@christianvctrs Aku pernah baca sih ada 5, tinggal pilih aja
Men's lust.
Women's desire for beauty.
Elderly's health.
Children's education.
Poor people's desire to quickly get rich.
Ketika profesi dosen tidak lagi menjanjikan mobilitas ekonomi yang rasional, bagi Pria Matang kelahiran 90an
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah dosen perempuan di perguruan tinggi Indonesia meningkat cukup signifikan. Fenomena ini kerap dibaca sebagai kemajuan kesetaraan gender di dunia akademik. Namun tafsir tersebut, saya kira belum menyentuh persoalan yang lebih mendasar.
yaitu tren menurunnya daya tarik profesi dosen,
terutama bagi laki-laki generasi kelahiran 1990-an yang berada pada fase merintis kehidupan ekonomi.
Lihatlah di sosial media, orang-orang dengan skill menulis yang oke banget, lebih suka jadi pundit / admin akun bola (@infoAzzurri, @SerieA_Lawas, @idextratime, @MafiaWasit, @wunderkid_id, @FandomID_ dll)
tentu mas dosen admin @id_fm adalah pengecualian, ya.
heran juga mindos, kok dia mau jadi dosen. 😅
Bagi pria-pria matang dari generasi ini,
karier dosen semakin sulit dipahami sebagai pilihan yang rasional.
Gaji awal yang rendah, kenaikan yang lambat, serta birokrasi yang mencekik leher sendiri, profesi dosen nyaris mustahil dijadikan fondasi untuk membangun kehidupan dari nol.
Dalam tradisi / budaya yang masih menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah utama, pilihan ini sering kali dianggap tidak realistis.
Kondisi tersebut mendorong seleksi sosial yang sunyi. Laki-laki dengan tekanan ekonomi tinggi cenderung meninggalkan jalur brahmana ini.
Akibatnya, profesi dosen menjadi lebih masuk akal ketika diakses oleh mereka yang memiliki jaring pengaman ekonomi dari keluarga sebelumnya.
Lihatlah,
dosen di kampus-kampus kita.
ada berapa banyak dosen yang orangtuanya dosen juga, atau pejabat teras dilingkungan sekitar.
Itulah mengapa.
Fenomena peningkatan jumlah dosen perempuan bukan sekadar hasil afirmasi, melainkan konsekuensi dari struktur ekonomi profesi yang rapuh, retak, bocor, madesu dan tidak lagi menjanjikan mobilitas sosial.
Temuan Bank Dunia dalam Indonesia Jobs Outlook (2025),
menunjukkan bahwa pengembalian ekonomi pendidikan tinggi di sektor publik dan akademik relatif tertinggal dibanding sektor swasta profesional, terutama pada fase awal karier.
Data ini senada dengan pengalaman empiris banyak dosen muda yang sering kita lihat di sosial media. Idealisme akademik tidak sebanding dengan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup dasar.
Bahkan yang sudah berprofesi sbg dosen ASN (@pns_ababil).
harus demo-demo berjilid-jilid lewat serikat dosen (@tukin_dosenASN),
agar aspriasi perihal hak tunkin (tunjangan kinerja funsional diluar serdos) segera terealisasikan.
Sungguh Ironi dalam ironi yang penuh ironi.
Manakala, profesi penghasil pengetahuan kehilangan rasionalitas ekonominya.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, perguruan tinggi berisiko menjadi ruang yang stabil secara simbolik, tetapi rapuh secara sosial, dan semakin jauh dari fungsinya sebagai penjaga nalar publik.
📹: G. @chiellini, BA., MBA / Alumni S2 Universitas Negeri Turin (https://t.co/0OLSQx72Lc)