Eu realmente não entendo por que mais gente ainda não está usando isso.
Andrej Karpathy, cofundador da OpenAI, compartilhou uma ideia simples que já ultrapassou 16 milhões de visualizações: pare de usar IA apenas para escrever código e comece a usá-la para construir um segundo cérebro.
Você conecta o Claude Code a uma pasta, adiciona qualquer fonte de informação — artigos, transcrições, PDFs, anotações — e ele lê tudo, organiza, cria conexões e transforma esse conteúdo em uma wiki viva do seu conhecimento.
Quanto mais você alimenta o sistema, mais inteligente e útil ele se torna.
Funciona assim:
→ Instale o Obsidian, crie um Vault e abra-o no Claude Code
→ Cole o arquivo da wiki criado por Karpathy e peça para o Claude configurá-lo
→ O Claude cria três estruturas: uma pasta para fontes brutas, outra para as páginas da wiki e um arquivo CLAUDE.md para gerenciar tudo
→ Adicione qualquer conteúdo na pasta de fontes e diga: "analise e organize isso"
→ Depois, faça perguntas sobre qualquer informação armazenada, tudo fica conectado e pesquisável
Leva cerca de 5 minutos para configurar.
E o melhor: você nunca mais começa uma conversa do zero.
Salve este post para testar depois.
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
Guys, Felix Siauw baru ngomong sesuatu di podcast Helmy Yahya yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari seorang ustaz Indonesia dalam waktu lama.
Dan intinya satu kalimat yang langsung dilontarkan:
"Orang Indonesia tidak pernah menjadi Islam."
Bukan karena KTP-nya.
Tapi karena cara berpikirnya.
Masalah pertama
kita salah paham soal tawakal:
Felix kasih contoh yang sangat konkret.
Ada pesantren roboh.
Respons orang Indonesia:
"Qadarullah, ini takdir Allah."
Felix langsung potong:
itu bukan tawakal.
Itu kebodohan yang dibungkus agama.
Karena setiap insinyur teknik sipil yang melihat bangunan tiga lantai dengan pondasi yang salah sudah bisa prediksi itu akan roboh.
Tidak perlu menunggu roboh untuk tahu.
Dan kalau kita sudah tahu sebabnya tapi tidak dikerjakan lalu ketika roboh bilang qadarullah itu bukan pasrah pada Allah.
Itu menyalahkan Allah atas kelalaian kita sendiri.
Rasulullah memakai baju besi
dua lapis di medan perang.
Seorang sahabat tanya kenapa.
Jawabannya sederhana:
karena sebab akibat adalah bentuk tawakal yang sesungguhnya.
Bekerja sekeras mungkin baru serahkan hasilnya.
Masalah kedua
"enggak apa-apa mereka ambil dunia,
yang penting kita akhirat"
Felix bilang dia ingin kritik keras kalimat ini.
Karena logikanya terbalik total.
Cara masuk surga menurut ulama ada empat:
dengan ilmu,
dengan kekuatan,
dengan harta,
atau dengan doa.
Kalau kamu tidak punya ilmu,
tidak punya kekuatan,
tidak punya harta kamu hanya tersisa doa.
Dan kalau kamu bilang "yang penting akhirat" sambil tidak mengerjakan satu pun dari empat jalan itu dengan serius kamu sedang tidak mengejar akhirat.
Kamu sedang memakai akhirat sebagai alasan untuk tidak berusaha.
Rasulullah miskin bukan karena tidak bisa kaya.
Beliau miskin karena memilih memberi semua yang dimiliki kepada yang membutuhkan.
Miskin by choice bukan miskin karena tidak punya pilihan.
"Kalau dunia aja kamu enggak bisa nguasain,
jangan ngomong akhirat.
Akhirat itu lebih susah dari dunia."
Masalah ketiga
tidak ada critical thinking:
Ini yang paling mendasar dan paling merusak menurut Felix.
Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah adalah iqra baca, berpikir, analisa.
Di saat itu bahkan tidak ada buku.
Tidak ada perpustakaan.
Artinya perintah iqra bukan sekadar membaca teks tapi perintah untuk berpikir kritis terhadap segala sesuatu.
Tapi apa yang terjadi di Indonesia?
Pertanyaan dibungkam.
Otoritas tidak boleh diganggu gugat.
Santri yang dilecehkan menerima
karena percaya itu "ritual penyucian."
Orang tua yang anaknya diperlakukan tidak wajar diam karena takut melawan ulama.
Felix bilang ini adalah abuse of authority yang masif dan akarnya adalah ketidakmampuan berpikir kritis yang sudah ditanamkan sejak kecil.
Padahal bahkan Rasulullah sendiri melatih sahabat untuk tidak buta taat.
Ada sahabat yang diperintahkan pemimpinnya masuk ke dalam api sebagai hukuman.
Mereka ragu dan datang bertanya ke Rasulullah.
Jawaban Rasulullah:
"Untung kalian tanya aku.
Kalau kalian masuk,
kalian tidak akan keluar selamanya."
