@kurawa dan game yang dijual di steam terutama game AAA yang harganya >500ribu, game indie >200ribu sudah cukup mencegah anak anak di bawah umur untuk memainkan game tersebut (jika tujuan awal komdigi adalah untuk melindungi anak-anak. Sumber: https://t.co/tJ8CHidC9P)
@kurawa mungkin reaksi sebelumnya terkait rating yang ngawur cukup panas dan mungkin berlebihan (setelah ada statement official dari steam), TAPI saya tetap tidak setuju terkait rating RC (Refused Classification)
Data terbaru pengguna Steam dari Indonesia 1.4jt sekian, dan untuk urusan growth China yg sedang naik drastis.
Sedangkan untuk basis pengguna aktif masih dipegang Eropa. Untuk gamers lokal kita, utamanya anak2 masih lebih memilih platform mobile.
Teman2, saya hanya ingin mengingatkan
Mari fokus kritisi konteks kebijakannya, jangan pribadi personilnya.
Kasihan orang2 teknis IGRS yg ditugaskan, karena tidak sepenuhnya direction itu di tangan mereka.
Jangan serang2 personil apalagi sampai ngulik2 pribadi orang ya.
@ferrykoto@rarafsanjani_@aryankushh@aniesbaswedan untuk peluang saya tidak setuju pak, karena untuk game yang berpotensi terkena blok dari indonesia adalah game AAA, Contoh: GTA, Cyberpunk, dan sejenisnya. dimana harga dari game tersebut cukup mahal >500ribu. part 1 .....
@ferrykoto@rarafsanjani_@aryankushh@aniesbaswedan dan terkait market terbesar ke 3, itu adalah game mobile bedasarkan sumber yang bapak @ferrykoto diberikan, bukan dalam pasar steam (steam hanya menyediakan platform untuk game Komputer)
@ferrykoto@rarafsanjani_@aryankushh@aniesbaswedan tweet ini hanya untuk tambahan informasi, sehingga bapak aware terkait kecemasan pengguna steam yang bisa dibilang pengguna yang sudah memasuki usia dewasa dan hanya ingin membeli game yang diinginkan, tetapi game yang ingin di beli potensi kena block
@ferrykoto@rarafsanjani_@aryankushh@aniesbaswedan dan salah satu isu yang bikin topik ini cukup panas di perbincangkan adalah karena IGRS ini bukan hanya karena game rating yang tidak sesuai, tetapi juga bisa digunakan sebagai censorship, terutama terkait klasifikasi RC(Refused classification).
Form IGRS (putih) dari website resmi, bentuk aslinya seperti ini. Banyak point terlalu generalisir dan grouping jadi satu.
Lalu tiba2 no. 10 perihal pornografi urutan Yes-No nya terbalik.
Form rating di Steam yg mengikuti standard global (gelap) kemudian disambungkan ke IGRS.
Ikut urun rembug soal IGRS boleh ya… Dulu pernah terlibat langsung dalam rapat-rapat inisiasi awal bersama Menkominfo saat kami bertugas di Kemdikbud.
Ada dua pendekatan melindungi anak di konten digital. Pertama, membuat lingkungan “steril” lewat sensor dan pemblokiran. Kedua, membangun “imunitas” pada anak serta keluarga. Pendekatan kekebalan jauh lebih berdampak dan berkelanjutan.
Rating game seharusnya menjadi alat bantu bagi orangtua untuk membangun kekebalan anak dgn melatihnya jadi mandiri dan cakap melindungi diri sendiri, bukan jadi instrumen sensor bagi pemerintah.
Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya bekerja sama erat dengan komunitas game. Lebih baik lagi, biarkan komunitas itu sendiri yang menjalankan sepenuhnya dengan difasilitasi pemerintah. Tak perlu berpretensi serba tahu apa yang terbaik bagi setiap segmen masyarakat. Punya wewenang tidak otomatis punya pengetahuan.
IGRS selayaknya jadi alat pemberdayaan, bukan pembatasan. 🙏
——
Sosialisasi ESRB di 2016, saat belum ada IGRS: https://t.co/KE3lc9tkB0
@TrSutrisna@aniesbaswedan dan jangan karena ketidakmampuan Orang tua dalam membatasi konsumsi digital anak, orang lain yang sudah cukup umur jadi korban
@TrSutrisna@aniesbaswedan apakah dengan blokir game di tempat legal bekerja? tentu saja TIDAK, karena anakbbawah umur yang mengkonsumsi game seperti itu tidak membeli game secara LEGAL, tetapi download bajakan.