@bardanslm manusia memang butuh bgt yg namanya perhatian atas pencapaiannya, karena manusia selalu memiliki sifat ingin lebih baik daripada manusia lain. namun yg jadi pembeda disini barrier "empati dan tahan diri" mereka setebel apa agar terhindar dari hal semacam ini
Aku dapat kerja baru. Kantor kecil, lantai 3 gedung tua di Jakarta.
Hari pertama, bosku bilang satu hal aneh sambil tersenyum:
"Kalau telepon meja kamu berdering, jangan diangkat. Biar aku yang angkat."
Aku kira bercanda. "Kenapa?"
Dia cuma bilang: "Telepon itu belum disambung. Kabelnya belum ada."
Hari pertama aman. Hari kedua aman.
Hari ketiga, jam 4 sore, telepon meja berdering.
Aku kaget. Kabelnya memang tidak ada, aku sudah cek, lubang telepon di dinding kosong.
Tapi teleponnya berdering.
Aku ingat pesan bos. Aku biarkan.
Deringnya berhenti setelah 10 kali.
Besoknya aku tanya bos.
"Pak, telepon saya berdering kemarin. Padahal kabelnya nggak nyambung."
Bos berhenti mengetik. Menatapku lama.
"Kamu angkat?"
"Tidak. Sesuai pesan Bapak."
Dia menghela napas lega. "Bagus. Jangan pernah angkat."
Lalu dia masuk ruangan dan menutup pintu.
Aku penasaran. Aku tanya rekan kerjaku, Rina, yang sudah 2 tahun di sini.
"Dering telepon aneh itu? Oh, itu udah lama. Kita semua udah tahu. Pokoknya jangan diangkat."
"Tapi kenapa?"
Rina menoleh sekeliling, lalu berbisik:
"Karena telepon itu bukan untuk kita."
"Maksudnya?"
"Kantor ini dulu punya nomor telepon lama. Sebelum renovasi. Nomornya masih terdaftar di banyak tempat, iklan lama, brosur, kartu nama."
"Jadi?"
"Jadi masih ada orang yang menelepon nomor itu. Dan sebagian... bukan orang yang seharusnya menelepon kantor."
Aku bingung. "Maksudmu penipu?"
Rina menggeleng. "Bukan. Maksudku... orang yang sudah lama mencari kantor ini."
Malam itu aku lembur sendirian.
Jam 7 malam. Telepon berdering.
Aku biarkan. Berdering. Berhenti.
Jam 8. Berdering lagi.
Kali ini lebih lama. 20 kali. 30 kali.
Aku mencoba fokus kerja, tapi deringsnya mengganggu.
Lalu berhenti.
Dan mulai lagi.
Aku kesal. Aku angkat.
"Halะพ?"
Hening.
Lalu suara laki-laki tua, pelan:
"Kantor... PT Sinar Abadi?"
"Ya. Ada yang bisa dibantu?"
Suara itu terdiam. Lalu:
"Alamatnya... masih di Jalan Melati nomor 45?"
Aku merinding. Itu alamat lama kantor ini. Sekarang pindah sejak 3 tahun lalu.
"Maaf, Bapak. Kantor kami sudah pindah."
Hening lagi. Lama.
Lalu suara itu berkata, sangat pelan:
"Kalau begitu... kenapa saya yang ditelepon balik?"
Aku bingung. "Maksud Bapak?"
"Saya menelepon nomor ini 3 tahun lalu. Untuk konfirmasi lowongan kerja. Tidak ada yang angkat."
"Besoknya saya datang ke alamat itu. Gedungnya kosong. Sudah tidak dipakai."
"Sejak itu, setiap malam, telepon di rumah saya berdering. Dari nomor kantor ini."
"Dan sekarang... Anda angkat."
Aku membeku.
"Bapak... ini nomor kantor baru kami. Bukan yang lama."
Suara itu bergetar:
"Tapi nomor yang saya telepon tadi... nomor lama. Yang tidak pernah ada yang angkat."
"Lalu kenapa Anda bisa angkat?"
Aku melihat telepon di mejaku.
Kabelnya masih tidak ada. Lubang di dinding masih kosong.
Telepon ini tidak tersambung ke jaringan apa pun.
Tapi aku baru saja bicara dengan seseorang di sana.
Aku menutup telepon pelan-pelan.
Tanganku gemetar. Aku berdiri, mau pulang.
Lalu telepon itu berdering lagi.
Satu kali.
Aku melihat layar kecil di telepon, ada nomor masuk.
Nomor itu... nomor ponselku sendiri.
Aku merogoh saku. Ponselku ada di sana. Tidak menelepon siapa pun.
Telepon meja berdering lagi.
Aku angkat, tangan gemetar.
Dan dari seberang, suara aku sendiri berkata:
"Jangan pulang lewat lift. Di lantai 2... ada yang menunggu kamu."
@sosmedkeras latar belakang mereka apa ya, perasaan bergengsi semua deh tuh gelar. pemilihan kata agar statement jahanam mrka supaya "aman" aja ga becus. otak dongokkkkk