Please coba sekali aja
Jadi editor reza auditore zaman youtube
Kenyang-kenyang dah tuh lu sensor satu2 doksli menjijikan. Bool keluar apel, ular masuk bool, pala masuk bool, kakek sekarat cokil, bool gantung, flexing rektum, dll.
yg ga bnyk org sadar bahasa indonesia itu bukan bhs percakapan. bhs indonesia hny hidup di acara berita/ koran.
Sehari2 yg ada itu vernakular or kreol or lainnya.
Kalo ada org di jakarta bilang “berapakah harga seikat kangkung ini, pak?”
abang sayurnya ngarti tp heran
Just imagine for a moment if the Iranian president stood up at the UN, imagine if Ahmadinejad had come to the UNGA, and said: “Do I annihilate the Jewish state, and do it quickly? Do I drive Israel into hell?”
Imagine the Western and global and media response and outcry.
Fun fact:
Bahasa Indonesia adalah bahasa sandi.
Satu kalimat simpel, maknanya panjang dan sangat ambigu.
Pernah kerja sama atasan orang Korea, dia sulit paham sama hal ini.
Contoh: “Lagi nongkrong” artinya “I’m currently outside hanging out with my friend, most likely doing nothing”.
Dia akan tanya “how do you know they’re outside? Why would they do that if they do nothing? Why not just do nothing at home? Wouldnt you do something with friends, especially outside?”
Ya ga tau juga jir. Ga bisa jawab. 😂
Ku cuma bilang “if they’re at home, they’ll mention it.”
Trus dia nanya lagi?
“That short sentence have a long meaning?”
“Yeaaa? Memang” 🤣🤣
Ada makna tersembunyi yang hanya bisa diterjemahkan native speaker.
Konteksnya diunlock oleh pengalaman sehari-hari.
Ada pengalaman serupa?
Orang kota sok2an pindah ke desa, ntar kaget org desa pada ngasih berkat kalo tahlilan, risih disuruh kongkow di balai desa, jiwa inteleknya bergejolak melihat mereka mengidolai Jokowi & KDM. Stress waktu tau preferensi politik mereka🤣🤣🤣
Jangankan ini.
Gw takut pas Dajjal turun, lalu ada yg nolak dia, segelintir kaum akan bilang:
“Empatinya dipake! Orang pd mati kelaparan gini ada yg ngasih makan malah ditolak!”
“Dasar mabok agama! Kita kemarau 3 taun loh! Apa salahnya nerima bantuan dia? Jgn sombong!”
Dulu aku berpikir kek ga mungkin kayak gini terjadi. Orang2 udah tau dia dajjal krn tandanya jelas, tp melihat apa yg terjadi skg + ttg apa aja yg orang bisa lakukan ketika lapar, kok aku merasa hal2 seperti di atas bisa terjadi
Ngeri jujur, aku berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal 😭😭😭
Semua yang bu Rahyuni Nasution ini diajarkan di pelatihan kepala toko Alfamidi atau Alfamart. Di Alfamidi barang dikategorikan keberbagai sub (saya aga lupa nama penyebutan benarnya):
- Barang fast moving
- Barang medium moving
- Barang slow moving
Untuk barang fast moving ini ada barang2 seperti mie, rokok, minyak, minuman dll. Alfamidi hanya mengambil keuntungan sebesar 200 rupiah - sekitar 1000 rupiah
Untuk barang medium dan slow moving seperti susu, popok, deterjen, dll. Alfamidi bisa mengambil untung yang lumayan.
Salut buat bu Rahyuni bisa menerapkan ilmu seperti di atas dan menjelaskan dengan mudah ke khalayak.
Karena saya punya ilmunya. Makanya kalo ditanya apa cita-cita saya? Bukan arsitek, bukan pula penulis.
Cita-cita saya: Buka toko sembako.
padahal penanganan ikan tuh gaboleh samasekali memutus rantai dingin sampai proses pemasakan, jd air perendaman serta lingkungan harus betul2 dingin, gabisa dibuat berlama2 begini. apalagi ikan laut, in this case nih ikan kembung yg mana dia mengandung senyawa histidin yg kalo suhunya gak dingin bisa berubah jd histamin, which is yg bisa bikin keracunan. mulai dr gatal2 di lidah, sampai mual muntah. ini nanganin 2.450 ekor dari awal gak cepet, esnya kurang, aku yakin ruangan jg gak dingin. gak heran sih kalo bakal ada case keracunan lagi
Nycta Gina di postingan terbaru Threads-nya,
"Gara2 kebanyakan baca berita, jadi bertanya-tanya apa masih ada orang Indo yg super kaya raya tajir melintir crazy rich tapi dengan cara yg HALAL??🤔"
PKI selalu dimitoskan anti tuhan, padahal Tan Malaka sejak kecil hafal alquran, Aidit juga muslim taat dan pernah jadi muazin, Haji Misbach seorang mubaligh, dsb dsb.
