CEO Persebaya Azrul Ananda bersama manager tim, Sidik Maulana Tualeka turut mengantarkan almarhum Andie Kristianto (Andie Peci) ke peristirahatan terakhirnya di Madiun. Sebelumnya, Azrul juga sempat menjenguk Andie di rumah sakit. Saat itu Azrul menyemangati agar ia lekas pulih, sementara Andie masih sempat mendoakan Persebaya menjadi juara.
Bagi Persebaya dan Bonek, Andie Peci bukan sekadar suporter. Ia adalah salah satu sosok yang berdiri di garis depan ketika Green Force melewati masa-masa tersulit, mengawal perjuangan hingga Persebaya kembali ke kompetisi resmi pada 2017.
Sebagai bentuk penghormatan, Persebaya akan mengenakan pita hitam dan menggelar satu menit mengheningkan cipta sebelum laga 99 Anniversary Game melawan PSIS Semarang, Minggu (19/7). Seusai pertandingan akan diputar film pendek tentang perjalanan Andie Peci, tersedia wall of condolences untuk Bonek dan Bonita, serta satu kursi VIP akan dikhususkan dengan foto Andie sebagai simbol bahwa ia akan selalu memiliki tempat di hati keluarga besar Persebaya.
Terima kasih atas cinta dan perjuanganmu untuk Green Force.
Selamat jalan, Andie Peci. Namamu akan selalu menjadi bagian dari sejarah Persebaya. 💚
Guys, gue perlu lo baca ini baik-baik karena ini menurut gue salah satu potret paling absurd yang pernah terjadi di republik ini dalam satu hari yang sama.
Pagi — Prabowo bilang di depan ribuan rakyat:
"Mau dolar berapa ribu kek, di desa kan enggak pakai dolar."
Siang — Kapolri Listyo Sigit laporan ke Prabowo soal hasil panen jagung Polri.
Dan Prabowo memberi apresiasi.
Bukan panen raya hasil tangkap pengedar narkoba. Bukan laporan pemberantasan korupsi.
Bukan statistik kejahatan yang berhasil ditekan.
tapi Panen jagung.
sekali lagi karna panen jagung
Kapolri sekarang tugasnya apa:
661.112 hektar lahan jagung ditanami Polri di 2025. Hasil panen 3,9 juta ton.
Target 2026 naik jadi 1,37 juta hektar.
Polri punya gudang ketahanan pangan.
Polri punya SPPG dapur MBG.
Polri ekspor jagung ke Malaysia dengan margin Rp500 per kilogram.
Dan Kapolri berdiri di depan Presiden melaporkan ini semua dengan bangga.
Gue perlu tanya dengan sangat serius:
Ini Kapolri atau Menteri Pertanian?
Sementara itu di tempat lain di hari yang sama:
Josepha Alexandra siswi SMA yang hafal konstitusi sampai tidur komat-kamitstres berat di rumah setelah diancam lewat WhatsApp oleh nomor tak dikenal karena berani mempertanyakan ketidakadilan juri di lomba cerdas cermat.
Dia bertanya kepada kakaknya:
"Kak, apa aku harus minta maaf?
Katanya aku yang bikin gaduh."
Nadiem Makarim yang membangun ekosistem yang menghidupi jutaan keluarga driver ojol, yang hartanya berkurang selama menjabat,
yang tidak ada satu sen aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke rekeningnya dituntut 27 tahun.
Tom Lembong mantan menteri juga pernah mengalami hal yang
dan masih banyak lagi
Dan ini yang paling bikin gue tidak habis pikir:
Di negara ini sekarang:
Ahli serangga bisa jadi Ketua BGN.
TNI bisa jadi dirut BUMN.
Kapolri tugasnya nanam jagung.
Pejabat yang ketahuan merokok dan main game waktu rapat cuma ditegur.
Tapi orang yang membangun lapangan kerja jutaan orang dituntut 27 tahun.
Anak SMA yang berani jujur diancam somasi.
Wartawan yang laporkan fakta bencana ditekan bosnya untuk diam.
Lo tanya kenapa Amerika bisa sejahtera
padahal kapitalis.