Dari situ keluar hadis:
taatlah kepada makhluk selama tidak bermaksiat kepada Allah.
Artinya Islam dari awal mengajarkan untuk mempertanyakan bahkan otoritas.
Masalah keempat faktor struktural yang sering dilupakan:
Felix tidak hanya menyalahkan internal.
Ada faktor eksternal yang sangat besar yang tidak boleh diabaikan.
Di zaman kolonial Belanda,
ada sistem pembagian kelas berdasarkan akta kelahiran STBL.
Kelas pertama orang Eropa.
Kelas kedua orang Arab, India, Cina.
Kelas ketiga pribumi dan pribumi Muslim ada di posisi paling bawah.
Akta kelahiran itu menentukan siapa yang boleh sekolah di mana, siapa yang boleh masuk restoran mana, siapa yang boleh masuk pemerintahan.
Bukan soal kemampuan tapi soal sistem yang dirancang untuk memastikan satu kelompok tidak bisa mengakses kekayaan dan pengetahuan.
Itulah mengapa sampai hari ini di daftar orang terkaya Indonesia dan dunia dominasi Muslim sangat kecil dibandingkan populasinya.
Ini bukan semata karena etos kerja.
Ini juga karena sistem yang dibangun ratusan tahun untuk menutup akses.
Korelasi yang menarik antara keyakinan dan peradaban:
Felix membawa temuan arkeologi di Gobeklitepe, Turki bangunan berusia 11.000 tahun yang mendahului rumah dan ladang pertanian.
Para arkeolog menyimpulkan bahwa manusia tidak membangun keyakinan setelah perutnya kenyang.
Justru sebaliknya keyakinan dibangun dulu,
baru peradaban lain mengikuti.
Ini membalik teori lama bahwa agama
adalah produk kemakmuran.
Ternyata keyakinan adalah fondasinya.
Tapi ada yang salah kaprah.
Felix memisahkan dengan jelas:
bukan agamanya yang menentukan maju atau mundur suatu bangsa tapi kepedulian.
Romawi maju bukan karena agama tertentu tapi karena mereka peduli pada kotanya,
pada infrastrukturnya, pada warganya.
Ketika kepedulian itu hilang Romawi hancur.
Bukan karena Tuhannya berubah.
Felix menyimpulkan dengan satu pertanyaan keras yang ditujukan kepada dirinya sendiri dan seluruh ulama Indonesia:
"Rasulullah bilang ilmu dicabut dengan wafatnya para ulama. Ketika ulama pergi tanpa meninggalkan warisan berpikir yang benar yang terpilih adalah pemimpin-pemimpin bodoh.
Dan pemimpin bodoh membuat kebijakan bodoh yang menghancurkan umatnya."
Artinya yang paling bertanggung jawab atas kondisi umat bukan politisinya. Bukan penjajahnya. Tapi mereka yang seharusnya mendidik cara berpikir dan memilih untuk tidak melakukannya.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan podcast Helmy Yahya bersama Felix Siauw. Semua pandangan adalah pendapat pribadi narasumber dalam konteks diskusi keagamaan dan peradaban. Pembaca dianjurkan untuk memverifikasi referensi sejarah dan hadis dari sumber primer.
sektor semen ini udah hancur karena oversupply, demand turun. Ditambah sekarang pasokan batubara nya krisis karena RKAB dipotong, utilisasi pabrik cuman 55-56%, ngeri banget. Sudah bottoming kah???
Guys, ada foto yang menurut gue bicara lebih keras dari seribu pidato kenegaraan.
Di foto itu ada Lawrence Wong Perdana Menteri Singapura.
Dia tiba di Cebu untuk KTT ASEAN.
Naik Singapore Airlines.
Penerbangan komersial biasa.
Turun dari garbarata seperti penumpang biasa.
Tidak ada foto dramatis keluar dari pesawat karena memang tidak ada yang spesial untuk difoto dia cuma turun dari pesawat komersial layaknya orang normal.
Di hari yang sama Prabowo tiba di Cebu dengan pesawat kenegaraan.
Diiringi Hercules yang khusus membawa Maung
dan segala kebutuhan rombongan.
Konteksnya yang membuat ini makin menohok:
Singapura adalah salah satu kreditor terbesar Indonesia.
Utang Indonesia ke Singapura gabungan swasta, BUMN, dan berbagai instrumen lainnya mendekati Rp1.000 triliun.
Jadi analoginya begini:
ada orang yang punya utang ratusan miliar ke tetangganya.
Terus ada acara arisan di kompleks.
Si tetangga yang punya piutang ratusan miliar itu datang naik ojek santai, tidak perlu pamer.
Sementara si yang punya utang ratusan miliar datang naik Lexus dikawal Alphard dan Innova berjejer.
Itu bukan gaya hidup orang kaya.
Itu gaya hidup orang yang ingin terlihat kaya.
Dan bedanya sangat jauh.
Yang paling ironis:
Maung kendaraan yang dibawa dengan Hercules untuk dipamerkan di KTT ASEAN adalah mobil yang komponen lokalnya masih diperdebatkan.
