Andai Kau tahu.
Demi mimpi buruk dan rasa takut
Aku benar-benar mengutuk malam.
Jauh sebelum ia menunjukkan wajah aslinya.
Jauh sebelum para pemulung itu tidur berbantal karung berisi sampah, usai mengais seharian.
Jauh...!
@PelangiPuisi
Ada yang lebih manusiawi dari meminta maaf saat lebaran. Yakni, dengan tidak memamerkan foto keluarga kecil dihadapan orang-orang yang tidak memiliki kesempatan berkumpul dengan keluarganya.
Hidup tanpamu aku tak tahu menjadi siapa?
Batu hitam di bantaran kali terlalu lembut
Tumpukan sampah di tempat-tempat pembuangan terlampau wangi
Betapa hamba yang buta akan cinta, tidak lebih baik dari serangkaian alam semesta.
@PelangiPuisi
Sewaktu kecil aku selalu merindukan hari libur
Hari libur yang basah
Hari libur yang semi
Hari libur yang kering
Dan hari libur yang gugur
Menginjak dewasa, aku sadar
Aku ingin melembur di hari libur.
@PelangiPuisi
Betapa yang kutakutkan itu benar-benar menampakkan wujudnya
Di langit-langit kamar ia tersenyum ke arahku dan menghilang seketika tanpa perpisahan.
Apakah itu yang dinamakan hantu, Tuhan?
Atau hanya kenangan?
@PelangiPuisi
Sedang kutulis kata
Yang tak kau mengerti maknanya
Yang hanya bisa dibaca para pecinta
Yang berkecamuk tiga hari tiga malam dalam hati
Setelah kau sampaikan maaf berulang kali.
Kini telah kutulis kata itu
Dalam ingatan masa kelammu
Kau bisa membacanya: Asu
@PelangiPuisi
Di antara gigil pohon pinus
Langkahku beku menghadapmu
Mencintaimu seperti berjalan di tengah-tengah medan perang
penuh ribuan anak panah melayang di cakrawala.
Menjadimu berarti siap menjadi tahanan perang bukan?
@PelangiPuisi
Darah senja mengguyur desa ku
Kuyup tak dapat kering
Anak-anak yang ditinggal ladang bapaknya
Terkubur dibawah gedung-gedung yang menjulang
Dengan lapar dan dingin menggerus tulang.
@PelangiPuisi#Puisipendek
Seperti kata "poligami" yang terdengar lebih suci ketika keluar dari mulut sang kyai kepada pelacur simpanannya, ketimbang dari lidah tukang bakso keliling kepada istrinya
#kajianmalamini