Sementara presidenmu:
Beberapa bulan lalu teknisi Indihome datang ke rumah. Setelah masalah selesai, dia bilang begini:
"Kalau ada masalah lagi dalam 1x24 jam, lapor langsung ke saya aja, mas. Nomor saya yang tadi itu. Jangan ke kantor."
Tentu saya tanya: "Kenapa memangnya, mas?"
"Kena potong gaji, parah-parahnya SP, mas. Tolong ya, mas."
pendapat bapak ini soal prabowo sejauh 2 tahun ini:
- presiden paling aneh yang pernah ada
- Cara respon kritik aneh yang kritik langsung dicap antek asing, antek oligarki, antek china
- Kalau enggak berani berantas korupsi dua kemungkinan: takut atau bagian dari korupsi
- Alasan sibuk lawan oligarki = logikanya aneh mana buktinya? Siapa oligark yang dipenjara?
- undervoicing soal ekspor tapi sampe detik ini tidak ada 9 naga yang ditangkap atau ditahan
- pernah ngasih data perusahaan yang kelabui ekpors tapi gk pernah di kasusin padahal udah jelas pemiliknya itu 4 naga
- Mau mahasiswa diam? Gampang perbaiki saja. Berantas korupsi, turunkan harga, jangan drama. Sesederhana itu
- Negara ini kleptokrasi isinya para maling dan Prabowo belum tunjukkan bukti nyata mau berubah
- curiga prabowo juga bagian dari para maling
Gw baru sadar kalau dugaan rantai masalah di balik blackout Sumatra dan pemadaman bergilir di Jawa ternyata jauh lebih kompleks dari sekadar “gangguan teknis”.
Kalau ditarik benang merahnya, kira-kira alurnya begini:
1. Harga batu bara global turun karena oversupply.
Buat negara eksportir seperti Indonesia, harga yang turun berarti penerimaan negara dari sektor komoditas juga ikut tertekan.
2. Muncul kebijakan untuk menekan produksi.
Logikanya sederhana: kalau pasokan dikurangi, harga bisa lebih terjaga.
Di atas kertas masuk akal.
3. Masalah mulai muncul ketika kebutuhan dalam negeri tetap jalan.
PLN tetap butuh batu bara buat menghidupkan PLTU.
Listrik tetap harus nyala.
Pabrik tetap harus beroperasi.
Kebutuhan energi tidak ikut turun hanya karena produksi tambang dikurangi.
Di saat yang sama ada aturan DMO.
4. PLN mendapatkan batu bara dengan harga yang ditetapkan pemerintah dan jauh lebih murah dibanding harga pasar.
Nah di sinilah insentif mulai bertabrakan.
Dari sudut pandang pengusaha tambang, pilihan bisnisnya jadi cukup jelas.
Jual ke PLN dengan harga yang dibatasi.
Atau jual ke pasar dengan harga yang lebih tinggi.
Kalau selisihnya besar, dorongan untuk mengejar pasar jelas lebih kuat.
Akibatnya pasokan yang dibutuhkan PLN berpotensi makin ketat.
Kontrak makin sulit.
Cadangan makin tipis.
Risiko operasional mulai meningkat.
Dan ketika rantai ini terus berjalan, yang muncul di hilir bukan lagi isu batu bara.
Yang muncul adalah listrik padam.
Masyarakat cuma melihat lampu mati.
Padahal akar masalahnya bisa jadi berasal dari keputusan yang dibuat jauh di hulu.
Yang bikin gw agak kepikiran, keputusan soal kuota produksi, DMO, harga acuan, kontrak pasokan, semuanya terdengar sangat teknokratis.
Tapi efek akhirnya bisa sampai ke rumah rakyat.
Bisa sampai ke pabrik.
Bisa sampai ke UMKM.
Bisa sampai ke orang yang bahkan gak pernah baca berita energi sekalipun.
Kalau dugaan rantai masalah ini memang mendekati kenyataan, berarti yang sedang kita lihat bukan sekadar masalah PLN atau cuaca.
Ini contoh bagaimana satu kebijakan komoditas bisa menciptakan efek domino ke sektor energi.
Negara ingin harga komoditas terjaga.
PLN ingin pasokan aman.
Swasta ingin margin terbaik.
Masyarakat ingin listrik tetap nyala.
Masalahnya, empat tujuan itu tidak selalu berjalan searah.
Dan ketika salah satu bagian mulai bergeser, efeknya bisa merambat ke mana-mana.
Seperti biasa, yang paling jauh dari ruang rapat sering kali jadi yang paling dekat dengan dampaknya.