Masih banyak bagian yang diimpor.
Masih jauh dari bisa disebut produk murni Indonesia.
Jadi kita membawa Hercules khusus untuk memamerkan mobil yang belum sepenuhnya Indonesia ke forum internasional sementara PM negara yang kita utangi hampir Rp1.000 triliun datang naik penerbangan komersial tanpa drama apapun.
Dan yang paling menyakitkan:
Prabowo dan Gerindra dulu adalah yang paling keras menyindir gaya pamer pemerintah sebelumnya.
Mereka yang paling lantang bicara soal efisiensi, kesederhanaan, dan tidak menghamburkan uang negara untuk gengsi.
Hari ini tidak ada yang bisa menjelaskan dengan muka lurus kenapa PM negara sekaya Singapura cukup naik SQ komersial,
sementara Indonesia yang defisit anggarannya Rp240 triliun di Q1 2026 saja merasa perlu membawa Hercules untuk urusan protokoler kenegaraan.
Kesederhanaan bukan tanda kelemahan.
Lawrence Wong tidak terlihat lemah dengan naik penerbangan komersial.
Justru sebaliknya dia terlihat seperti pemimpin yang tahu bahwa uang negara bukan untuk membiayai penampilan.
Sementara kita dengan segala tekanan fiskal, rupiah yang tertekan, dan defisit yang melebar masih merasa perlu membuktikan sesuatu dengan cara yang justru memperlihatkan ketidakamanan kita sendiri.
Bangsa yang benar-benar besar
tidak perlu selalu terlihat besar.
Bangsa yang benar-benar percaya diri tidak perlu membawa Hercules untuk membuktikannya.
Coach Shin Tae-yong (STY)
baru aja buka-bukaan
soal rahasia dapurnya di timnas,
mulai dari taktik ngalahin Jerman
sampe obsesi besarnya buat Indonesia.
Pas Korea Selatan ngalahin Jerman
itu bukan cuma hoki
STY punya resep Ultra
- Dia selalu "ngeramasin" (kritik tajam dan motivasi intens) pemainnya. Kedisiplinan itu harga mati.
- Dia instruksiin pemain buat lari lebih banyak dari biasanya. Pemain harus rela berkorban buat temannya di lapangan.
- Julukan ini didapet dari jurnalis karena STY pas main dulu gak terlalu tinggi, tapi dia licik (pintar), pake insting, dan otak buat gerak di lapangan.
Pas pertama dateng ke Indonesia tahun 2019, STY kaget setengah mati pas ngelakuin Beep Test (tes fisik):
- Banyak pemain bintang kita yang ngerasa jago, tapi hasil tes fisiknya cuma selevel anak SD atau SMP (di bawah 30-35).
- STY langsung nyingkirin pemain yang skill-nya oke tapi fisiknya loyo dan gampang nyerah. Dia bilang: Sepak bola itu main 11 orang, kalau gak punya fisik dan attitude, coret
STY udah tinggal lama di sini, tapi ada hal yang bikin dia bengong:
- Awalnya dia kira itu manusia besi beneran.
Dia kasihan dan sempet sering kasih uang 100 ribu per orang selama 3 tahun.
Eh, pas tau itu organisasi dan "scam", dia langsung berhenti kasih.
Dia bingung gimana cara mereka mandinya
- Kesan pertamanya ke Indonesia itu cuma satu: Macet
Dari bandara ke hotel aja bisa 3 jam.
Walaupun STY aslinya gak terlalu suka pedas atau asin, dia punya hubungan unik sama makanan lokal:
- Gudeg Mania: Dia suka banget Gudeg Jogja.
Bahkan dia tau tempat legendaris kayak Gudeg Pawon yang makannya langsung di dapur.
- Ulek Sambal: Dia sempet belajar ulek sambal sendiri, Katanya sambal itu unik karena jenisnya banyak banget.
Di Korea, dia jadi host acara variety show yang isinya nontonin anaknya pacaran sama anak artis lain.
Dia sekarang lagi fokus ngebangun akademi buat usia dini di Indonesia bareng Clear.
Satu hal yang paling bikin bangga:
STY itu sebenernya dapet tawaran dari klub Bundesliga Jerman
tapi dia lebih milih tantangan di Indonesia.
Dia penasaran kenapa pemain Indonesia skill-nya bagus tapi prestasinya susah naik.
Sekarang, dia lagi "ngeramasin" generasi baru kita biar fisiknya gak kayak anak SD lagi
Di hukum internasional, ruang udara itu beda banget sama laut. Di laut, kita kenal istilah Innocent Passage (Hak Lintas Damai) berdasar UNCLOS. Artinya, kapal militer asing boleh lewat laut teritorial kita asal nggak macem-macem.
TAPI, di udara, tidak ada yang namanya Hak Lintas Damai! Menurut Konvensi Chicago, ruang udara di atas daratan dan perairan negara adalah kedaulatan mutlak dan eksklusif. Pesawat sipil asing saja harus punya izin melintas, apalagi pesawat militer.
