Tahukah anda bahwa selain memiliki Bandara, Palestina juga sempat memiliki airline?
Palestinian Airlines, maskapai harapan kedaulatan dan kemerdekaan, yang terusir dan akhirnya punah.
Berbeda dengan Gaza Airport yang didirikan setelah Oslo Agreement II (Taba Agreement) di September 1995, Palestinian Airlines di didirikan pada 1 Januari 1995. Berdirinya Palestinian Airlines dikarenakan pihak Palestina yakin bahwa kesepakatan dengan Israel akan tiba dengan negosiasi yang berjalan. Maskapai ini mulai operasi menggunakan Boeing 727-200 di Juni 1997 dengan penerbangan charter Umroh dari Port Said (Mesir) ke Jeddah, yang kemudian diikuti dengan penerbangan berjadwal 1 bulan kemudian, antara El Arish (Mesir) ke Jeddah (Saudi Arabia) dan Amman (Yordania). Pesawat 727 kedua mulai terbang untuk Palestinian Airlines di Mei 1998.
Setelah bandara Gaza dibuka, pusat operasi maskapai pindah kesana. Meskipun krisis melanda Palestina dan bandara Gaza ditutup akibat Intifadah-al-Aqsha yang mengakibatkan mereka harus kembali beroperasi dari El Arish di Mesir, maskapai terus berkembang hingga ke berbagai destinasi, dari Larnaca (Cyprus) hingga Dubai (UAE). Namun di tahun 2005 maskapai harus berhenti operasi hingga 2012. Sejak 2012, maskapai ini terus beroperasi namun kondisi keuangan yang semakin sulit mengakibatkan berhentinya kesepakatan leasing dengan Niger Airlines untuk 2 Fokker F-50 di September 2020 dimana kedua pesawat itu ditawarkan untuk dijual. Di bulan Desember 2020 Palestinian Airlines dilikuidasi oleh Palestinan Autority karena pesimis akan masa depan maskapai dan situasi kondisi hubungan Palestina-Israel.
Selain Boeing 727 dan Fokker 50, Palestinian Airlines juga sempat memesan pesawat Bombardier Dash-8-300 dan Bombardier CRJ, namun CRJnya terkena masalah (kontrak pembelian dan pembayaran) sebelum bisa beroperasi.
Sama seperti bandara Gaza, simbol harapan kemerdekaan dan kedaulatan penerbangan Palestina ini juga akhirnya punah. Namun berbeda dengan bandara Gaza, Palestinian Airlines tidak hanya lahir dari sebuah harapan perdamaian, tetapi meskipun tanah airnya bergejolak dan dunia terguncang pandemi Covid-19, ia tetap beroperasi dan bertahan hidup demi membawa bendera Palestina terus mengangkasa hingga titik akhir.
------
Terima kasih sudah membaca post ini.
Jika anda ingin mendukung saya untuk menulis artikel seperti ini, anda bisa subscribe ke Twitter/X saya, atau memberikan donasi di https://t.co/yfis7wWZc7
Artikel-artikel untuk subscribers juga available di Trakteer. More articles is coming there too!
Banyak yang kaget ketika melihat Paramotor digunakan sebagai Air Assault vehicle oleh Hamas dalam serangannya ke Israel.
Hal ini sebenernya bukan hal yang baru maupun unik. Setahu saya konsep ini sudah dicoba oleh beberapa militer di dunia, termasuk pihak TNI.
Lucunya, banyak yang bilang Paramotor Air Assault ini adalah hal yang bodoh, karena akan lebih efektif menggunakan helikopter, dan Paramotor akan jadi target empuk untuk aset-aset air defence modern, apalagi dengan rudal-rudal air defence, paramotor air assault itu akan menjadi suicide attack.
Eits, ntar dulu. Dalam combat doctrine, memang harus ada standard solutions untuk menjawab setiap tantangan, tetapi bukan berarti non-standard solutions itu haram atau bodoh.
Ironisnya, justru dalam penyerangan menuju target yang tergantung kepada rudal air defence ini, idealnya malah mungkin pakai paramotor air assault. Kenapa?
Helikopter itu radar signature dan heat signaturenya tinggi, jadi akan mudah terlihat oleh radar atau infra-red seeker. Mau bermain dengan ground clutter (main petak umpet menggunakan terrain, pepohonan ataupun bangunan memang bisa mengecohkan air defence systems, tapi kalau sudah dekat akan susah (dan harus menggunakan self-protection system seperti flares dan DIRCM). Heliborne assault menuju heavily defended target cukup beresiko dan mission planner harus memperhitungkan estimated lossesnya dari transit sampai assault landingnya dengan cermat.
Kalau Paramotor ini memang kelihatan konyol, tapi ideal untuk assault yang tidak membutuhkan jumlah pasukan yang banyak. Kenapa?
1. Murah, baik alat maupun trainingnya.
2. Pelan itu kadang malah jadi advantage. Kalaupun ketahuan oleh air defence radar, salah satu metode untuk homing oleh rudal radar guided adalah melihat object apa yang karakternya beda dari pantulan2 ground clutter, yaitu dengan melihat benda yang bergerak, ketika dalam terminal phase yang biasanya top-down. Makin pelan targetnya, makin susah membandingkannya dengan ground clutter.
