REVIEW FILM LAUT BERCERITA.
Saya membaca bukunya pada tahun 2017, saat buku ini pertama kali terbit. Bersamaan dengan itu, diluncurkan juga film pendek yang menjadi sarana nobar dan diskusi di beberapa komunitas yang saya ikuti.
Ketika mendengar wacana bahwa akan dibuat versi film layar lebarnya, saya sudah membaca ulang buku ini beberapa kali dan anak saya yang sudah remaja membacanya juga. Tentu saja kemudian kami duduk bareng dan mendiskusikannya. Hal ini membuat pemahaman akan kisah ini juga semakin berkembang.
Tadi malam saya menonton filmnya bersama anak saya.
Sebelumnya saya sudah mengatur ekspektasi, dan bilang kepada diri saya sendiri, juga orang-orang yang mungkin bertanya apa harapan saya terkait dengan kemiripan film ini dengan novelnya.
Bagi saya, buku dan film adalah dua buah media penceritaan yang berbeda. Masing-masing punya dunianya. Sebab ada yang tidak bisa saling dipenuhi satu sama lain.
Film punya dimensi gambar, suara, nuansa dan hal-hal yang ketika membaca hanya ada di kepala.
Sebagai pembaca bukunya, tentu saja masing-masing punya bayangan akan seperti apa filmnya sesuai keinginannya, apalagi untuk saya yang ketika membaca membayangkan dengan sangat detail tidak hanya apa yang dikenakan dan mimik muka tokoh-tokohnya namun juga latar situasinya.
Sejak awal menonton, saya sudah dikejutkan dengan bagaimana film ini bisa memotret dan memvisualisasikan dengan sangat baik dan rinci apa yang ada di tahun itu.
Tahun-tahun yang meskipun terasa gelap dan kelam, adalah tahun yang menghidupkan diri gelora masa muda saya.
Saya serasa dibawa ke dalam lorong waktu.
Apa yang saya lihat di layar secara keseluruhan bisa menggambarkan apa yang kurang lebih saya bayangkan ketika membaca bukunya.
Saya melihat suasana, suara, rasa juga kepedihan, kegelisahan dan kemarahan yang sama yang saya alami di tahun itu.
Bahkan detail kecil seperti tulisan pada pager dan perangko yang ditempel pada amplop surat membuat saya berkaca-kaca.
Beberapa hal mungkin dibuat sedikit berbeda dan bisa jadi terasa kurang apabila dibandingkan dengan apa yang ada di bukunya, namun sebagai pembaca saya bisa memahami itu, sebab rezim 1998 itu sesungguhnya masih ada dan masih bersama kita saat ini, bahkan lebih buruk dari itu.
Film ini, bisa jadi salah satu cerminan untuk menilik dengan lebih jujur, sejarah kelam negeri yang kita cintai ini pada masa akhir orde baru dengan aktivisme dan pergerakannya, pergerakan yang juga menjiwai apa yang kita lihat dua hari belakangan ini.
Film ini bisa ditonton oleh mereka yang mungkin bahkan tidak terpapar oleh bukunya, bahkan tidak membacanya sedikit pun. Sebab film ini bisa jadi mewakili apa yang tidak terungkap dari sebuah masa.
Tontonlah film ini untuk merayakan nurani yang tidak pernah mati meski didera penderitaan karena bobroknya pemerintahan saat ini.
Film ini juga hangat dan pedih sekaligus sebab tidak lupa berbicara tentang keluarga dan kehilangan.
Terima kasih Mas @angginoen dan Mbak @leilaschudori
😘🫰🏼
8/10
BOIKOT RAFFI AHMAD
1. Hiburan: RANS Entertainment dan Trans7.
2. Kuliner: Raffi's Kitchen.
3. Ritel: Alfamart.
4. Telekomunikasi: Indosat.
5. Transportasi dan otomotif: Yamaha.
6. Pariwisata: Traveloka.
7. Media dan digital: RCTI dan MNC Play.
8. Produk konsumen: Sunsilk.
9. Properti dan gaya hidup: RANS Prestige.
VISIONER BANGET KOMIKA INI.
NONTON RIDWAN REMIN NGEROASTING PRABOWO, NIATNYA KETAWA, MALAH SPEECHLESS DAN BERLINANG AIR MATA.
pagii bang windah warga X Land Trisakti. Gimana nih sari masih tidur
Raffi ahmad rans willie salim. Guys udah ntn Laut Bercerita?
EMAK-EMAK MAHASISWA TRISAKTI PADA NGGAK TERIMA ANAKNYA DISEBUT PENDEMO BAYARAN. YA GIMANA NGGAK TERSINGGUNG, HARGA DIRI ANAKNYA DIPERTARUHKAN CUMA GARA-GARA DITUDUH DIBAYAR 50–100 RIBU WKWK
jadi gini kata beliau
kita kerja - bayar pajak - pajak buat program pemerintah - pajak naik - gaji ga naik - ya kita protes
kita protes itu wajar jir, pajak tinggi kalo pendapatan rendah mau gimana, meninggal yang ada mah, buzzer mana ngerti mikir gini jir
Selamat, Prabowo-Gibran dan jajarannya.
