kuat. Makasih ya mas."
"Gak apa mbak, bulan depan ada lagi."
***
"Mbak, ini ada bantuan minyak goreng, dari pemerintah."
"Oh, saya masuk daftar? Alhamdulillah."
"Iya mbak, sama Pak RT didaftarin, kan udah nganggur lama."
"Makasih ya mas."
"Gak apa mbak, bulan depan ada lagi."
***
"Mbak, lagi nganggur gak? Ini ada kerjaan."
"Ngapain?"
"Jadi buzzer pemerintah Mbak. Bayarannya segini."
"Pemerintah yang ngasih beras kemarin? Wah, mayan, saya udah ke mana-mana gak dapet-dapet."
"Ya udah mbak, syaratnya gak susah kok."
"Apa syaratnya?"
"Tahan malu dikit."
***
"Ini laporan twit ngebuzzernya mana Mbak?"
"Oh ini, saya kemarin bikin ribut sama orang-orang yang kritik pemerintah."
"Oke, ngapain lagi?"
"Saya goblok-goblokin orang-orang yang demo."
"Mantab!"
"Iya Mas. Tahu gini saya gak usah kuliah, langsung nge-buzzer aja."
***
"Mbak, mau kerjaan nggak? Kita dari SPPG buat sekolah-sekolah di desa tetangga."
"SPPG? Kerjaannya ngapain?"
"Masak buat MBG di sekolah-sekolah. Cuma ya kerjanya subuh."
"Bayarannya berapa?"
"Segini mbak."
"Woh, mantab banget itu bayarannya. Boleh."
"Mantab. Langsung mulai minggu depan ya."
***
"Mbak, kan baru keluar TPS, boleh kita interview dikit, kita dari lembaga survey, buat exit poll."
"Oh boleh."
"Mbak pilih calon yang mana?"
"Petahana mbak."
"Kenapa kok milih petahana?"
"Saya kebantu banget, udah ngasih saya pekerjaan, bayarannya gede pula, anak saya dapat makan siang tiap hari, sama ada bantuan sosial waktu saya nganggur."
"Kok bisa nganggur lama?"
"Saya lulusnya lama terus kena batas umur mbak, terus minim pengalaman sama organisasi juga. Waktu kuliah kerja keras buat bayar UKT."
"Kok gak pilih yang ngasih UKT gratis?"
"Saya sekarang lebih butuh yang kasih bantuan langsung sama kerjaan ke saya mbak."
***
"Mamah, Alhamdulillah Nia keterima di PTN favorit."
"Alhamdulillah, mama pinjem uang dulu ya buat bayar UKT-nya, makin mahal soalnya."
"Terus gimana mah?"
"Penghasilan kita kan cuma cukup buat sehari-hari nak, gak ada tabungan."
"Apa Nia gak kuliah aja mah? Bantu Mama"
"Jangan nak, ntar keluarga kita gak ke mana-mana. Mama usahain."
"..."
***
"Halo Bu Dea, kenapa Bu?"
"Saya bisa pinjem uang gak Bu tetangga, anak saya baru keterima PTN nih."
"Waduh, anak saya juga Bu, saya abis bayar, lagi tipis, semua mahal sekarang."
"..."
"Coba ke pinjol Bu, sekarang PTN banyak yang kerja sama sama pinjol."
"..."
***
"Halo Nia?"
"Ya Tante?"
"Kamu bisa pulang segera?"
"Kenapa Tante?"
"Mama kamu jatuh kena stroke, mesti dirawat di rumah sakit"
"Waduh, padahal Senin besok baru juga mulai di PTN favorit ini."
"Cuti dulu aja Nia, kamu bantu rawat Mamah."
"..."
4 tahun lalu gua kerja pegang project grabfood. Ada Tukang Ketoprak deket rumah gua, liat gua balik kerja pake lanyard grab pas gua lg beli balik kerja. Dia tanya “Masnya kerja di grab” Gua jawab ajah “Iya Pak” dia minta tolong daftarin grabfood biar rame Ketopraknya.
@afrkml Jadi inget dulu pas hamil TM1 gabisa makan apapun krn mual muntah, surprisingly malah doyan makanan RS😭 bolak balik ranap perkara mual muntah doang😂
Ini adalah setetes sampel sperma.
Sesungguhnya peluang kita untuk pernah lahir dan hidup itu keciiiiiiiiillllll sekali.
Hanya 1 dari jutaan sperma, Ini baru dihitung dari jumlah sel sperma yang masuk ke Rahim bersamaan dengan kita.
Belum dihitung dari peluang bapak kita bertemu ibu kita. Kakek kita ketemu nenek kita dan seterusnya.
Begitu kecilnya sehingga saya sangat menyadari kehidupan kita adalah sebuah takdir keajaiban.
Bangkitlah teman-teman, keberadaan kita terlalu mahal untuk dihabiskan dengan menyerah.
Kmrin2 sempet sedih krn blum bisa ngasih nutrisi terbaik Humey (bb dan tb seret)
Tp tbtb tersadar, dia bisa menyapih sendiri, sleep training sendiri, udh bisa poop di kloset sendiri.. Nak masyaAllah yaa, mudah2an kekurangan2 lain bisa aybun cukupkan untukmu.. aamiin
Biasanya kerjaan rumah sabtu minggu dikerjakan dua orang, kmrn suami doang jd ga maksimal huhuhu
Hari ini cuti sakit soalnya lemes banget ga turun2 demam dari kemarin😭😭
Blm lagi kalo berobat, anak dititipin lagi biar ga ikut ketularan di klinik 😭😭
Rindu jadi gadis 🥲
Soalnya kalo sakit ga ngrepotin siapa-siapa.. klo jdi istri dan bunda, lemes dikit rasa bersalah ke anak dan suami gede banget :(
3 hari ini sakit.. rumah rasanya berantakan banget.. bukan krn suami ga bersihin, tp gaada partner bersihinnya..
#intinyadeh pegawai BPS Halmahera Timur dibunuh rekan kerja di rumah dinas:
> Pelaku kelilit utang, minjem ke korban 30jt, gak dikasih
> 17 Jul pelaku nyelundup ke rumah dinas, ngumpet di kamar sebelah (kamar calon istrinya) amati korban
> 19 Jul ke kamar korban, sekap
(1/3)