Soooo mengizinkan sistem blanket overflight untuk armada tempur asing sama dengan mendelegasikan sebagian kedaulatan mutlak negara ke tangan negara lain.
Ini adalah privilese yang biasanya hanya diberikan kepada negara sekutu terikat pakta pertahanan (seperti NATO), bukan kepada negara berstatus Non-Blok.
Kalau Indonesia sampai ngasih ini ke AS, secara teknis kita telah me-redefinisi ulang arti kata kedaulatan dalam konstitusi kita sendiri.
Guys, Benix baru bahas sesuatu yang sangat penting dan relevan banget dengan situasi global sekarang — soal nasib Singapura di tengah krisis Hormuz dan apa artinya buat Indonesia. Mari kita bedah faktanya dengan jujur.
Benix bilang ekonomi Singapura bakal minus 3% berdasarkan data dari Eurasia Group, Bloomberg, IMF, dan International Energy Institute. Dan Lawrence Wong sendiri sudah bilang terang-terangan bahwa ini bukan badai sebentar ini akan berlangsung lama dan berdampak ke lapangan kerja termasuk fresh graduate yang bakal susah dapat kerja. Ini bukan horor ini pernyataan resmi pemimpin Singapura sendiri.
Kenapa Singapura bisa separah itu? Logikanya sederhana dan Benix menjelaskannya dengan tepat. Singapura tidak punya sumber daya alam sama sekali. Minyak mentahnya impor, gasnya impor, batu baranya impor. Mereka adalah middleman beli energi murah, olah, jual lagi.
Begitu harga energi global meledak akibat blokade Selat Hormuz, model bisnis mereka langsung hancur. Biaya produksi naik, margin tertekan, harga jual jadi tidak kompetitif. Ditambah lagi sebagai hub penerbangan dan pelabuhan global, semua sektor itu sangat tergantung energi murah yang sekarang sudah tidak ada lagi.
Indonesia justru diuntungkan dan ini yang Benix tekankan keras. Kita adalah net eksportir energi. Batu bara kita, gas kita begitu harga global naik, pendapatan ekspor kita naik.
Data dari Eurasia Group bahkan menunjukkan Indonesia bisa dapat dampak positif hampir 1% ke pertumbuhan ekonomi dari krisis ini. Ini bukan teori ini logika ekonomi dasar yang konsisten.
Tapi Benix juga jujur soal kelemahan kita yang sangat memalukan. Kita ekspor batu bara dengan harga yang selalu lebih murah dari indeks Newcastle Inggris padahal itu sumber daya kita sendiri yang jumlahnya terbatas dan tidak bisa dipulihkan.
Di sisi lain kita impor minyak dengan harga mahal lalu dibakar untuk kendaraan logistik dan pembangkit diesel di pulau terpencil. Kita jual murah beli mahal itu bukan kebijakan ekonomi yang cerdas, itu kebijakan yang merugikan rakyat sendiri.
Dan bagian yang paling kontroversial dari konten Benix ini adalah soal sistem demokrasi multipartai. Benix menyebut sistem multipartai sebagai beban yang menciptakan bagi-bagi kursi bukan meritokrasi, dan membandingkannya dengan Singapura, China, dan Vietnam yang bisa bergerak cepat karena satu arah kepemimpinan.
Ini argumen yang menarik tapi perlu dikritisi juga. Benar bahwa sistem multipartai menciptakan inefisiensi dan kompromi politik yang melelahkan. Tapi negara otoriter punya masalah yang sama korupsi di China masih masif, Vietnam masih berjuang dengan transparansi, dan Singapura yang disebut sebagai model terbaik pun sekarang sedang kewalahan menghadapi krisis yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan efisiensi birokrasi.
Yang paling gua setuju dari analisis Benix adalah peluang yang dia sebut soal brain drain dari Singapura ke Indonesia. Fresh graduate Singapura yang cemas, profesional yang kehilangan pekerjaan, talenta-talenta terbaik yang tiba-tiba tidak punya kepastian itu adalah sumber daya manusia kelas dunia yang kalau Indonesia bisa tarik dengan insentif yang tepat, dampaknya ke ekonomi kita bisa sangat signifikan.
Tapi untuk bisa melakukan itu Indonesia harus berbenah serius soal kepastian hukum, birokrasi, dan ekosistem bisnis yang sampai sekarang masih menjadi hambatan terbesar.
Intinya guys krisis Hormuz ini adalah ujian sebenarnya apakah Indonesia bisa mengkonversi keuntungan strukturalnya sebagai net eksportir energi menjadi lompatan ekonomi yang nyata atau kita cuma jadi penonton yang cuan sebentar tapi tidak bisa membangun fondasi yang lebih kuat untuk jangka panjang.
As a fisikawan ini VALID
Sedari sekolah kita diajarkan fisika tuh kaya gini
ketemu soal → cari rumus → masukin angka → selesai.