Aksi demo di Indonesia kini jadi sorotan dunia internasional.
Akhirnya dunia akan tau bagaimana negeri ini di kelola.
JUJUR GUE SENENG BANGET WOII AKHIRNYA GERAKAN BOIKOT RANS INI TERJADIIII
dari lama dah gedeg sama dia tapi belum juga kena-kena getahnya, tapi finally ketar ketir juga dia wwkwkwk
JAHAT banget kalau niatnya gitu 😤
Nessie Judge kuak kecurigaan kalau narasi demo pakai mahasiswa palsu emang sengaja digaungkan,
Nessie nulis, "Kemarin liat siapa ya yang bilang kalau emang mereka tuh sengaja ga brief mahasiswa2 palsu itu biar JELAS mereka bukan mahasiswa, jadi bisa digaungkan narasi *DEMO DI INDONESIA DILAKUKAN MAHASISWA PALSU* dan menutupi realita dari demonstrasi yang ASLI." 👀
From this to this, sebelum masuk ke studio vs sesudah film selesai. Ini adalah film yg penting di kala yg genting. Sisa rasanya akan bertahan lama. Akhir pekan ini bila ada keluangan, segera penuhi kursi2 bioskop untuk menonton Laut Bercerita.
Ulasan lengkap menyusul... :)
Buku akan selalu terasa lebih bagus daripada film adaptasinya. Karena versi terbaik dari cerita tersebut sebenarnya sudah 'tayang' lebih dulu di bioskop kepala kita masing-masing.
12 tahun lalu nonton Mockingjay di bioskop dan merinding pas part ini. Gak nyangka, sekarang malah hidup di negara yang rakyatnya ikut salam tiga jari
Gue kira The Hunger Games cuma fiksi. Ternyata based on true story. Cuma beda kostum sama arena doang. Vibes nya makin familiar
#INDONESIASADAR
Sarah Sechan ngerasa ada yang JANGGAL dari klarifikasi Raffi Ahmad soal acara Sumpah Pemuda di Bundaran HI 29 Oktober kemarin.
Dia nyentil klarifikasi Raffi yang bilang cuma diundang dan nggak tahu detail acaranya. Padahal di acara itu menurut Sarah, Raffi keliatan kayak spokesperson.
Sarah bilang kalo dia sendiri diminta jadi pembawa acara pasti selalu tanya detail dulu, mulai dari siapa yang bikin, konsep acara, siapa yang hadir, rundown, sampai siapa pengisinya.
Jadi nggak semua acara Sarah bisa terima. Lalu dia nanya sarkas ke Raffi, "Jadi maksudnya Anda kena PRANK?"
Sarah lanjut ngebahas soal prank itu. Kalo emang kena prank harusnya pas sampai di lokasi langsung keliatan siapa aja yang hadir.
Dia bisa tanya mereka yang ngaku mahasiswa itu dari kampus mana. Kalau ternyata bukan mahasiswa harusnya langsung ketahuan.
Tapi menurut Sarah, Raffi tetap ikut acaranya dan teriak "hidup mahasiswa!". Padahal bisa banget mutusin buat pergi dan itu namanya integritas.
Di kolom komentar, netizen nimbrung bilang heran kok Utusan Presiden kayak Raffi bisa kena prank acara sih. Sarah bales sambil ketawa nyeletuk soal atribut ikat kepala merah putih.
Di postingan terpisah, Sarah cerita soal "biggest flex"-nya.
Dia nggak pernah social climbing dan nggak ikut grup arisan atau lingkaran pertemanan yang isinya social climber. Sarah juga nggak pernah terima tawaran jadi tamu acara gosip di TV apalagi jadi MC acara partai.
Dia cinta kerja tapi nggak gila harta dan popularitas. Rumahnya nggak ada kolam renang, followers medsosnya nggak sampai setengah juta dan buat dia itu nggak masalah.
Yang penting kelakuannya nggak bikin anaknya malu, biar anaknya bisa bangga dan bilang "ibu is my teacher for life".
Dari sarkas soal kena prank sampai prinsip hidup, Sarah Sechan nih jadi bukti kalo vokal itu nggak harus ngegas yang penting isinya kena. Mantaphhh!!
Guys, ternyata di acara Indonesia Youth Summit pas Raffi jadi host, yang angkat tiga jari dan bersuara bukan cuma satu orang. barisan-barisan yang depan juga ikut. KERENN BANGET KALIANNN 😭🔥
ayo guys, jangan longgar. tetap terapkan CANCEL CULTURE.
📽️apoyhyung
🤍 duit pajak kalian lu noh dipake danatara jadi sponsor acara TIME100 Next Gala 2026 di New York.
negara indonesia lagi kena musibah, tapi giliran acara bule ginian ada uangnya buat sponsorin. hobi banget pemerintah buang uang rakyat!
STANDING APPLAUSE BUAT ABANGNYA 😭👏🏻
Abang ini berdiri sendiri mengangkat 3 jari, Raffi Ahmad didemo langsung ditempat acara.
BIG RESPECT BANG🫡✊🏼
#INDONESIASADAR