Pengalaman saya merawat pasien TBC - HIV, yang paling rumit dan butuh pendekatan khusus adalah mereka penyuka sesama jenis.
Karena sering kasusnya setelah mereka sembuh dari TBC, mereka merasa sudah sangat sehat, tidak mau lagi kontrol ke poli HIV, tidak mau lagi minum obat ARV ( anti HIV).
Bukan itu saja, ternyata mereka kembali aktif ke komunitasnya, melakukan perilaku seks tidak sehat lagi.
Menurut pengakuan pasien-pasien saya, sebenarnya mereka sudah takut, namun godaan dari komunitas demikian kuat, sehingga akhirnya kembali ke kehidupan bermasalah.
Dan sering kasus, kalau dah berulang masuk rawat dgn kasus yg berat, tidak tertolong lagi 😭
Makanya untuk kasus ini, butuh pendekatan khusus, terutama dari keluarga.
Keluarga tidak boleh abai terhadap mereka.
Pendekatan secara humanis, dengan nilai keagamaan, dibutuhkan agar mereka bisa kuat berjuang dan menang dalam menghadapi ujian hidup.
Lingkungan juga harus membantu, dengan tidak memberi ruang mengulang kesalahan yg sama,
Tolong jangan memandang sinis apalagi sampai mengucilkan, krn ini malah membuat mereka susah bangkit 🙏
Ujian manusia itu beragam, ditentukan oleh Allah, bukan suai permintaan kita..
Maka untuk itu kita harus bersyukur dan saling mendoakan, agar tidak mendapat ujian keimanan yg berat seperti ini 🙏
"Siapa yang akan jadi presiden, itu atas izin Allah".
Sering melintas tulisan seperti di atas 👆. Oke sepakat.
Memang semua yang terjadi di alam semesta, tak lepas dari izin Allah. Bahkan orang kena santet, dalam perspektif Ibnu Taimiyah, pun atas izin Allah.
Persoalannya kemudian, meski semua kejadian di alam semesta atas izin Allah, tak ada jaminan Allah ridho.
Saya ambil contoh lain. Perceraian itu tindakan halal tapi sangat dibenci Allah. Bagaimana agar perceraian itu diridhoi Allah? Tentu perceraian yang disandarkan bukan karena kebencian.
Kembali ke kasus presiden. Bagaimana agar menjadi presiden mendapatkan ridho Allah? Tentu cara yang ditempuh harus melalui prosedur yang benar. Tak merusak tatanan konstitusi, tak meraih kemenangan dengan menghalalkan segala cara.
Yuk masjid-masjid dananya dikeluarkan untuk program beras, salurkan ke lingkungan sekitar yang membutuhkan. mau apapun agamanya. Jangan bangunan dibuat megah saja, tapi sumbangsih buat kegiatan sosial nihil. Bagi masyarakat sekitar yang mampu, bisa berbagi lewat masjid.
Sepertinya ada kesalahan logika yang membuat dikotomi ‘pintar ngomong’ dengan ‘jago eksekusi’ seolah-olah itu dua hal yang ‘berlawanan’. Yang lebih tepat adalah itu dua indikator berbeda yang harus dinilai sendiri-sendiri/secara terpisah.