Kenapa China bisa jadi ekonomi nomor dua padahal komunis.
Sementara kita yang katanya demokrasi berlandaskan Pancasila malah makin jauh dari Pancasila itu sendiri.
Gue akan jawab dengan jujur.
Amerika sejahtera bukan karena kapitalisnya.
Tapi karena institusinya bekerja.
Polisi Amerika tugasnya penegakan hukum bukan nanam jagung.
Jaksa Amerika membuktikan kasusnya di pengadilan yang fair bukan dengan audit dari lembaga di bawah presiden.
Anak muda Amerika yang mempertanyakan ketidakadilan dilindungi hukum, bukan diancam WhatsApp.
China jadi ekonomi nomor dua bukan karena komunisnya.
Tapi karena mereka punya satu musuh bersama yang konsisten dikejar: korupsi.
Xi Jinping mencopot jenderal bintang empat
kalau terbukti korup.
Tidak ada yang kebal.
Tidak ada yang terlalu besar untuk dijatuhkan.
Sementara kita?
Kita punya Pancasila yang indah di atas kertas.
Kita punya konstitusi yang dihafal anak SMA sampai tidur komat-kamit.
Kita punya semboyan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tapi eksekusinya adalah Kapolri nanam jagung,
siswi SMA diancam WhatsApp,
dan orang yang menutup celah korupsi pendidikan dituntut 27 tahun.
Yang paling miris dari semua ini:
Bukan pejabatnya.
Bukan sistemnya.
Tapi fakta bahwa kita semua sudah mulai terbiasa.
Kita baca berita Kapolri nanam jagung dan kita scrolling terus. Kita baca anak SMA diancam dan kita bilang "kasihan" lalu lanjut.
Kita baca Nadiem dituntut 27 tahun dan kita berdebat di kolom komentar.
Normalisasi itulah yang paling berbahaya.
Karena ketika absurditas sudah terasa normal tidak ada lagi yang merasa perlu berubah.
Negara yang Kapolrinya bangga laporan panen jagung ke presiden sementara anak SMA yang hafal konstitusinya diancam WhatsApp adalah negara yang sedang kehilangan arah dengan sangat serius.
Bukan karena tidak ada orang baik di dalamnya. Josepha ada.
Nadiem ada.
Para wartawan yang tetap meliput dengan jujur ada. Para guru yang tetap mengajar dengan tulus ada.
Tapi sistem yang seharusnya melindungi mereka justru sedang sibuk nanam jagung.
Kasus Chromebook Nadiem ini sebenernya gimana sih, kok bisa dituntut 18 tahun?
Gue coba jelasin pake bahasa bayi, tanpa istilah hukum yang ribet, Versi Jaksa vs Pembelaan Nadiem ⬇️⬇️
Guys, ada laporan baru dari lembaga riset Celios yang menurut gue adalah salah satu yang paling mengerikan yang pernah gue baca tentang kondisi ekonomi Indonesia.
Judulnya: Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026.
Dan datanya bukan dari sembarang sumber.
Dari Forbes.
Dari LHKPN.
Data yang sudah terverifikasi dan tidak bisa dibantah.
Fakta pertama yang langsung bikin gue sesak napas:
50 orang terkaya Indonesia hanya 50 orang total kekayaannya mencapai Rp4.600 triliun per 2026.
APBN Indonesia?
Rp3.800 triliun.
Artinya 50 orang itu lebih kaya dari seluruh anggaran negara yang digunakan untuk membiayai 270 juta rakyat Indonesia selama satu tahun penuh.
Satu tahun.
Gaji PNS, subsidi BBM, bayar utang, bangun jalan, biaya militer, semua program sosial semuanya masih kalah dari 50 orang itu.
Dan setiap harinya harta 50 orang itu naik Rp13 miliar per hari.
Sementara upah pekerja harian di Indonesia bergerak di kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000 per jam.
Fakta kedua ketimpangan di antara pejabat negara sendiri:
Total kekayaan pejabat negara era Prabowo-Gibran: Rp1 triliun lebih.
