Pidato lengkap Zohran Mamdani untuk New York Knicks dengan subtitle bahasa Indonesia.
.
Salah satu yang paling menarik dari speech ini adalah dia menyebut semua pemain-pemain yang sebelumnya main untuk Knicks, bahkan Tom Thibodeau yang membangun pondasi juga disebutkan.
.
Dia juga mengangkat Jose Alvarado, warga New York yang lahir di public housing.
.
Speech yang keren banget. Sayang dia tidak lahir di US Soil. Kalau lahir di sana dia bisa jadi Presiden sih menurut gw.
Kasus Chromebook Nadiem ini sebenernya gimana sih, kok bisa dituntut 18 tahun?
Gue coba jelasin pake bahasa bayi, tanpa istilah hukum yang ribet, Versi Jaksa vs Pembelaan Nadiem ⬇️⬇️
THE TREFOIL IS BACK! 🧬
Adidas resmi merilis koleksi away Federasi 2026 dengan logo Trefoil klasik. Treatment-nya gila, tiap detail punya filosofi yang mewakili jiwa bangsanya.
Untuk menemani momen lebaran kalian, mari kita bedah satu per satu.
A thread, part 1. @Jerseyforum
HARI-HARI YANG MENENTUKAN SEJARAH AMERIKA DAN IRAN: PERANG ATAU DAMAI?
Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.
Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?
Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah.
Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah “take and give”. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti.
Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, saya mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki “uniqueness”. Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”. Berarti, ini merupakan “survival interest” buat pemimpin Iran itu.
Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah.
Ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.
Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut “war of necessity” dan “war of choice”. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain.
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan. Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi.
Bagi Amerika yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang. Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian “exit” atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.
Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.
Begini pesan saya.
Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati) *SBY*
Pernah liat komplotan jambret beraksi di bis kota zaman dulu ga? Mereka akan mengerubungi korban dan ketika korban sadar mau ngejar, pasti terhalang.
Gak beda kaya ini:
🚨🎥 | Lisandro Martinez responds to Paul Scholes and Nicky Butt's criticism pre-game:
“People can do whatever they want, it’s something that I can’t control, what I can only do is to show ON the pitch and I think today I SHOW it.” 🔝🇦🇷
[@MUFCScoop]
Ini mungkin sulit dipercaya, tapi di thread ini bakal kita bahas fakta dokumen Israel yang bocor tentang Iran.
Sejumlah file yang berisi dokumen dan pesan-pesan rahasia antara Kementerian Luar Negeri Israel dan badan intelijen Mossad sempat dipublikasikan sebentar.
Mau percaya atau nggak terserah sih… tapi isinya ntar bikit kaget.
Mari kita mulai...🧵👇
Satu dari tujuh tersangka korupsi minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina, sub holding, dan KKSK tahun 2018 hingga 2023 adalah putra dari pengusaha Riza Chalid. Siapa dan bagaimana perannya?
Simak selengkapnya di postingan berikut!
Bergabung ke BRICS dengan argumen “bebas-aktif”, apakah masuk akal?
TLDR: bisa masuk akal, asal jelas apa kepentingan kita, dan kalau masuk BRICS bisa mewujudkan kepentingan kita.
Kepentingan tidak jelas + BRICS sebagai organisasi revisionis/arah tak jelas = 🇮🇩 rugi
*🧵panjang
74 TAHUN lalu mendiang ayahnya sdh menulis : hanya dg kebijakan industrialisasi yg fokus eksport yg akan bisa bawa RI maju.
Pak Prabowo tak perlu hire ahli ekonomi. Dia cukup baca kembali karya2 ayahnya di thn 1950an yg amat visioner. Dan lalu praktekkan dg konsisten.