Misalnya gini yah, ada suatu rumus dasar tentang gaya yaitu (F = m.a). Di sekolah, guru kita langsung ngajarin substitusi angka ke dalam rumus. Kita ga diajarin analisis seperti
“Ini gaya dari mana?”
“Kenapa arahnya begitu?”
“Kalau kondisinya diubah, hasilnya gimana?”
Padahal rumus F = m.a
Adalah sebuah cerita bahwa gerak benda akan berubah ketika diberikan sebuah gaya, dan perubahannya berdasarkan berapa besar massa bendanya...
End up di kelas fisika jadi kelihatan spt matematika mekanis. Padahal fisika berbeda dgn matematika, inti FISIKA adalah MODEL REALITAS ALAM. Harus belajar gimana analisis situasi dulu (free body, arah gaya, energi mengalir ke mana), baru rumus dipakai buat ngecek atau memperjelas.
Di jepang fisika jadi menyenangkan karena guru memakai konsep kehidupan sehari-hari.
Contoh simpel:
Untuk nyeritain materi GLBB (Gerak Lurus Berubah Beraturan) mereka memilih jelasin konsep "naik motor terus ngerem mendadak".
Itu sebenernya fisika apaa?? Apakah ada gaya gesek, percepatan, arah gerak, momentum berubah??
Nah hal itulah yang dianalisis, ketika sudah paham konsep maka siswa ga perlu hafal rumus udah tau harus menghitung seperti apa.
Tapi aku ga akan nyalahin guru guru fisika di Indonesia. Yang salah jelas pemerintah memberi gaji guru kecil bgt, belum lagi beban administrasi terlalu banyak. Guru jadi ga fokus bikin media pembelajaran yang baik dan juga fokus cari side hustle utk bertahan hidup.
We just saw the exact moment a star exploded for the first time ever.
Astronomers have achieved a rare feat: imaging the exact moment a massive star detonated—and the explosion was anything but spherical.
SN 2024ggi, a supernova located 22 million light-years away in the spiral galaxy NGC 3621, was detected a mere 26 hours after ignition. This extraordinarily early discovery allowed researchers to train the European Southern Observatory’s Very Large Telescope in Chile on the event while it was still in its infancy.
Using the technique of spectropolarimetry—which analyzes the polarization of light to reveal geometric structure—the team uncovered a surprising truth: the expanding shockwave was distinctly aspherical, elongated into an “olive” or prolate shape along one primary axis.
This asymmetry means the catastrophic rebound following the star’s core collapse did not propagate uniformly in all directions, directly contradicting the long-standing assumption that the deepest layers of a core-collapse supernova explode spherically.
The progenitor was a red supergiant 12–15 times more massive than the Sun that had exhausted its nuclear fuel, triggering gravitational collapse of its iron core. In most supernovae, the initial shape of this breakout is quickly obscured as the blast wave slams into the star’s outer envelope. Here, however, astronomers captured polarized light signatures of the still-unobscured ejecta, freezing the explosion’s geometry in time.
The discovery carries far-reaching consequences. It strongly suggests that asymmetry is common, if not universal, in the earliest phases of massive-star deaths. Current theoretical models, which often assume spherical symmetry at the core, will need significant revision. Moreover, these distorted explosions could help explain observed peculiarities in supernova remnants, the production of gamma-ray bursts, and the kicking of neutron stars and black holes to high speeds at birth.
By catching a star in the act of dying asymmetrically, SN 2024ggi has given us a vivid glimpse into the violent, chaotic physics that govern the final heartbeat of the universe’s most massive stars.
[🎞️ Artist’s animation of a supernova explosion]
[Unique shape of star’s explosion revealed just a day after detection. ESO, 2025]
Untuk pertama kalinya dlm sejarah, kita benar2 “melihat” detik2 sebuah bintang meledak!
Bayankan ini deh: bintang raksasa merah (red supergiant) yg 12–15 kali lebih berat dari Matahari kita sdh kehabisan bahan bakar. Inti besinya runtuh krn gravitasi, dlm hitungan detik, suhu & tekanan naik gila2an.
Ledakan yg keluar (shockwave) ternyata bkn bulat sempurna seperti yg selama ini kita kira. Dgn memakai alat spectropolarimetry di Very Large Telescope ESO Chile, ilmuwan menangkap bentuknya lonjong (prolate shape). Artinya ledakan mengarah ke 1 sumbu lebih kuat, bkn merata ke segala arah.
Knp ini penting?
Selama ini teori kita blg “ledakan supernovae pasti simetris”. Ternyata tdk. Asimetri ini bisa menjelaskan:
- knp lubang hitam dan bintang neutron sering “terpental” dgn kecepatan tinggi ke seluruh galaksi,
- kno ada semburan sinar gamma atau gamma-ray burst super kuat, dan
- knp sisa ledakan di langit (supernova remnant) bentuknya aneh2.
Dari kacamata fisika: ini lagi2 soal entropi dan chaos. Alam semesta tdk suka keteraturan sempurna, bahkan kematian bintang pun penuh kejutan dan arah yg tdk terduga.