3. Infra Red signature yang rendah. Untuk IR guided surface to air missile, identifikasi target dilakukan dengan mencari sumber panas yang bergerak. Mesin turbin itu enak buat IR guided missile, karena exhaustnya yang cukup panas dan semburan gas panasnya mengikuti si mesin/pesawat. Kalau mesin piston kecil seperti yang digunakan di Paramotor, heat signaturenya jauh dibawah mesin turbin jadi IR guided SAM bisa kesusahan untuk mendapatkan solution lock.
4. Mau main petak umpet menggunakan surrounding scenery lebih gampang karena kecepatannya yang pelan. Paramotor bisa menuju target dengan bermain diantara pohon dan bangunan dengan jauh lebih mudah dibanding helikopter. Suaranya yang mirip dengan kendaraan motor/mobil juga tidak akan membuat penjaga di target curiga.
Kelemahannya adalah, karena pelan dan tidak ada proteksi bagi yang ada di paramotornya, kalau sudah terihat secara visual, ditembakinnya gampang, tidak perlu pakai alat-alat air defence canggih, cukup senapan otomatis atau senapan mesin, untuk melumpuhkannya.
Antara land assault, helicopter air assault, atau paramotor air assault, mana yang ideal itu tergantung dengan profil target, defence assetsnya, dan threat assesmentnya.
Jadi jangan kaget. Makin canggih air defence sebuah target, kadang solusinya malah lucu-lucu. Apa aja itu?
Kita ambil contoh yang bukan rahasia aja yah. Ada gyrocopter:
1. Gyrocopter militer RRC.
2. Sapphire 3 Gyrocopter bikinan Ukraina juga pernah di tes untuk kebutuhan air reconnaissance dan air assault.
Dengan kompetisi pengadaan alutsista, kita sering dicekoki informasi barang-barang yang canggih dan mahal, sampai kadang kita lupa, bahwa low tech solutions bahkan solusi-solusi yang dianggap dagelan, tetap harus dijaga dan dikembangkan.
13 tahun lalu. Tepatnya pada sepertiga malam terakhir tanggal 31 Mei 2010, 6 kapal bantuan kemanusiaan Freedom Flotilla yg membawa 10.000 ton bantuan berupa makanan, obat-obatan, pakaian, alat kesehatan dan alat bangunan hampir tiba di perairan Gaza di laut Mediterania.
1 dari 6 kapal tersebut mengangkut 600 orang relawan kemanusiaan yg berasal dari 32 negara, termasuk Indonesia. Para relawan ini terpanggil untuk ikut pelayaran Freedom Flotilla mengantar bantuan ke Gaza karena bersimpati kepada 1,8 juta warga Gaza (populasi pada tahun 2010) yg diblokade oleh Zionis Israel sejak tahun 2007 (hingga sekarang). Akibat blokade tersebut, Gaza menjadi penjara terbuka bagi penduduk Gaza, Palestina. Kapal yg mengangkut relawan tersebut bernama Mavi Marmara.
Belum sempat iring-iringan kapal kemanusiaan tersebut masuk ke wilayah perairan Gaza, tiba-tiba mereka dicegat oleh pasukan Zionis Israel. Tak tanggung-tanggung, Zionis Israel mengerahkan 19 speedboat militer, 2 kapal perusak, 2 kapal selam, dan 2 helikopter komando. Padahal, di dalam kapal kemanusiaan itu tak ada sepucuk senjata, tak ada sebutir peluru atau bahkan setitik mesiu sama sekali.
Saat penyerbuan dilakukan, satu persatu tentara bertopeng turun dari helikopter, menuju dek kapal yg berada di wilayah perairan internasional atau 130 km di luar perairan teritorial Israel. Prajurit yang bersenjatakan senapan, granat kejut, dan gas air mata ditugaskan melancarkan serangan fajar pertama.
Tak cukup sekadar menghentikan, tentara Zionis Israel juga menembaki para relawan. 9 orang relawan meninggal dunia akibat tembakan tersebut, serta 1 orang ‘menyusul’ meninggal setelah koma selama 3,5 tahun. 50 orang lainnya terluka, termasuk relawan dan jurnalis asal Indonesia, Surya Fachrizal, yg tertembak di bagian dada dan menyerempet paru-paru.
Serangan berlangsung sejak pukul 04.30 waktu setempat hingga pukul 09.00. Setelah itu, para relawan diborgol, dan dijemur di atap kapal di tengah Laut Mediterania hingga pukul 14.30 waktu setempat.
Pada pukul 17.00, kapal-kapal Freedom Flotilla diseret paksa ke pelabuhan Ashdod, Israel. Para relawan diturunkan dari kapal pada dan diinterogasi hingga pukul 03.00 dini hari. Saat proses interogasi tersebut, sebagian relawan mengalami penyiksaan, pemaksaan tandatangan dokumen palsu, serta pengambilan sidik jari dan retina mata.
Sore kemarin (9/10) waktu Palestina, atau malam waktu Indonesia Barat, terkabar bahwa Letnan Kolonel Eli Ginsburg, komandan pasukan Zionis Israel yg memimpin penyerangan kapal kemanusiaan Mavi Marmara tewas di tangan pejuang Palestina.
DPR RI kembali menganggarkan Rp955 juta untuk mencetak kalender melalui APBN 2022 saat ini. Daftar anggaran tersebut tertulis di laman https://t.co/1bUQjCSuJq
Namun, belum ada keterangan lengkap terkait berapa jumlah kalender yang dicetak serta kapan akan dibuat.