Gw ingin menceramahi diri sendiri dan sedikit yapping pada dini hari ini.
Gw berani bilang teori2 percintaan yang di social media, yang selalu muncul saat endless scrolling itu hampir gak ada yang relate sama gw.
Kecuali satu
"Percuma ganteng kalau pacarnya juga ganteng" #MelawanLupa
Dititik ini baru percaya dengan videonya Mbah Amien Rais. Apalagi tidak disanggah langsung oleh buna.
@KapudS640 Gue mah gak berharap kaya lagi sekarang2.
Gue berharap ekonomi stabil, indomie 2000 lagi, beras 40rb/5 kilo, telor 20rb, ayam 20rb, minyak 10rb, bensin 7rb. Pas harga2 segini sebulan duit masuk cuma 600k tapi tetep hidup aman
@KapudS640 Yang paling bikin was-was bukan rupiah di 20 ribu-nya. Tapi respons pemimpinnya. Krisis bisa dilewati kalau ada kepercayaan. Kepercayaan itu dibangun dari komunikasi dan empati. Kalau dua itu absen, rakyat kecil yang paling duluan tenggelam.
Kalian tau ga sih, Pak SBY dulu pas jaman
krisis global mau naikin bensin
400 PERAK doank aja dia pidato loh Live di TV2..
beliau minta maaf ke rakyat dengan wajah yg sedih.
Minta maaf berkali2 harus ambil keputusan itu.
Dia juga banyak kekurangannya, tapi sumpah gw kangen dengan pemimpin kek gitu, yg bertanggung jawab, yg punya empati ke rakyat!
Bukan malah denial bilang rupiah lemah ga ngaruh! Rakyat cuma butuh makan, ga mimpi jadi kaya! 4jg 4jg
cc:threadris_kaanisya
Kalau rupiah benar-benar tembus Rp20.000 per dolar, ada satu kelompok yang bisa sangat tertekan.
Bukan orang miskin.
Bukan juga orang kaya.
Tapi kelas menengah.
Kelompok yang "terlalu kaya" untuk dibantu tapi "belum cukup kaya" untuk terlindungi.
Mereka terlihat baik-baik saja dari luar.
Padahal sedang menopang semua bebannya sendiri.
Cicilan rumah, sekolah anak, orangtua yang mulai menua, dan standar hidup yang harus terus dipertahankan.
Masalahnya, selama bertahun-tahun banyak yang mengira mereka sedang membangun kekayaan.
Padahal yang dibangun baru kehidupan yang lebih mahal.
Penghasilan naik, tapi cicilan ikut naik.
Penghasilan naik, tapi kebutuhan ikut naik.
Penghasilan naik tapi rasa aman tidak ikut naik
Itulah mengapa banyak keluarga merasa:
“Gaji saya jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu, tapi kenapa hidup terasa lebih berat?”
Kalau dolar benar-benar menuju Rp. 20.000, yang perlu dikhawatirkan bukan cuma kursnya, tapi kenyataan bahwa banyak keluarga akan baru sadar:
selama ini mereka hidup nyaman bukan karena keuangannya yg kuat, melainkan karena kondisi ekonomi masih cukup baik untuk menopangnya.
dan ketika kondisi itu berubah…
yang bertahan bukan siapa yang bergaji besar tapi siapa yang punya bantalan finansial.