Dan dari seluruh pejabat itu 73% kekayaannya hanya dikuasai oleh 12 orang.
Dua belas orang.
Yang masing-masing punya kekayaan di atas Rp1 triliun.
Siapa?
Salah satu yang terbesar adalah Menteri Pariwisata Widya Kusuma.
Ada juga Menteri Perumahan Rakyat.
Keduanya masuk dalam daftar lima pejabat terkaya.
Fakta ketigayang paling menohok soal TNI dan Polri:
Setiap tamtama TNI prajurit paling bawah butuh 252 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Panglima TNI.
Dua ratus lima puluh dua tahun.
Kalau mulai kerja umur 20 baru bisa menyamai kekayaan atasannya di umur 272 tahun.
Itu bukan angka. Itu absurditas.
Di Polri sedikit "lebih baik" polisi golongan paling rendah butuh 139 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Kapolri.
Ketimpangan ini bukan hanya antara rakyat dan orang kaya. Tapi di dalam institusi yang sama.
Di antara satu korps yang sama.
Fakta keempat anggota DPR versus konstituennya:
Anggota DPR Gorontalo kekayaannya 800 kali lipat dari rata-rata masyarakat Gorontalo yang mereka wakili.
Anggota DPR Yogyakarta 400 kali lipat dari rata-rata masyarakat Yogyakarta.
Orang-orang yang mengklaim mewakili rakyat hidupnya 400 sampai 800 kali lebih kaya dari rakyat yang katanya mereka wakili.
Dan mereka yang membuat undang-undang. Mereka yang memutuskan kebijakan pajak. Mereka yang menentukan siapa yang dapat subsidi dan siapa yang tidak.
Dan ini yang membuat seluruh gambar itu menjadi sangat gelap:
Celios mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana: kalau 50 orang terkaya itu dipajaki hanya 2% dari total kekayaan mereka negara dapat berapa?
Rp93 triliun per tahun.
Sembilan puluh tiga triliun.
Setiap tahun.
Dari pajak 2% saja atas kekayaan 50 orang.
Itu lebih dari cukup untuk membiayai rekonstruksi bencana besar.
Untuk membenarkan semua perlintasan kereta berbahaya di Jawa yang butuh Rp4 triliun.
Untuk menggaji 8 juta guru honorer setahun penuh.
Untuk menutup seluruh defisit BPJS Kesehatan.
Hanya dari 50 orang.
Hanya 2%. Per tahun.
Tapi itu tidak terjadi.
Dan Celios menjelaskan kenapa:
Karena orang-orang yang punya kekayaan itu — adalah orang-orang yang sama yang membiayai kampanye politik, yang duduk di dewan komisaris BUMN, yang punya akses langsung ke pengambil keputusan.
Pajak kekayaan sudah masuk dalam rencana Kementerian Keuangan paling lambat 2028 kata mereka. Tapi implementasinya? Masih "akan akan akan" saja. Tidak pernah benar-benar dieksekusi.
Sementara yang terus dipajaki adalah kelas menengah yang sudah ngos-ngosan. Kelas menengah Indonesia turun 1,1 juta orang dalam setahun tapi mereka yang paling mudah dikejar pajaknya karena datanya ada, penghasilannya kelihatan.
Seperti kata peneliti Celios: berburu di kebun binatang. Hewannya kelihatan, tinggal tembak. Sementara yang benar-benar harus dipajaki terlalu kuat untuk disentuh.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh laporan ini:
Ketimpangan yang ekstrem ini bukan hanya masalah ekonomi. Ini adalah bahan bakar untuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Celios menelusuri pola historis dan hasilnya konsisten. Ketika ketimpangan mencapai titik ekstrem dan orang-orang hopeless tidak melihat jalan keluar yang rasional mereka tidak lari ke gerakan buruh atau gerakan sosial yang terorganisir.
Mereka lari ke kelompok-kelompok yang menawarkan identitas, musuh bersama, dan rasa memiliki.
Di Italia 1930-an orang yang di-PHK direkrut oleh Black Shirt. Di Jerman industri tutup, pengangguran meledak, orang mencari pegangan.