Sama seperti arrow of time yg saya bahas kemarin: ketidakteraturan membuat segalanya bergerak maju.
Mungkin saja sih “model kita selama ini salah”, tapi yaaa excited krn alam semesta ternyata jauh lebih liar dan indah.. ✨💫
Guys kata Raymond Chin Indonesia itu negara kaya yang terus-terusan miskin bukan karena tidak ada uang masuk. Tapi karena uang yang mau masuk selalu dijegal di tengah jalan.
FDI atau investasi asing kita turun 22% tahun lalu. Tahun ini turun lagi 7%.
Penurunan terdalam sejak 2020.
Bukan karena investor tidak tertarik.
Tapi karena mereka kapok.
Di Vietnam izin investasi selesai 24 hari.
Malaysia 5 hari.
Indonesia rata-rata 260 hari.
Dan itu belum termasuk izin daerah dan izin-izin lain yang tidak tercatat. Satu proyek bisa butuh 7 sampai 12 instansi berbeda. Dan setiap ganti menteri aturannya bisa berubah lagi dari nol.
Warren Buffett pernah bilang investor itu bukan takut risiko.
Mereka takut ketidakpastian.
Dan Indonesia juara dunia di bidang ketidakpastian itu.
World Uncertainty Index menempatkan Indonesia di angka paling rendah sejak 1952 artinya kita negara yang paling tidak konsisten secara kebijakan selama puluhan tahun terakhir.
Raymond kasih contoh konkret yang menurut gw paling menggambarkan masalah ini.
Eiger brand lokal yang hampir semua orang Indonesia kenal invest lebih dari 800 miliar untuk bangun kawasan ekowisata di Puncak Bogor.
Izinnya sudah keluar dari Kementerian Lingkungan Hidup sejak 2019.
Groundbreaking-nya dihadiri pejabat pusat. Digadang-gadang jadi ekowisata percontohan nasional.
Tahun 2025 proyeknya disegel.
Padahal dari data yang Raymond riset pembangunannya hanya pakai 0,15 persen zona taman nasional.
Jauh di bawah batas 10 persen yang diizinkan.
Sudah ada kolam retensi.
Sudah ada 205 sumur resapan. Konsepnya zero run off justru dirancang untuk mengurangi banjir bukan menambah.
Tapi tiga otoritas berbeda baca aturan dengan cara berbeda.
Dan proyek senilai 800 miliar itu sekarang dihold.
Lapangan kerja 1.200 orang tidak jalan.
Dan ini bukan kasus satu-satunya.
BKPM mencatat ada 700 triliun investasi mangkrak hanya karena masalah izin yang tidak selesai-selesai.
Raymond bilang satu kalimat yang gw rasa paling jujur dari semua yang dia sampaikan.
Maria Elka Pangestu pernah bilang Indonesia punya segalanya untuk jadi pemimpin ekonomi hijau.
Tapi seringkali pemerintahnya sendiri yang jadi penghalang.
Kita bukan negara miskin.
Kita negara yang terlalu takut dengan pertumbuhan.
Guys lebaran 2016 ada kejadian yang sampai sekarang gw rasa belum pernah benar-benar dipertanggungjawabkan secara serius.
Namanya tragedi Brexit.
Bukan Brexit Inggris.
Tapi Brebes Exit pintu keluar tol Brebes Timur.
Ceritanya begini.
Pemerintah baru saja resmikan ruas tol Pejagan-Brebes Timur.
Bangga banget.
Dipamer-pamerin.
Jokowi gunting pita.
Janji waktu tempuh Jakarta ke Jawa Tengah bakal jauh lebih cepat.
Jutaan pemudik percaya.
Masuk tol semua.
Tapi ada satu masalah yang tidak ada yang pikirin sebelumnya.
Tolnya belum tersambung sampai mana-mana. Ujungnya buntu di Brebes Timur.
Dan begitu jutaan kendaraan keluar dari tol kecepatan tinggi mereka langsung ketemu jalan arteri pantura yang sempit, pasar tumpah, dan persimpangan biasa.
Bottleneck.
Kemacetan total.
Puluhan kilometer.
Tidak bergerak lebih dari 24 jam.
Di dalam mobil suhu Brebes saat itu 33 sampai 35 derajat Celsius. AC menyala terus supaya tidak kepanasan.
Tapi mesin menyala terus bikin gas karbon monoksida dari ribuan knalpot numpuk di satu titik dan merembes masuk ke kabin.
Tidak matikan AC juga tidak aman di panas segitu heat stroke bisa mematikan terutama lansia dan anak-anak.
BBM habis.
SPBU kosong.
Air mineral dijual pedagang dadakan dengan harga berlipat-lipat.
Ambulans tidak bisa masuk karena bahu jalan juga penuh kendaraan yang nekat menyalip.
Hasilnya 12 sampai 17 orang meninggal.
Bukan karena kecelakaan.
Tapi karena keracunan karbon monoksida.
Heat stroke.
Dehidrasi akut.
Kelelahan ekstrem.
Serangan jantung.
Mati karena macet.
