Kok bisa orang yang dulunya core of the core agama, tiba-tiba pas masuk ring kekuasaan, fatwa nya malah sering clash sama arus bawah?
Lu pasti tahu Kerajaan Mataram Islam, kan? Kerajaan ini sering banget diagung-agungkan di sejarah.
Tapi, pas takhta turun ke Amangkurat I (sekitar tahun 1647), ada satu tragedi politik gila yang bikin orang membaca nya shock.
Yaitu pembantaian ribuan ulama di Alun-Alun Plered.
Bayangin aja, sekitar 5.000 sampai 6.000 ulama beserta keluarganya dibantai habis cuma dalam waktu kurang dari satu jam
Kenapa raja dari kerajaan Islam malah ngebantai tokoh agama?
Karena dalam berpolitik tokoh agama yang punya massa, pintar, dan independen itu merupakan ancaman terbesar buat kekuasaan.
Amangkurat I ngerasa posisinya goyah karena para santri dan ulama ini berani ngritik kebijakannya. Daripada pusing, dia pilih opsi delete permanen.
Nahhh di era modern, cara barbar kayak Amangkurat I itu udah nggak laku mana melanggar HAM dan malah bikin revolusi.
Terus gimana cara menjinakkan tokoh-tokoh agama atau intelektual radikal yang pinter-pinter ini? Jawabannya satu yaitu DIKOOPTASI.
Negara itu butuh legitimasi. Kalau ada kebijakan yang berpotensi nabrak norma agama, negara butuh sosok dari dalam lingkaran agama itu sendiri buat jadi juru bicaranya.
Kalau politisi biasa yang ngomong, pasti diamuk massa. Tapi kalau yang ngomong adalah tokoh yang basic bahasa Arabnya jago, mantan rektor, dan santri tulen? Publik dan netizen bakal mikir dua kali, atau minimal bingung mau nyerang argumennya pakai apa.
1. Buat Nulis
- Edit tulisan biar kedengarannya manusia:
"Tolong edit paragraf ini. Buang kata-kata yang kedengarannya AI-generated. Pertahankan ide aslinya, tapi buat nadanya lebih santai dan natural seperti orang ngobrol biasa."
[paste tulisan ]
Hasilnya bakal beda banget dari yang biasanya.
- Nulis caption yang nggak cringe:
"Bantu gue bikin caption Instagram untuk foto [deskripsikan foto]. Target audiensnya [umur/minat]. Jangan pakai hashtag dulu. Buat 3 versi: satu singkat, satu storytelling, satu yang thought-provoking."
Pilih yang paling cocok sama vibe kalian.
- Bikin email yang dibaca, bukan di-ignore:
"Tulis email ke [siapa] soal [topik]. Tujuannya: [apa yang lo mau terjadi]. Buat subject line yang bikin penasaran. Emailnya harus singkat tapi compelling — jangan lebih dari 150 kata."
Works buat cold email, follow-up, negosiasi.
- Thread Twitter yang beneran direspon orang:
"Bikin thread Twitter tentang [topik] untuk audiens [siapa]. Hook tweet harus bikin orang berhenti scroll. Setiap tweet harus bisa berdiri sendiri tapi nyambung ke yang berikutnya. Akhiri dengan CTA yang soft."
Yang ini gue pakai buat nulis thread ini wkwk
- Nulis artikel blog yang enak dibaca:
"Tulis outline artikel tentang [topik]. Target pembaca: [siapa]. Sertakan: hook pembuka yang kuat, 4-5 subheading yang natural (bukan kaku), dan kesimpulan yang actionable. Jangan keyword-stuffing."
Baru outline dulu. Nanti kita kembangkan satu-satu.
- Roast tulisan kalian sendiri:
"Baca tulisan ini dan kasih feedback jujur. Bagian mana yang membosankan? Kalimat mana yang bisa dipotong? Argumen mana yang lemah? Jangan terlalu sopan, gue butuh kritik yang beneran."
[paste tulisan]
Claude nggak akan segan-segan kasih tau yang mana yang jelek.
