🧠artikel yang mind blowing soal kenapa kok tiba-tiba semua orang benci Lionel Messi
yang nulis adalah praktisi pemasaran dan pembentuk narasi profesional (narrative shaper). dia membedah bagaimana opini publik di media sosial dapat dimanipulasi secara masif dan cepat.
perubahan narasi kepada Messi yang menjadi fenomena risetnya
dari pahlawan yang dicintai seluruh dunia saat Piala Dunia 2022 menjadi sosok yang dilabeli "curang" atau "penjahat" empat tahun kemudian.
⏳
penulis menjelaskan mekanisme bagaimana suatu narasi diciptakan, disebarkan oleh algoritma, memanipulasi psikologi manusia, dan dipercepat oleh teknologi AI.
yang paling seram adalah bagian ini:
"Jika internet dan algoritma mampu merombak total reputasi seorang atlet yang paling banyak terdokumentasi dalam sejarah, bayangkan betapa mudahnya opini publik dimanipulasi dalam isu-isu kompleks yang tidak memiliki bukti rekaman 20 tahun. Misalnya seperti politik, perang, bisnis, kesehatan, atau kehidupan seseorang.”
baca ya. ini tulisan yang sangat menarik.
https://t.co/NZQ4ltEH3o
Sebenernya mikir harusnya 4 tahun lalu My GOAT udah pensiun. Tapi entah kenapa dia masih lanjutin sampai Final kemarin. Gendong timnasnya lagi.
Meskipun akhirnya tidak sesuai harapan, tak akan ada pemain lagi yang selevel dengan dia. Individu, klub, negara. Semuanya sempurna. 🐐
🚨📱| Leo Messi on IG: “The pain is immense, and it will take time for this wound to heal.
But I also choose to hold on to all the good things, the matches we turned around by giving everything, moments that will remain in our memories forever and the support of an entire country that, together with the work and effort of this group, brought us back once again among the best teams in the world.
Today, it is difficult to appreciate what we achieved, but this group reached two consecutive World Cup finals.
Thank you from the bottom of my heart for every greeting and every message. Once again, we managed to come together as a country and stand united, sharing the immense pride of being Argentine.
I also want to congratulate Spain on winning the championship.” 🇦🇷❤
Waktunya nggak lama lagi, Messi bakal ninggalin sepak bola.
Di MetLife Stadium, New Jersey, Messi jalan pelan menuju podium runner up. Bahunya sedikit membungkuk, matanya berkaca kaca saat medali perak digantung di lehernya.
Spanyol baru saja menang 1-0 lewat gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu. Argentina gagal pertahankan gelar. Tapi bagi jutaan orang yang nonton, malam itu bukan tentang kekalahan. Malam itu adalah tentang akhir sebuah era.
Messi berusia 39 tahun. Rambutnya sudah mulai memutih di pelipis, langkahnya nggak secepat dulu, tapi matanya masih sama. Penuh api, penuh cinta untuk sepakbola. Sepanjang turnamen cetak delapan gol, kasih assist krusial, dan bawa Argentina yang sempat terseok hingga final. Messi main kayak umur 29 tahun, bukan 39. Tapi usia nggak pernah bohong. Tubuhnya lelah, dan sepak bola tak lagi beri ruang untuk keajaiban selamanya.
Kita ingat Qatar 2022. Malam itu Messi mengangkat trofi yang selama 36 tahun tak pernah diraih Argentina. Air mata bahagia mengalir deras.
“Saya sudah lengkap,” katanya saat itu.
Tapi Tuhan memberinya satu babak lagi. Satu kesempatan terakhir untuk menari di panggung terbesar. "The Last Tango", begitu ia tulis di postingan sebelum final. Tango terakhir. Dan meski berakhir dengan nada sedih, tango itu tetap indah kok.
Bayangkan seorang anak kecil dari Rosario yang dulu menderita kekurangan hormon pertumbuhan, kini berdiri di final Piala Dunia untuk ketiga kalinya.
Lihat wajah para pemain Spanyol saat membuat guard of honour. Ada rasa hormat di mata mereka. Mereka tahu, mereka baru saja mengalahkan legenda hidup, panutan mereka sendiri.
Nggak lama lagi, Messi bakal ninggalin sepak bola. Mungkin beberapa bulan lagi di Inter Miami, mungkin satu atau dua pertandingan persahabatan terakhir dengan Argentina. Lalu lampu stadion akan padam untuknya. Nggak ada lagi momen ankara messi yang bikin bek lawan mati kutu. Nggak ada lagi senyuman malu malu saat ia mengangkat trofi.
Yang tersisa adalah warisan yang nggak bisa dihapus. Bukan hanya rekor gol, assist, atau Ballon d’Or. Tapi Messi ngajarin kita bahwa bakat saja tak cukup. Dibutuhkan hati yang besar, ketahanan yang luar biasa, dan cinta yang tak pernah pudar.
Untuk Leo, terima kasih. Terima kasih telah membuat jutaan anak di seluruh dunia percaya bahwa mimpi bisa diwujudkan meski berkekurangan dan tantangannya besar.
Kau bukan runner up malam ini, Leo. Kau adalah pemenang seumur hidup.
Sekarang, istirahat yang pantas. Dunia sepak bola akan terus berputar, tapi tak akan pernah sama lagi tanpamu.
Dari POV gue sendiri + pakai data.
Biar gak cuma ikut emosi, gue coba bedah mekanisme VAR dan istilah Attacking Possession Phase (APP) berdasarkan protokol IFAB resmi. Plus, kenapa lucu kalau langsung nyalahin Argentina.
Debat terkait Mesir dan Argentina udah menjalar nyampe ranah yang sangat ga sehat. Dimotorin oleh orang-orang yang engagement farming, rage baiting, dan memberi label-label di luar konteks laga. Era sekarang mungkin the worst sepanjang gw pake media sosial.
ironis bgt ampe isu palestina dipake buat nyerang messi cuma karena abis menang match
lebih aneh lagi, sekarang gampang bgt ngelabelin orang sebagai “zionist” perkara beberapa foto tanpa ngeliat konteks, latar belakang, atau bukti yg bener bener menunjukkan bahwa dia mendukung zionisme. padahal tuduhan seberat itu seharusnya dibangun dari pernyataan atau tindakan yg jelas
fans yg dukung messi dan argentina juga ikutan dicap zionist. maksud gue, emang sejak kapan dukung timnas otomatis ngedukung seluruh sikap politik negaranya?
aneh