Dan ini yang paling bikin gw marah dari semua yang gw baca.
Tidak ada satu pun pejabat yang dimintai pertanggungjawaban secara serius.
Tidak ada audit kebijakan yang dibuka ke publik. Tidak ada penetapan ini sebagai kegagalan sistemik.
Yang ada kalimat klise soal volume kendaraan di luar prediksi. Evaluasi dilakukan setelah kejadian.
Sistem one way, contraflow, e-tol semua itu baru dibenerin setelah orang sudah mati.
Bukan sebelum.
Dan ini polanya selalu sama di Indonesia.
Infrastruktur dibangun untuk dipamerkan.
Diresmikan sebelum siap.
Dipotret untuk kampanye.
Dan ketika ada yang mati di atasnya itu masuk statistik mudik tahunan. Bukan kegagalan kebijakan.
Tol dibangun tanpa mikirin ujungnya kemana. Gerbang tol tidak siap menampung volume.
Tidak ada protokol darurat.
Tidak ada koordinasi antar lembaga.
Polisi di setiap daerah sibuk mastiin kemacetan tidak terjadi di wilayahnya masing-masing akibatnya semua menumpuk di satu titik dan meledak di Brebes.
Kamar Film nyimpulin dengan satu kalimat yang gw rasa paling jujur.
Selama keberhasilan negara diukur dari berapa kilometer tol yang dibangun bukan dari berapa nyawa yang terlindungi tragedi seperti ini akan selalu mungkin terulan
Kita bukan kekurangan jalan.
Kita kekurangan pemimpin yang menghitung nyawa lebih penting dari foto gunting pita.
Mie Gacoan bukan kebetulan lahir di Malang (@PemkotMalang). Ini yang jarang dibahas @lambe
***
Malang punya sesuatu yang tidak dimiliki kota lain.
Kepadatan mahasiswa yang ekstrem relatif terhadap ukuran kotanya. UB (@UB_Official@ubsansfess ) , UMM, UM, ITN, Unisma, semua dalam radius yang bisa ditempuh dengan motor.
Itu artinya satu hal bagi entrepreneur, pasar uji coba yang paling jujur di Indonesia.
Mahasiswa tidak loyal karena brand. Mereka loyal karena value for money. Kalau produkmu bertahan di Malang, dia bisa bertahan di mana saja.
***
Ekosistem ini tidak tiba-tiba muncul.
Benih awalnya justru dari krisis 1998.
Ketika lapangan kerja formal kolaps, Malang — dengan basis mahasiswanya yang besar — melahirkan gelombang wirausaha kecil yang terpaksa kreatif. Warung, konveksi kecil, industri camilan rumahan. Budaya "jualan" itu mengendap dan diwariskan ke generasi berikutnya.
***
Yang membedakan Malang dari Surabaya atau Jogja:
Surabaya terlalu mahal untuk eksperimen. Jogja terlalu "lifestyle", banyak yang puas di skala kecil.
Malang punya kombinasi unik: biaya hidup rendah + pasar kritis + kultur kompetisi yang sehat.
Itu kenapa Mie Gacoan bisa iterasi modelnya berkali-kali sebelum ekspansi, tanpa bakar duit besar.
***
Malang bukan Silicon Valley-nya Indonesia.
Tapi mungkin justru itu kelebihannya. Inovasi di sini lahir dari keterbatasan, bukan dari funding.
Dan yang lahir dari keterbatasan biasanya jauh lebih tahan banting.
Buat yang gatau isi apaan, jadi isi intinya begini. Prabowo bilang dia disalahpahami oleh para pelaku pasar keuangan.
Dan mereka pada akhirnya akan mengerti sendiri.
Gw perlu berhenti sebentar di situ.
Kepala negara dari ekonomi terbesar keempat di Asia Tenggara di tengah kondisi rupiah 17 ribu, IHSG minus lebih dari 20% dari puncak, rating outlook diturunkan Moody's dan Fitch, outflow asing puluhan triliun, dan perang di Timur Tengah yang bikin harga minyak meledak responnya adalah pasar yang salah paham dan nanti juga ngerti sendiri.
Bukan evaluasi kebijakan.
Bukan akui ada yang perlu diperbaiki.
Tapi pasar yang perlu belajar lebih sabar.
Ini bukan tahun 90an di mana informasi bisa dikontrol dan publik hanya terima apa yang dibilang pejabat.
Pasar itu bukan entitas abstrak yang bisa diceramahi. Pasar adalah jutaan keputusan dari investor domestik dan asing yang masing-masing punya data, analis, dan kalkulasi sendiri. Kalau mereka keluar itu bukan karena mereka tidak mengerti visi besar. Itu karena angkanya tidak masuk akal untuk mereka.
Dan konglomerat yang diajak sparring itu bukan orang yang tidak tahu kondisi Indonesia.
Mereka yang paling tahu.
Mereka yang taruh uang paling besar di sini.
Kalau mereka skeptis itu bukan karena mereka anti Prabowo.