- Ubah jargon teknis jadi bahasa manusia:
"Jelaskan konsep [istilah teknis] ini kepada seseorang yang sama sekali nggak familiar dengan bidang ini. Gunakan analogi sehari-hari. Maksimal 3 paragraf."
Berguna banget kalau lo kerja di tech dan harus presentasi ke stakeholder non-teknis.
- Nulis bio profil yang nggak kaku:
"Tulis bio profesional untuk [platform: LinkedIn/Twitter/website]. Panjang: [singkat/sedang]. Tentang saya: [info lo]. Buat nadanya confident tapi nggak sombong, dan kedengarannya kayak orang beneran nulis sendiri."
Bio standar itu membosankan. Yang ini beda.
- Nulis script podcast/video:
"Bikin script untuk episode podcast [X menit] tentang [topik]. Pembukaan yang langsung masuk ke inti, bukan basa-basi. Sertakan 2-3 pertanyaan reflektif untuk pendengar. Akhiri dengan teaser episode berikutnya."
Natural banget hasilnya, kayak lagi ngobrol asli.
- Bikin headline yang bikin orang klik:
"Saya punya artikel/konten tentang [topik]. Buatkan 10 headline alternatif dengan pendekatan berbeda: satu curiosity gap, satu list, satu how-to, satu kontra-intuitif, satu emosional. Jangan yang clickbait murahan."
Pilih yang paling sesuai sama brand voice kalian.
Apakah kemiskinan itu takdir?
Cak Sukidi mengutip sejarah dan pesan moral dari Sukarno, Mandela, hingga Paus Leo XIV yg menegaskan bahwa kemiskinan bukan takdir, melainkan hasil tindakan manusia, dan di sanalah Tuhan bersemayam, di gubuk si miskin, di sisi mereka yang lapar, haus, dan menderita.
Tantangan terbesar bangsa ini bukan sekadar mengelola perbedaan, melainkan menjawab panggilan profetik untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan sebagai wujud iman dan kemerdekaan sejati.
@KompasID
https://t.co/TfHuJFPgwA
GURU: IKHLAS ATAU SEJAHTERA?
Pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang sempat viral—menyebut guru sebagai 'nabi kecil' yang harus ikhlas dan tidak mengejar uang—telah memicu diskusi luas, meski beliau telah klarifikasi dan minta maaf, sebetulnya adalah narasi 'biasa' di masyarakat pendidikan kita. Narasi ikhlas ini seringkali digunakan oleh para prinsipal untuk menutupi kelemahan sistem hingga budaya (maaf) rakus.
Padahal, sebagai representasi dari negara, lebih tepat untuk fokus melakukan reformasi tata kelola agar guru sejahtera. Karena bagaimana pun, kesejahteraan seorang guru akan berdampak langsung pada profesionalismenya dalam mengajar. Pernyataan beliau ini justru semakin membuat para prinsipal dalam dunia pendidikan mendapatkan amunisi pembenaran untuk terus menggaji guru dengan 'taushiyah' ikhlas.
Apakah Islam mengajarkan bahwa ikhlas itu artinya tidak boleh sejahtera? Tidak boleh bergaji tinggi? Tidak. Ikhlas itu tataran personal dan spiritual. Sementara kesejahteraan adalah tataran komunal dan profesional.
Saya kira tidak perlu saya paparkan bagaimana Islam memperlakukan guru, terlampau banyak literasi yg akan didapatkan pada zaman keemasan yg justru pemerintah yg menjalankan agamanya dengan baik menghargai profesi guru sebagai profesi tertinggi yg sangat dihargai.
Lucunya (yg sebetunya tidak lucu sama sekali), ajaran dan tata kelola yg 'diajarkan' Islam dalam dunia pendidikan dan pengajaran, malah 'diamalkan' oleh mereka yg sama sekali tidak ber-Islam, bahkan tidak beriman. Dan, lihat hasilnya. Negara-negara yg tidak ber-Islam dan tidak beriman itu menjadi negara yg maju atau setidaknya perlahan meninggalkan ketertinggalannya. Tengok saja Vietnam, yg kebijakan pemerintahnya terkait mensejahterakan guru baru-baru ini (seharusnya) membelalakkan mata dan telinga kita.
