PARAH !!!
50 Santriwati Anak Yatim dan Dhuafa yang Dicabuli Kiai, Lalu yang Hamil Dinikahkan. Kadang Semalam Menggilir 2 Santriwati sekaligus dikamar tidurnya, itu bukan KHILAF Tapi Kejahatan Keji. Si Kiai sengaja buat Pesantren dalam rangka mengumpulkan Daun Muda dibawah Umur untuk Memuaskan Diri, Merasakan yang masih berwarna Pink, Liang Sempit tanpa Bulu (Bulu Jagung) Seperti Para Pelaku Penuntut Ilmu Hitam, Mengorbankan Para Gadis, Menghirup Wanginya
Selangkangan Perawan. Di Setiap Tahun Ajaran Baru, Membuka Pendaftaran Santri/Santriwati dengan Program GRATIS Agar Kiai bisa Menikmati yang Gratisan, Yang Hamil Cukup Dinikahkan. 50 Orang mungkin hanya Permukaan, yang tidak terungkap mungkin saja lebih Menyesakkan. Nauzubillah tsummanauzubillahiminzalik.
Kasus dugaan pencabulan mencuat di sebuah pondok pesantren di Pati. Seorang oknum kiai berinisial S diduga telah mencabuli puluhan santriwati bahkan ada yang hingga hamil, dengan jumlah korban diperkirakan mencapai 50-an santriwati. Peristiwa ini disebut telah berlangsung selama beberapa tahun, namun baru dilaporkan pada 2024.
Mayoritas korban merupakan santriwati usia SMP, banyak di antaranya berasal dari keluarga kurang mampu. Modus pelaku diduga dengan mengancam korban agar mau menuruti permintaannya, seperti menemani di kamar, dengan ancaman dikeluarkan dari pesantren. Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi sorotan dan didorong untuk diproses melalui jalur hukum
By COACH ADDIE Journalist & Behavior Analyst.
@madularang@Xbacottetangga hey tolol...gue ojol. kalu customer kasih intruksi gantung, ya gantung. tinggal foto selesai. bahkan gue pernah kirim paket perintah lempar, gue bilang di depan becek, nanti barang basah...dia bilang gpp...ya gue lempar, foto kirim ke dia..gak usah pake drama.
Polisi memulangkan AM (15), remaja yang memperkosa siswi SMP di Bone, Sulsel hingga tewas. Polisi mengatakan masa penahanan tersangka sudah habis.
Via: @detik_sulsel https://t.co/oshbEVtzQG
Hampir 2 juta orang Indonesia masih memilih berobat ke luar negeri setiap tahun. Kurang lebih 1 juta ke Malaysia, 750 ribu ke Singapura, sisanya ke Jepang, Amerika, Jerman, dll.
Gara-gara ini, kita kehilangan devisa Rp165 triliun karena modal keluar.