@aetheriacademy Like a perennial plant that keeps growing back year after year from the same roots, I want to always show up for the people around me, staying loyal and dependable through it all, and adapting to whatever life brings without ever losing who I am
ㅤㅤ
1. Pelajari Wand Handbook yang telah disediakan untuk mengenal pilihan Wand Wood, Wand Core, Flexibility, dan Wand Length.
📎 https://t.co/ldJFj5JC4W
ㅤㅤ
"Sebelum gerbang Grand Hall dibuka bagi kalian," ujar Alex lembut, "setiap calon Aetherian perlu mencatatkan namanya terlebih dahulu ke dalam Registry of Aetheria."
Ia mempersilahkan mereka mendekat ke meja registrasi.
"Silakan menuju Registration Desk dan catatkan nama kalian ke dalam Registry of Aetheria."
Alex tersenyum hangat.
"Setelah itu... kita akan memulai perjalanan ini bersama."
Alex kemudian melangkah maju sambil membawa sebuah buku bersampul kulit yang telah terbuka di tangannya.
Ia berhenti di samping meja registrasi yang telah disiapkan di pelataran Grand Hall, lalu memandang para calon Aetherian dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.
"Selamat datang di Aetheria."
Suara Eirene terdengar tenang, namun cukup untuk membuat perhatian seluruh calon Aetherian tertuju padanya.
"Mulai hari ini, perjalanan baru akan dimulai. Semoga tempat ini menjadi awal dari kisah-kisah yang kelak akan selalu kalian kenang."
Untuk sesaat, Eirene membiarkan mereka menikmati pemandangan akademi yang akhirnya terbentang di hadapan mata.
Grand Hall berdiri megah di kejauhan, dikelilingi bangunan-bangunan tua yang selama ini hanya mereka dengar melalui cerita. Hari yang selama ini mereka nantikan akhirnya benar-benar tiba.
Gerbang utama Aetheria perlahan terbuka.
Di hadapannya, Head Guardian, Eirene, telah berdiri lebih dahulu. Di sampingnya, Guardian of Verdantis, Alex, menyambut setiap langkah para calon Aetherian dengan senyum hangat.
Jalan setapak yang semula lengang kini mulai dipenuhi wajah-wajah baru yang datang dengan rasa penasaran, harapan, dan sedikit kegugupan.
Fajar akhirnya tiba.
Sinar matahari perlahan menyinari bangunan-bangunan tua Aetheria yang semalam masih diselimuti keheningan. Embun pagi masih menggantung di dedaunan, sementara lonceng akademi mulai berdentang, menandai dimulainya hari yang telah lama dinantikan.
Pintu Grand Hall perlahan tertutup.
Malam kembali memeluk Aetheria dalam keheningan. Di balik dinding aula yang kini kosong, Crystal Heart masih memancarkan cahaya lembut, menjadi satu-satunya saksi atas malam yang perlahan berlalu.
Malam itu, tak ada satu pun Guardian yang mengetahui bahwa kisah yang akan dimulai esok hari akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan.
Eirene menjadi orang terakhir yang meninggalkan Grand Hall.
Ia berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh ke arah aula yang kini kembali sunyi.
Senyum tipis terukir di wajahnya.
"Sampai besok."
Malam semakin larut.
Satu per satu Guardian mulai meninggalkan Grand Hall setelah memastikan seluruh persiapan telah selesai.
Lentera-lentera dipadamkan, menyisakan cahaya Crystal Heart yang tetap bersinar lembut di tengah ruangan.
Alex memandang seluruh ruangan dengan kagum.
"Aku harap mereka menemukan tempatnya di sini."
Eirene menatapnya hangat.
"Bukan hanya tempatnya."
Ia tersenyum.
"Aku berharap mereka menemukan rumah."
Setelah semuanya selesai, para Guardian kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Meja penyambutan dirapikan.
Lencana akademi disusun kembali.
Tak ada satupun sudut Grand Hall yang luput dari perhatian mereka.
Beberapa Guardian lain mulai saling bertukar cerita.
Tentang penyambutan pertama mereka. Tentang kesalahan-kesalahan kecil yang pernah terjadi. Tentang murid-murid yang kini telah meninggalkan Aetheria dan melanjutkan perjalanan mereka di tempat lain.
Sesekali Kino dan Delouna saling menyahut ketika mengingat pengalaman pertama mereka sebagai Guardian, mengundang tawa kecil dari Guardian lainnya.
Malam itu, Grand Hall kembali terasa hidup.
Kino yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu ikut menyela. "Aku masih ingat penyambutan pertamaku."
“Aku juga…” Kata Delouna dengan senyum merekah mengingat masa indah kala menginjak tempat dimana ia berpijak.
"Rasanya seperti baru kemarin, ya?”