Baik, terlalu 'ekstrim' jika mungkin kita menengok negara yg tidak ber-Islam. Mari kita tengok negara-negara yg ber-Islam jika begitu.
Saudi Arabia, menetapkan gaji gurunya minimal $1.300 per bulannya. UEA dan Qatar pada angka minimal $2.500. Bahkan di Gaza Palestina, sebelum terjadinya genosida, pemerintahan Hamas (menang Pemilu dan mengelola Gaza sejak 2006) menetapkan gaji minimal $500 bagi para gurunya. Tidak ada satu orang guru pun yang bergaji Rp. 300.000 atau setara $18 seperti di negara kita, bukan?
Pertanyaannya, apakah para guru di kawasan ber-Islam di atas dipandang tidak akan ikhlas jika digaji tinggi dan dibuat sejahtera?
Kepada siapa pun, terkhusus para pemangku kebijakan dalam dunia pendidikan sektor pemerintah maupun swasta, berhentilah melakukan apologi dengan narasi ikhlas kepada para guru yg mulia. Apalagi melakukan manipulasi dan eksploitasi terhadap para guru dengan narasi ikhlas, pahlawan tanpa tanda jasa, atau apa pun itu. Kenapa harus ada pemisah, seakan ikhlas itu tidak harus sejahtera dan sejahtera itu tidak ikhlas?
Dan seandainya pun mau menggunakan narasi ikhlas, awali dari diri sendiri sebagai pemangku kebijakan, pemilik, pengelola untuk ikhlas mensejahterakan para guru di bawah tanggung jawab Anda semua.
Tabik.
Sekolah, jika menjadi entitas bisnis, maka berbadan hukum PT saja. Jangan munafik dengan menggunakan yayasan demi untuk menghindari pajak, regulasi ketenagakerjaan (status, gaji, jaminan sosial, dll), akuntabilitas keuangan, dll.
Generasi hebat tidak lahir dari kemunafikan.
ngeri, dari 700an triliun APBN untuk pendidikan, posisi paling besar transfer ke daerah. kedua tertinggi adalah:
bukan dana bos
bukan tunjangan guru
bukan untuk pendidkan tinggi/mahasiswa
bukan kemenag/pesantren
bukan beasiswa
bukan perbaikan gedung sekolah rusak
bukan distribusi buku
ayo tebak....
"Baik itu Baik. Tapi Jangan Terlalu Baik"
Artis komedi, Nunung Srimulat cerita di podcastnya Deddy Corbuzier tentang kehidupannya.
Dia banyak bantu orang termasuk saudara-saudaranya. Giliran Nunung lagi jatuh, gak punya apa-apa, gak ada yang bantu.
Saya mengalami apa yang Nunung alami. Pedih banget rasanya.
Hampir jangkauannya satu kecamatan, dari berbagai kampung, banyak yang saya bantu terutama perkara anak-anak sekolah dan biaya rumah sakit, memasukkan pekerjaan dan urusan tetek bengek kehidupan. Tapi ya setelah dibantu, gak ada kabar dan terima kasihnya.
Di laman X pun sama. Cukup banyak yang saya bantu. Apa balasannya? Malah berghibah dan memfitnah.
Saudara kandung? Jadi perantara jual tanah saya, eh duitnya dikasih ke saya cuma 20% dari harga jual. Ratusan juta loh. Saya hanya ngelus dada. Gak mau ribut.
Kesimpulannya, baik itu baik tapi jangan terlalu baik.
I bought this for almost nothing. Most straightforward math book you’ll ever read.
Middle school level but don’t underestimate it, especially if it’s been a minute since you studied math.
Machine learning math is tougher, but this will teach you the fundamentals.
suhu di indonesia belakangan ini sudah melebihi 30 derajat.suhu dalam rumah kita pun akhir-akhir ini semakin panas. selain menggunakan AC, kukenalkan metode lain yg secara pasif dapat mengurangi suhu ruangan yaitu "earth air tunnel system".
A huge problem in Data Science:
The sample is not accurate
Use stratified sampling to get more powerful results from your data.
I will explain how to do it.
🧵