Itu karena mereka baca spreadsheet-nya dan angkanya membuat mereka khawatir.
Pemimpin yang kuat tidak perlu bilang pasar salah paham.
Pemimpin yang kuat kasih data yang lebih baik. Kebijakan yang lebih konsisten.
Dan komunikasi yang membuat orang merasa kondisinya dipahami bukan dibantah.
Yang terjadi sekarang adalah sebaliknya.
Dan Bloomberg yang nulis ini bukan media pinggiran. Ini dibaca oleh fund manager di New York, London, Singapura, Tokyo semua orang yang keputusannya menentukan apakah uang masuk atau keluar dari Indonesia.
Artikel seperti ini tidak membantu rupiah.
Tidak membantu IHSG.
Tidak membantu siapapun.
Kecuali yang butuh konfirmasi bahwa sudah waktunya keluar.
Jadi Tau kan kenapa akhir2 ini asing deres keluar nya ??
Guys kata Tom Lembong di podcast Malaka dan ini salah satu yang paling jujur yang gw dengar dari mantan pejabat Indonesia soal kondisi sekarang.
Dia bilang kebijakan luar negeri Indonesia sekarang paling berantakan sejak 1965.
Bukan sejak 1998. B
ukan sejak reformasi. Tapi sejak 1965.
Dan dia kasih contoh konkret yang bikin gw tidak bisa bantah.
Beberapa minggu lalu Indonesia bergabung ke Board of Peace yang diketuai Amerika dan Israel.
Seminggu setelah itu Amerika dan Israel menyerang Iran.
Sekarang Indonesia ngemis ke Iran minta kapal tanker kita boleh lewat Hormuz.
Dan Iran dalam kondisi marah besar habis diserang mau simpati ke kita?
Itu konsekuensi langsung dari kebijakan luar negeri yang tidak berprinsip.
Soal energi ini yang paling bikin gw ngeri.
Stok BBM dan LPG nasional kita hanya ekuivalen dengan 20 sampai 25 hari konsumsi.
Itu saja.
Kalau Hormuz tidak buka dalam 25 hari puluhan kota di Indonesia bisa kehabisan bensin dan gas.
Ibu ibu tidak bisa masak.
Logistik lumpuh.
Bukan skenario jauh.
Itu risiko yang menurut Tom Lembong sangat nyata dan sangat dekat.
Bandingkan dengan Jepang yang stoknya 250 hari. China yang stoknya 1,3 miliar barel.
Mereka sudah siap dari jauh jauh hari.
Kita masih 20 hari dan tidak ada rencana darurat yang jelas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari semua yang dia bilang.
Tahun lalu harga minyak dunia lagi murah.
Surplus 2 juta barel per hari.
Itu saat yang sempurna untuk borong dan nambah cadangan nasional.
Tapi tidak dilakukan.
Uangnya dialihkan ke program program lain yang multiplier effect-nya kecil yang kita sudah tau semua itu yaps EMBEGE
Soal tarif Trump Indonesia panik duluan. Buru buru negosiasi. Dapat kesepakatan tarif 19%. Eh satu hari kemudian Mahkamah Agung Amerika batalkan tarif itu karena ilegal. Negara yang tidak panik sekarang cukup bayar 10%. Kita yang paling semangat negosiasi malah kena 19%.
Tom Lembong bilang ini pelajaran lama yang terus diulang. Kalau kita tinggalkan prinsip demi keuntungan jangka pendek hasilnya selalu buruk. Selalu.
Dan kata dia satu satunya hal yang bisa dilakukan masyarakat sekarang hemat. Kencangkan ikat pinggang. Nabung. Dan mulai pikirin alternatif kalau LPG benar benar langka.
Karena pemerintah sendiri belum punya solusinya.
Pertanyaan ini sering dianggap "skakmat" sama atheis "edgy"
Padahal ini justru menunjukan tidak paham bedanya Temporal Causality sama Vertical Causality
Sebagai mantan atheis, sini saya jelaskan dengan analogi Alam Semesta ini kayak menara Jenga
Bismillah 🧵
Saya bukan pakar, tapi saya lumayan mengikuti dinamika di Timur Tengah. Kita di Indonesia sebetulnya pernah mengalami fase ketika perbedaan Sunni-Syiah nyaris tidak menjadi isu. Pada dekade 2000-an, Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad justru dipuja sebagai simbol keberanian melawan hegemoni Barat dan Israel.
epstein files malah semakin membuktikan kalo kita emg butuh ‘rules’ dalam hidup dan make sense kalo akhirat itu ada.
bayangin, org org sekeji itu, di dunia ini apakah akan dihukum? dengan segala power yg mereka punya? hampir mustahil.
dunia gaakan pernah adil. segala cara akan dilakukan oleh mereka utk bebas dari pengadilan manapun. hanya bisa diadili di hari dan alam dimana tidak ada satupun manusia yg bisa membela dirinya, ditelanjangi habis habisan, diadili seadil adilnya, semua anggota tubuh bersaksi, semua korban menuntut.
amit amit naudzubillah min dzalik