Di Indonesia sendiri kerusuhan 1998 dan berbagai gejolak sosial sesudahnya, ketika ditelusuri, akar masalahnya selalu sama: ketimpangan ekonomi yang dibalut isu identitas.
Dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat sekarang ormas-ormas yang berdemo bukan ke instansi pemerintah tapi ke lembaga bantuan hukum masyarakat sipil, bayaran demo yang menjadi solusi pengangguran, program-program besar yang menyerap tenaga kerja tapi dengan cara yang menciptakan ketergantungan bukan kemandirian.
Solusi yang Celios rekomendasikan dan ini sangat konkret:
Satu — pajak kekayaan 2% untuk 50 orang terkaya. Langsung hasilkan Rp93 triliun per tahun. Bukan mimpi Brazil dan Colombia sudah melakukannya dengan komite audit independen.
Dua — moratorium MBG. Hentikan sementara, perbaiki tata kelola dari akar, baru jalankan lagi dengan tepat sasaran fokus ke daerah 3T dan keluarga miskin ekstrem, bukan merata ke semua sekolah termasuk swasta di Jabodetabek.
Tiga — kembalikan 20 triliun yang diambil dari anggaran kesehatan ke Kementerian Kesehatan untuk program stunting yang sudah terbukti efektif. Benefit yang dihasilkan: Rp400 triliun. Versus MBG yang belum jelas benefit konkretnya.
Empat — pajak windfall untuk komoditas yang sedang untung besar batu bara, sawit, nikel, minyak. Mereka untung dari harga global yang tinggi, sementara rakyat menanggung subsidi energi. Ini bukan soal nasionalisasi ini soal keadilan distribusi keuntungan.
Indonesia bukan negara miskin. Indonesia adalah negara yang kekayaannya terkonsentrasi pada sangat sedikit orang, yang sistem pajaknya melindungi orang kaya dan membebani kelas menengah, dan yang program-program besarnya lebih banyak menciptakan celah korupsi baru daripada menyelesaikan masalah lama.
50 orang lebih kaya dari APBN. 12 pejabat kuasai 73% kekayaan seluruh pejabat negara. Tamtama butuh 252 tahun untuk menyamai Panglima. Anggota DPR 800 kali lebih kaya dari konstituennya.
Dan solusinya sudah ada. Jelas. Terukur. Bisa dijalankan hari ini.
Yang tidak ada adalah kemauan politik untuk melakukannya. Karena yang harus meloloskan kebijakan pajak kekayaan itu adalah orang-orang yang sama yang akan paling terdampak olehnya.
Itu bukan korupsi yang bisa ditangkap KPK. Itu adalah struktur. Dan struktur hanya bisa diubah kalau tekanan dari bawah lebih kuat dari kenyamanan di atas.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan laporan Celios "Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026" dan wawancara peneliti Celios Bima Yudistira. Data bersumber dari Forbes dan LHKPN yang dapat diverifikasi publik. Ini analisis berbasis riset independen bukan tuduhan hukum kepada individu manapun.
Guys, Emir Parengkuan baru ngomong sesuatu di podcast yang bikin gue diem sebentar.
Bokap-nya adalah Yos Parengkuan, bos Syailendra Capital, salah satu manajer investasi terbesar di Indonesia
Dan ini bukan bocoran insider. Ini analisa yang masuk akal banget kalau lo mau dengerin.
IHSG harus jebol dulu.
Baru triliuner baru terlahir.
Itu kata-katanya langsung.
Dan dia serius.
Sekarang IHSG lagi dikocok-kocok di level 7.000. Semua orang berharap mantul dari sini. Tapi justru itu masalahnya selama masih ada yang berharap, belum bottom.
Bottom yang sesungguhnya baru terjadi ketika semua orang udah over fear. Udah nangis. Udah jual semua tanpa pikir. Dan di titik itulah saham bagus jatuh ke harga yang nggak masuk akal.
Level yang dia perhatiin?
6.500 sampai 6.600.
Di situ dia bilang siap hajar.
Kenapa IHSG bisa sampai separah ini?
Emir breakdown tiga penyebab utamanya.
