Pertama kali tau rasanya ditinggalin dengan orang terdekat ketika mbah lanang dari bapak meninggal tahun 2004. Belum sepenuhnya ngerti kalau manusia itu pasti bakal mati. Aneh sekali rasanya waktu itu melihat simbah dimasukkan ke liang lahat dan dikubur.
Keputusan pemerintah harus dihormati.
Namun dalam demokrasi, ia tidak luput dari komentar maupun kritikan.
Di satu percakapan dengan Nadiem, Ia pernah bilang bahwa dirinya bekerja untuk kepentingan generasi berikutnya. Ia masuk dengan sebuah blueprint dan impian: membangun ulang lingkungan bagi ratusan ribu siswa dan guru, membangun kembali pondasi dari mana sebuah bangsa belajar. A revolutionary in the making.
Saya mengenal keluarga Makarim selama puluhan tahun. Dalam semua waktu itu, di seluruh anggotanya, ketidakberesan tidak pernah menjadi sesuatu yang saya saksikan atau rasakan. Tidak sekali pun. Nadiem selalu menjadi, sejauh yang saya tahu, persis seperti apa yang ia katakan hari itu: seseorang yang bekerja untuk masa para penerus bangsa yang belum bisa bersuara.
Setahun tujuh bulan kemudian, kita ada di sini.
Kesalahan Nadiem mungkin adalah bahwa kenaifannya disalahpahami sebagai kurangnya rasa hormat terhadap memori institusional (kebiasaan sebuah lembaga dalam pola komunikasi, kerja, dan koordinasi yang telah mengakar puluhan tahun).
Kenaifan ini tidak unik. Ia niscaya akan menjangkiti siapapun dari luar yang diminta atau ingin berkontribusi untuk bangsa dan negara.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa keputusan pemerintah telah dan akan berdampak pada beberapa hal yang cukup struktural:
1. Proses penegakan hukum dan translasi ketidakpastian menjadi risiko. Bayangkan Anda hendak berinvestasi ke sebuah negara di mana hukumnya tidak jelas — di mana pendiri unicorn pertama Indonesia harus menghadapi 18 tahun atas dasar konstruksi hukum yang sulit dipertahankan oleh banyak ahli hukum. Pertanyaannya bukan lagi "Apakah Nadiem salah atau tidak?" Tapi: "Apakah ini tempat di mana kita bisa membangun?"
Ketika hukum tidak memberikan kepastian, negara kehilangan kemampuannya untuk mengukur dan mengomunikasikan risiko kepada dunia luar. Ketidakpastian hukum adalah risiko yang tidak bisa dipricing — dan modal global tidak bersedia tinggal di tempat yang tidak bisa menjawab pertanyaan paling dasar: seberapa besar risikonya, dan siapa yang terlindungi ketika jawabannya tidak jelas?
2. Pengedepanan inovasi teknologi. Pelajaran yang paling mudah diserap dari sidang ini adalah: main aman. Jangan punya keyakinan. Jangan berinovasi. Pilih yang paling aman secara administratif, bukan yang terbaik. Ketika pilihan teknologi bisa dijadikan dakwaan, ketika gagasan baru bisa menjadi jebakan, tidak ada ruang lagi bagi ide untuk tumbuh, inovasi untuk dipeluk, atau perubahan untuk disambut. Yang tersisa hanyalah birokrasi yang memilih selamat atas segalanya. Bahwa konformis adalah postur yang paling aman di dalam sistem.
3. Masa depan talenta bangsa. Yang paling fatal: kasus ini menjadi jera bagi mereka yang seharusnya melanjutkan bangsa ini. Bahwa seseorang yang berpendidikan, yang berniat baik, yang berani mencoba membangun dari nol akan dimuntahkan mentah-mentah oleh negara yang berusaha ia tolong.
Platform ini dibangun untuk mendiskusikan ide, bukan peristiwa. Namun episode yang kita saksikan tidak lepas dari sesuatu yang katalitik, untuk kepentingan nation building ke depan.
Dan kualitas itu, keinginan untuk memperbaiki sistem yang mungkin belum berkenan, mendongkrak edukasi bangsa, adalah salah satu yang paling langka di sebuah birokrasi.
Menjadi tragedi tersendiri ketika upaya mengintelektualisasi bangsanya, menjadi batu rajam untuk dirinya sendiri.
No one is perfect.
May the great force be on the right side of history.
Ada apa dengan situasi sekarang ini?Kata dan makna keadilan bagi seluruh rakyat sepertinya semakin jauh dan sunyi. Hidup makin kesini kok makin susah ya untuk mendapatkan hak normalnya saja. Bersyukur saja kalau masih bisa menjalani normal nya hidup dan bisa membantu sesama.
Sejenak pikiran berputar dengan beberapa berita pagi ini. Ada yang divonis hukuman 18 THN penjara tanpa konstruksi hukum yang jelas. Ada yang post lulusan sarjana tapi struggle dengan bisnis kecil mereka hanya untuk menyambung hidup. Ada anak lomba cerdas cermat tapi di curangi.
Seandainya orang yang punya BELAS KASIH jauh lebih banyak lagi, mungkin orang-orang yang sedang berada di zona LELAH dengan keadaan tidak akan melakukan BUNDIR.
TERIMAKASIH orang baik.
Respek 🩵
@kenhans03 Bagaimana bisa dalam ruang lingkup belajar tidak ada standard safety yang ditetapkan oleh guru/sekolah dimana sudah seharusnya ada mitigasi resiko dalam praktik yang dilakukan. Menurut saya ini bentuk inkompetensi dari guru atau sekolah yang akhirnya menimbulkan korban.
Lebaran tahun ini kayaknya semua berjalan normal. Tidak ada yang kurang. Tapi rasanya kosong. Orientasi pikiran tertuju pada target dunia. Setelah lebaran selesai baru berasa. Momen maknanya gak. Kegiatan selama momen lebaran dan hari biasa memang berbeda tapi pikiran nya sama.
Saya melatih untuk berekspektasi kecil. Jebakan kadang ads bisa jadi terlalu santai dan kurang maksimal. Terkadang berjalan lambat padahal maunya cepat. Mengukur diri juga perlu. Manajemen resiko diri untuk mengatur bagaimana nyaman nya kita menjalani hidup.
Penghujung tahun 2025 dengan berani memulai budidaya dengan niatan memberdayakan aset terbengkalai dan orang orang lingkungan sekitar. Awal yang lumayan struggle dan investasi yang gak sedikit bagi saya.
Alhamdulillah 2026 hasil nya sudah terasa.