Satu perang dan geopolitik.
Konflik Iran-AS bikin investor global kabur dari semua aset berisiko. Emerging market kayak Indonesia kena imbas langsung.
Dua narasi MSCI hilang.
Harapan Indonesia masuk indeks MSCI yang harusnya jadi katalis besar di 2025 sekarang di-pause sampai Mei. Salah satu alasan utama foreign masuk ke pasar kita tiba-tiba gone.
Tiga masalah free float.
Banyak emiten Indonesia sahamnya dipegang friends and family bukan publik. MSCI nggak mau itu. Dan sekarang konglomerat-konglomerat ini kemungkinan harus lepas saham ke publik yang artinya harga bisa jatuh lebih dalam dulu sebelum naik lagi.
Posisi Emir sekarang?
All cash. Nggak pegang saham sama sekali.
Dia takut sama libur lebaran.
Dari pengalamannya trading sejak 2022 setiap kali libur panjang, selalu ada bad news.
Jadi dia keluar dulu. Tunggu sampai Mei setelah MSCI announce keputusan soal Indonesia. Baru masuk lagi.
Kalau IHSG beneran jebol dia incer apa?
Batu bara. Dan alasannya solid banget.
Sampai dia meninggal pun katanya batu bara nggak akan hilang. Demand tetap ada, supply makin habis. Bahkan buat bikin infrastruktur green energy sekalipun butuh batu bara. Indonesia top producer sekaligus top exporter. Dan emiten batu bara di IHSG terkenal bayar dividen jumbo.
Dia kasih contoh nyata. Kalau ada yang beli ITMG di bottom COVID dengan Rp1 miliar dan hold sampai sekarang dari dividen aja bisa dapat Rp3 miliar per tahun.
Bukan capital gain. Dividen doang. Tiap tahun. Terus.
Dan satu hal yang paling nendang dari dia:
Turning point-nya sebagai trader bukan ketika dia belajar strategi baru. Bukan ketika dapat mentor baru.
Tapi ketika dia berhenti ngitung uang di RDN dalam bentuk bisa beli apa.
Rp100 juta bukan lagi Rp100 juta buat beli HP atau bayar cicilan. Itu cuma angka yang harus dibesarkan. Murni angka. Tanpa attachment emosi.
Setelah itu baru dia mulai consistently profit.
Dan ini yang paling gue suka dari dia:
Jam market bukan waktunya mikir. Itu waktunya eksekusi. Semua analisa harus selesai malam sebelumnya.
Kalau lo masih riset dan baca berita sambil market lagi jalan lo udah terlambat dari awal.
Ternyata sirup-sirup lokal ini jarang dinotice pas lebaran, tapi rasanya juara.
Mana favoritmu? Atau ada merek lain yg gak ada di tweet ini..? Coba share yaaa
Menarik juga filosofi dari Penguin ini:
One day akan ada titik hidup, dimana kita akan jadi Penguin itu. Ninggalin keramaian, berjalan sendirian ke arah yang orang lain mungkin bilang “gila” atau “ngak masuk akal”
Tapi justru di kesendirian itu, kita malah nemu sesuatu yang besar atau nempa diri untuk jadi lebih hebat.
Congrats yang JP $PENGUIN 🚀
Cak lek mbelani ojok nemen nemen.
1. Kritik bukan berarti tidak bersyukur. Tapi "uapik pol" itu halu pol sampeyan. Aku takon seh nang sampeyan, warga rusunawa waru gunung yaopo carane budal nang tunjungan numpak transum?
2. Walikota wis 👍👍?? Tolok ukurnya apa? Ini sangat logis lho. Nggak usah ngomongin transum wis. Banjir sekarang parah di mana-mana, ormas gak jelas bikin rusuh kota malah dibelani digawekno seremonial, parkir sing awale biasa ae malah dadi ruwet sejak dek e show off ga jelas, gaji PNS potongane akeh, mbelani omah morotuo didisekno gawe disedot banyune pas banjir, memberi nama rumah sakit dengan inisial namanya dan istrinya. Dan banyak lagi. Ngene iki apik? Sing nggenah ae.